Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama

Kompas.com, 23 September 2026, 06:55 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pertanyaan tentang niat sering muncul ketika seseorang hendak melaksanakan shalat, puasa, atau ibadah lainnya.

Sebagian Muslim terbiasa melafalkan niat sebelum takbiratul ihram, sementara yang lain meyakini bahwa niat cukup dihadirkan di dalam hati.

Dalam fikih Islam, para ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah banyak ibadah. Namun, yang menjadi pembahasan adalah tempat niat: apakah berada di lisan atau di hati.

Dalil Al-Qur'an dan hadis sahih menunjukkan bahwa hakikat niat terletak pada hati, sedangkan melafalkannya bukan merupakan rukun ibadah.

Hakikat Niat Menurut Hadis Rasulullah

Landasan utama pembahasan niat berasal dari hadis yang sangat masyhur dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah SAW bersabda:

Baca juga: Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Innamal-a‘mālu bin-niyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā.

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR Shahih al-Bukhari No. 1 dan Shahih Muslim No. 1907)

Hadis ini menjadi kaidah besar dalam Islam. Imam An-Nawawi bahkan menempatkannya sebagai salah satu hadis paling penting karena menjadi dasar diterimanya seluruh amal ibadah.

Para ulama menjelaskan bahwa kata niyyah dalam hadis tersebut merujuk pada kehendak dan tujuan yang berada di dalam hati, bukan sekadar ucapan yang dilafalkan.

Baca juga: Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap

Al-Qur'an Menekankan Keikhlasan Hati

Al-Qur'an juga mengajarkan bahwa inti ibadah adalah keikhlasan kepada Allah SWT. Firman-Nya dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Wa mā umirū illā liya‘budullāha mukhliṣīna lahud-dīn

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa yang dinilai Allah adalah kemurnian tujuan ibadah. Keikhlasan merupakan pekerjaan hati sehingga menjadi fondasi utama dalam setiap amal yang dilakukan seorang Muslim.

Baca juga: Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?

Apakah Niat Harus Diucapkan?

Mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali menjelaskan bahwa tempat niat adalah hati.

Artinya, seseorang telah berniat ketika ia mengetahui ibadah apa yang akan dikerjakan dan menghadirkannya dalam hati sebelum memulai ibadah.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa niat berada di dalam hati, sedangkan melafalkan niat bukanlah syarat sah ibadah.

Pendapat serupa juga dijelaskan oleh banyak ulama fikih klasik bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan lafaz niat khusus sebelum shalat dengan redaksi tertentu.

Karena itu, seseorang yang berdiri untuk shalat Zuhur, mengetahui bahwa ia hendak melaksanakan shalat Zuhur empat rakaat karena Allah, maka niat tersebut telah terpenuhi meskipun tidak diucapkan.

Mengapa Banyak Orang Melafalkan Niat?

Kebiasaan melafalkan niat berkembang dalam tradisi sebagian masyarakat Muslim sebagai sarana membantu menghadirkan konsentrasi.

Dalam pandangan fikih, praktik tersebut diposisikan sebagai kebiasaan yang boleh dilakukan selama tidak diyakini sebagai kewajiban atau bagian dari rukun shalat.

Baca juga: Wamendikdasmen ke Mahasiswa UMB: Kuliah Bukan Hanya untuk Mendapatkan Ijazah

Yang perlu diluruskan ialah anggapan bahwa shalat menjadi tidak sah apabila niat tidak diucapkan.

Para ulama menegaskan bahwa ukuran sahnya niat adalah hadirnya maksud dalam hati, bukan keras atau pelannya suara ketika melafalkannya.

Karena itu, seorang Muslim tidak perlu merasa waswas apabila lupa membaca lafaz niat sebelum shalat selama ia memang telah bermaksud melaksanakan ibadah tersebut.

Niat dalam Shalat dan Puasa

Dalam shalat, niat dilakukan bersamaan atau sesaat sebelum takbiratul ihram.

Sementara dalam puasa wajib seperti Ramadhan, niat dilakukan sejak malam hari sebagaimana dijelaskan dalam hadis-hadis fikih puasa.

Baca juga: Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?

Meski bentuk ibadah berbeda, prinsipnya tetap sama: niat merupakan keputusan hati untuk melaksanakan ibadah karena Allah SWT.

Lisan dapat membantu mengingat, tetapi bukan penentu sah atau tidaknya ibadah.

Kesimpulan Penjelasan Ulama

Berdasarkan Al-Qur'an, hadis sahih, dan penjelasan mayoritas ulama, hakikat niat terletak pada hati.

Hadis “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya” menunjukkan bahwa nilai ibadah ditentukan oleh tujuan yang ikhlas, bukan oleh lafaz yang diucapkan.

Karena itu, ketika hendak shalat, seorang Muslim cukup menghadirkan kesadaran dalam hati tentang ibadah yang akan dilakukan karena Allah SWT.

Jika memilih melafalkan niat sebagai kebiasaan pribadi, hal itu tidak menjadi masalah selama tidak diyakini sebagai syarat atau kewajiban yang diajarkan Rasulullah SAW.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
Aktual
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Aktual
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
Aktual
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Aktual
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Aktual
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Aktual
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Aktual
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Aktual
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Aktual
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Aktual
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Aktual
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Menag Akan Tertibkan Pesantren yang Cuma Catut Nama, Soroti Kepatuhan Unsur dan Syarat
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Ini Rangkaian Tanggal Merah dan Cuti Bersamanya
Aktual
 Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Mengapa Membaca Al-Quran Setelah Subuh Memiliki Keutamaan?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar