Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menawarkan diplomasi agama sebagai salah satu pendekatan Indonesia untuk memperkuat perdamaian dunia.
Menurut dia, pengalaman Indonesia menjaga kerukunan di tengah keberagaman dapat menjadi modal dalam upaya tersebut.
Gagasan itu akan dibahas dalam International Grand Imams Conference (IGIC), yang mempertemukan imam dan tokoh Islam dari berbagai kawasan, termasuk Asia, Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
“Kita mencoba, bisa gak kita menggunakan bahasa agama untuk mengeliminir konflik ini. Nah, ini kan belum pernah dicobakan secara formal,” ujar Nasaruddin dikutip dari laman Kemenag, Jumat (25/9/2026).
Baca juga: Menag Berhentikan Rektor UINSA Surabaya Akh Muzakki
Nasaruddin mengatakan, Indonesia memiliki ribuan pulau, ratusan bahasa lokal, dan beragam kelompok etnik yang hidup dalam satu negara. Ia menyebut sejarah bersama, kehidupan keagamaan, dan Pancasila sebagai sejumlah faktor yang menjaga persatuan tersebut.
“Indonesia ini adalah ibaratnya sebuah lukisan yang super indah. Lukisan itu artinya ada konfigurasi warna yang dibingkai dalam satu bingkai yang sangat menarik. Itulah Indonesia,” katanya.
Menurut Nasaruddin, kerukunan juga menjadi syarat bagi pembangunan. Kekayaan suatu negara, kata dia, sulit dimanfaatkan apabila masyarakatnya hidup dalam konflik dan tidak merasa aman.
“Bagaimana bisa membangun negeri ini kalau tidak aman? Sehebat apa pun kekayaan negara kita, kalau gak ada kerukunan, keamanan, gak mungkin,” ujarnya.
Melalui diplomasi agama, Nasaruddin ingin nilai-nilai yang mempertemukan berbagai pemeluk agama digunakan untuk membangun hubungan antarmasyarakat dan meredam konflik.
Ia menilai ajaran agama memiliki titik temu dalam penghormatan terhadap kemanusiaan serta penolakan terhadap ketidakadilan dan kekerasan.
“Kalau kita menggunakan bahasa keagamaan untuk menciptakan suatu kohesi sosial, integrasi masyarakat dunia, ya, itu akan lebih efektif,” katanya.
Baca juga: Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Nasaruddin menyebut sejumlah duta besar telah menghadiri pembahasan mengenai diplomasi agama di Masjid Istiqlal dan menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan tersebut.
Dalam IGIC, peserta juga akan membahas peran masjid sebagai ruang interaksi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ekoteologi.
Nasaruddin mencontohkan Masjid Istiqlal yang mengembangkan fasilitas untuk publik dan kerja sama internasional.
Ia berharap masyarakat dapat mengikuti kegiatan konferensi yang terbuka untuk umum dan mengenal beragam ekspresi keagamaan dari negara peserta.
“Jadi nanti bukan hanya kita akan melakukan konferensi imam, tapi juga misalnya bagaimana salawatnya, Whirling Dervishes-nya Turki, dan bagaimana salawatnya tradisionalnya Mesir. Itu nanti akan menciptakan suatu konfigurasi yang sangat indah,” ujar Nasaruddin.
“Mari kita menjadi tuan rumah yang baik, mari kita viralkan statement-statement ulama,” katanya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.