Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Ka'bah

Kompas.com, 24 September 2026, 11:27 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com — Suara azan Syekh Ibrahim bin Adel Al-Madani kini tinggal kenangan. Muazin Masjidil Haram itu meninggal dunia pada Senin (21/9/2026) dalam usia 51 tahun.

Namun, di balik suara merdu yang selama bertahun-tahun menggema di Masjidil Haram, tersimpan sebuah kisah haru. Syekh Ibrahim pernah menangis ketika pertama kali mengumandangkan azan di hadapan Ka'bah.

Tangis itu bukan karena takut didengar jutaan orang. Justru sebaliknya, ia menangis karena merasa begitu kecil di hadapan kebesaran tempat suci yang menjadi kiblat umat Islam di seluruh dunia.

Dalam sebuah episode podcast Ashraqat, Syekh Ibrahim mengenang momen pertamanya mengumandangkan azan di Masjidil Haram.

Saat itu, ia melihat para jemaah sedang bertawaf mengelilingi Ka'bah sembari mendengarkan suaranya yang menggema di seluruh penjuru Masjidil Haram.

Baca juga: Sheikh Ibrahim Al-Madani, Muazin Masjidil Haram Wafat di Usia 51 Tahun

Pemandangan tersebut membuatnya tak kuasa menahan air mata.

Ia bahkan bertanya kepada dirinya sendiri dengan penuh kerendahan hati, "Siapa saya sehingga suara saya dapat berkumandang di tempat yang suci ini?" katanya dikutip dari Morocco World News.

Bagi Syekh Ibrahim, mengumandangkan azan di Masjidil Haram bukan sekadar sebuah tugas. Ada perasaan takzim dan amanah besar yang menyertainya.

Suara yang Melekat dengan Azan Subuh

Syekh Ibrahim merupakan salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Sebanyak enam muazin bertugas secara bergiliran setiap hari untuk mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama menjelang Subuh.

Di antara para muazin tersebut, suara Syekh Ibrahim sangat dikenal melalui azan Subuh.

Ia juga menjalankan tugas tabligh dari makbariyah, yakni meneruskan takbir imam sehingga dapat didengar jemaah yang berada di berbagai penjuru Masjidil Haram.

Selain azan Subuh, suara Syekh Ibrahim juga dikenal melalui lantunan takbir, termasuk pada momentum hari raya, sebagaimana dilansir dari Saudi Gazette.

Kepergiannya membuat rekaman azan dan takbir yang pernah ia lantunkan kembali banyak dibagikan di media sosial.

Sejumlah pengguna media sosial mengunggah kembali potongan suara Syekh Ibrahim. Namanya juga menjadi perhatian setelah kabar wafatnya menyebar.

Suara yang dahulu menjadi bagian dari rutinitas ibadah di Masjidil Haram itu kini dikenang melalui rekaman-rekaman yang tersisa.

Berawal dari Madinah

Dikutip dari Morocco World News, Syekh Ibrahim lahir di Madinah. Perjalanannya sebagai muazin dimulai sejak usia muda.

Ia mulai mengumandangkan azan ketika berusia sekitar 15 tahun di sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah.

Ia kemudian sempat berhenti dari aktivitas tersebut karena kesibukan pendidikan dan pekerjaannya. Pada 1428 Hijriah atau sekitar 2007-2008, ia kembali mendapat kesempatan untuk mengumandangkan azan.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Masjidil Haram. Ia secara resmi menjadi salah satu muazin Masjidil Haram sekitar 1439 Hijriah atau 2017-2018.

Meski berasal dari Madinah, Syekh Ibrahim kemudian mendalami karakter azan dengan tradisi Makkah. Dalam podcast Ashraqat, ia juga pernah menjelaskan perbedaan antara gaya azan yang berkembang di Madinah dan Makkah.

Bagi dirinya, kedua tradisi tersebut memiliki karakter dan kekhasan masing-masing.

Azan Terakhir Sebelum Wafat

Kabar wafat Syekh Ibrahim semakin menyentuh karena rekaman yang beredar menunjukkan bahwa ia masih mengumandangkan azan Subuh pada Senin, beberapa jam sebelum meninggal dunia.

Azan tersebut disebut sebagai azan Subuh terakhir yang dikumandangkannya di Masjidil Haram.

Setelah kabar wafatnya diumumkan, rekaman suara tersebut kembali dibagikan oleh pengguna media sosial.

Seolah menjadi penutup dari perjalanan panjangnya sebagai muazin, suara yang dahulu membuatnya menangis ketika pertama kali terdengar di Masjidil Haram kini justru menjadi suara yang dikenang setelah kepergiannya.

Doa dari Wakil Emir Makkah

Wakil Emir Makkah Pangeran Saud bin Mishaal turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Syekh Ibrahim Al-Madani.

Ia mendoakan agar Allah SWT memberikan rahmat dan ampunan kepada Syekh Ibrahim serta memberikan kesabaran dan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Syekh Ibrahim meninggalkan jejak pengabdian melalui suara azan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan ibadah di Masjidil Haram.

Dan mungkin, kisah tentang air matanya saat pertama kali mengumandangkan azan menjadi salah satu gambaran paling sederhana tentang bagaimana ia memandang amanah tersebut.

Baca juga: Sheikh Ibrahim Al Madani, Muazin Masjidil Haram, Wafat Setelah Kumandangkan Adzan Subuh

Ia bukan sekadar seorang lelaki yang memiliki suara merdu.

Ia adalah seorang muazin yang pernah berdiri di tempat paling suci, mendengar suaranya sendiri menggema di antara jemaah yang bertawaf, lalu menangis dan bertanya dalam hati:

"Siapa saya sehingga suara saya dapat berkumandang di tempat yang suci ini?"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam
Apa Makna Keramat dalam Islam? Ini Penjelasan Al-Hikam
Aktual
Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh
Sejarah Arab Saudi: Dari Rute Rahasia di Gurun hingga Merebut Riyadh
Aktual
Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Ka'bah
Muazin Masjidil Haram Syekh Ibrahim Al-Madani Wafat, Pernah Menangis Saat Azan di Depan Ka'bah
Aktual
Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Empati Jadi Bekal Pemimpin, Gita Wirjawan: Jangan Remehkan Kekuatannya
Aktual
Jadwal Sholat Kota Denpasar September 2026, Lengkap dari Kemenag
Jadwal Sholat Kota Denpasar September 2026, Lengkap dari Kemenag
Aktual
Zakat Jangkau 43,7 Juta Mustahik, Bagaimana Bantuan Bisa Membuka Peluang Usaha?
Zakat Jangkau 43,7 Juta Mustahik, Bagaimana Bantuan Bisa Membuka Peluang Usaha?
Aktual
GP Ansor Bentuk Satgas Aksi Kemanusiaan 2026, Bersih-bersih Sungai hingga Tangani Bencana
GP Ansor Bentuk Satgas Aksi Kemanusiaan 2026, Bersih-bersih Sungai hingga Tangani Bencana
Aktual
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami atau Istri?
Pernah Zina, Haruskah Jujur kepada Calon Suami atau Istri?
Aktual
MUHI Rekam 77 Tahun Perjalanan dalam Buku, Haedar Nashir: Sejarah Perlu Diwariskan
MUHI Rekam 77 Tahun Perjalanan dalam Buku, Haedar Nashir: Sejarah Perlu Diwariskan
Aktual
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Jangan Gengsi Membungkus Sisa Makanan, Ini Pesan Rasulullah
Aktual
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Mentan Amran Bangun Masjid Rp 1 Triliun dari Dana Pribadi, Ditargetkan Digunakan 2027
Aktual
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Belajar dari GKPI Rajeg, Persoalan Tempat Ibadah Harus Diselesaikan lewat Dialog
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN Tanggal Berapa? Ini Prediksi Ramadan 1448 H
Aktual
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Visit My Mosque 2026, Muhammadiyah Kenalkan Islam Indonesia di London
Aktual
Libur Lebaran 2027: Ada Potensi Liburan 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Libur Lebaran 2027: Ada Potensi Liburan 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar