Editor
KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Al-Sattari, mengalungkan keffiyeh kepada Presiden Prabowo Subianto di momen Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Hal ini dilakukan setelah Presiden Prabowo menyerukan Free Palestine sebanyak tiga kali ketika membacakan pidatonya di atas panggung.
Baca juga: Javier Bardem Pakai Keffiyeh di Emmy Awards 2025, Apa Maknanya?
Sejak lama, keffiyeh sudah dikenal sebagai salah satu simbol yang lekat dengan gerakan solidaritas Palestina dan budaya Timur Tengah.
Kain dengan motif kotak-kotak hitam putih ini memiliki penampilan khas yang mudah dikenali.
Selain memiliki fungsi sebagai penutup kepala atau syal, Keffiyeh juga memiliki sejarah panjang sebagai penanda identitas, solidaritas, hingga simbol politik.
Baca juga: UEA Deportasi Wisudawan yang Pakai Keffiyeh dan Teriak Free Palestine!
Dalam Jurnal MECRI, Pauly Demanda (2022) melalui penelitiannya yang berjudul “Keffiyeh, Budaya Timur Tengah, Media Identitas, Iteraksionisme Simbolik, Piala Dunia Qatar” menjelaskan bahwa Keffiyeh adalah sejenis syal yang umumnya dikenakan di kepala atau leher oleh masyarakat Arab, terutama mereka yang tinggal di wilayah gurun.
Keffiyeh memiliki beragam makna dan fungsi bagi penggunanya. Penggunaannya dapat berkaitan dengan asal-usul, afiliasi, solidaritas, penghargaan, maupun gaya berpakaian.
Penelitian tersebut menggunakan teori interaksionisme simbolik dengan tiga konsep dasar dari buku karya George Harbert Mead berjudul Mind, Self and Society untuk memahami makna serta fungsi Keffiyeh dalam konteks sosial dan budaya Timur Tengah.
Dengan metode kualitatif melalui analisis dokumen, penelitian itu menunjukkan bahwa Keffiyeh dapat menjadi media identitas yang mencerminkan karakteristik pribadi, kelompok, maupun nasional penggunanya.
Keffiyeh juga berfungsi sebagai media interaksi simbolik antara pemakainya dengan orang lain.
Encyclopaedia Britannica menjelaskan, istilah Keffiyeh bermakna "berkaitan dengan Kufa", yang merujuk pada Kota Kufa di Irak.
Hal ini karena tradisi mengenakan Keffiyeh diperkirakan berasal dari wilayah tersebut.
Namun, asal-usul pasti Keffiyeh masih memiliki ketidakpastian. Anu Lingala, seorang akademisi yang meneliti Keffiyeh, menyebut ketidakpastian tersebut berkaitan dengan banyak penelitian sejarah pakaian yang lebih berfokus pada busana kalangan elite.
Secara historis, Keffiyeh justru banyak digunakan oleh masyarakat kelas pekerja. Pada masa Kesultanan Utsmaniyah, masyarakat perkotaan terdidik dari kalangan elite atau effendi lebih umum mengenakan fez atau tarboosh.
Sementara itu, Keffiyeh identik dengan petani dan masyarakat pedesaan atau fellahin. Mereka menggunakan Keffiyeh untuk melindungi diri dari paparan matahari, debu, dan pasir.
Ilustrasi sejumlah pria mengenakan Keffiyeh di tengah cuaca panas.Keffiyeh bermotif kotak-kotak hitam putih mulai menjadi simbol identitas Palestina pada 1930-an. Dalam Pemberontakan Arab 1936-1939 terhadap Mandat Inggris, Keffiyeh digunakan untuk menyamarkan identitas para demonstran dari pihak berwenang.
Ketika otoritas Inggris berupaya melarang penggunaan Keffiyeh, masyarakat Palestina justru mengenakannya secara massal sebagai bentuk persatuan. Penggunaan Keffiyeh kemudian meluas ke wilayah perkotaan dan secara bertahap menggantikan fez.
Popularitas Keffiyeh sebagai simbol Palestina semakin kuat pada 1960-an ketika Yasser Arafat, pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengenakannya dalam berbagai penampilan publik dan pertemuan diplomatik.
Pada 1967 hingga Perjanjian Oslo 1993, Israel melarang pengibaran bendera Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Dalam demonstrasi yang menentang pemerintah Israel, Keffiyeh kemudian berfungsi sebagai simbol yang mewakili Palestina.
Meskipun secara tradisional dikenakan oleh laki-laki, penggunaan Keffiyeh kemudian meluas kepada perempuan dan berbagai kelompok usia.
Britannica mencatat, gambar Leila Khaled, anggota terkemuka Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), yang mengenakan Keffiyeh dengan gaya hijab atau melilitkannya di leher mulai beredar di media pada 1970-an.
Penggunaan tersebut turut mengubah norma gender yang sebelumnya melekat pada Keffiyeh. Keffiyeh kemudian digunakan oleh orang dari berbagai usia dan gender.
Dalam Intifada pertama dan kedua pada 1987-1993 serta 2000-2005, para aktivis menggunakan Keffiyeh untuk mengingatkan kembali hubungan perjuangan mereka dengan Pemberontakan Arab pada 1930-an.
Sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada 2023, Keffiyeh kembali muncul sebagai simbol persatuan Palestina.
Dalam berbagai aksi pro-Palestina, Keffiyeh dikenakan oleh peserta dari beragam latar belakang sebagai bagian dari simbol solidaritas terhadap Palestina.
The New York Times melaporkan bahwa dalam aksi untuk Gaza di Lower Manhattan pada 26 Oktober, Keffiyeh dikenakan oleh kelompok yang beragam sambil membawa bendera Palestina.
Dalam aksi pro-Palestina di Washington, D.C., seorang demonstran juga memasangkan Keffiyeh pada kepala patung Benjamin Franklin.
Ilustrasi demonstran dalam aksi pro-Palestina mengenakan keffiyeh.Jenis Keffiyeh berbeda-beda menurut wilayah penggunaannya di dunia Arab. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari warna, motif, serta cara penggunaannya.
Keffiyeh hitam putih merupakan jenis yang paling kuat diasosiasikan dengan Palestina. Motif kotak-kotaknya kemudian dikenal luas sebagai salah satu simbol identitas Palestina.
Keffiyeh jenis ini tidak hanya digunakan sebagai bagian dari pakaian, tetapi juga menjadi simbol solidaritas dan identitas dalam berbagai konteks sosial dan politik.
Shumagh merupakan variasi Keffiyeh dengan warna merah dan putih. Jenis ini lebih umum digunakan oleh masyarakat Badui atau Bedouin.
Pada 1930-an, shumāgh juga digunakan dalam seragam Desert Patrol, salah satu unit Arab Legion di Transyordania, berdasarkan arahan perwira Angkatan Darat Inggris John Bagot Glubb.
Ghutrah merupakan variasi lain dari Keffiyeh yang memiliki ciri kain berwarna putih tanpa motif. Kain ini dikenakan di kepala dan biasanya diamankan menggunakan tali hitam tebal yang disebut ʿiqāl.
Ghutrah terutama digunakan di negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Di Iran, variasi Keffiyeh dikenal sebagai chafiyeh. Kain ini dikenakan di atas kepala dan umumnya memiliki motif kotak-kotak dengan warna gelap, seperti hijau, ungu, atau biru.
Menurut laman Handmade Palestine, Keffiyeh memiliki tiga pola utama yang masing-masing memiliki makna tersendiri dalam budaya Palestina.
Pola tersebut terdiri dari jaring ikan (fishnet), gelombang laut (sea waves), dan garis tebal (bold), yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat, ketahanan, kebebasan, serta sejarah perdagangan Palestina.
Pola jaring ikan merupakan bagian terbesar dari desain Keffiyeh. Handmade Palestine mengaitkan pola tersebut dengan hubungan nelayan Palestina dan laut serta memaknainya sebagai simbol kelimpahan dan keberkahan.
Laut juga dimaknai sebagai simbol kebebasan, terutama bagi masyarakat Palestina di Tepi Barat yang memiliki keterbatasan akses menuju laut.
Pola gelombang laut pada Keffiyeh dimaknai sebagai gambaran kekuatan dan ketahanan masyarakat Palestina. Menurut Handmade Palestine, pola tersebut merepresentasikan komunitas yang bertahan menghadapi pendudukan dan penindasan selama puluhan tahun.
Handmade Palestine juga mencatat adanya anggapan di media sosial bahwa pola tersebut menyerupai daun zaitun, yang juga menjadi simbol penting bagi Palestina. Namun, Judeh Hirbawi dari Hirbawi Factory di Hebron menjelaskan bahwa pola itu berasal dari bentuk gelombang laut.
Pola garis tebal atau bold pada Keffiyeh dikaitkan dengan jalur perdagangan yang melintasi Palestina. Jalur tersebut disebut memiliki peran penting dalam membentuk sejarah serta keragaman budaya masyarakat Palestina.
Keffiyeh secara umum dapat dikenakan di kepala atau leher. Cara penggunaannya berbeda sesuai dengan kebutuhan, kebiasaan, wilayah, serta gaya penggunanya.
Dalam penggunaannya sebagai penutup kepala, kain Keffiyeh dapat ditempatkan di atas kepala dan disesuaikan agar menutupi bagian yang diperlukan.
Leila Khaled, misalnya, dikenal mengenakan Keffiyeh dengan gaya hijab atau melilitkannya di leher.
Sementara sebagai syal, Keffiyeh dapat dililitkan di leher atau disampirkan di bahu.
Sejarah penggunaannya menunjukkan bahwa cara pakai Keffiyeh juga dapat memiliki makna sosial dan budaya.
Sejumlah orang mengenakan Keffiyeh yang juga menjadi simbol identitas dalam aksi solidaritas Palestina.Keffiyeh tidak hanya berfungsi sebagai aksesori atau pakaian tradisional Timur Tengah.
Penelitian Pauly Demanda menunjukkan bahwa Keffiyeh dapat menjadi media identitas yang merepresentasikan individu, kelompok, maupun identitas nasional.
Khusus Keffiyeh hitam putih, keterkaitannya dengan Palestina terbentuk melalui perjalanan sejarah yang panjang sejak awal abad ke-20.
Penggunaannya dalam perjuangan dan berbagai aksi solidaritas membuat Keffiyeh terus dikenali sebagai simbol identitas Palestina.
Dengan demikian, Keffiyeh memiliki fungsi yang berkembang dari pakaian pelindung masyarakat pedesaan menjadi bagian dari identitas budaya dan simbol politik.
Beragam jenisnya juga menunjukkan bahwa Keffiyeh memiliki bentuk dan makna yang berbeda di berbagai wilayah Timur Tengah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.