Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas

Kompas.com, 25 September 2026, 17:36 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong para imam mengambil peran lebih luas dalam membangun perdamaian di tengah masyarakat.

Menurutnya, imam tidak hanya bertugas memimpin ibadah dan membimbing moral umat, tetapi juga dapat menjadi jembatan perdamaian, pendidik perdamaian, dan diplomat komunitas.

Baca juga: Imam Besar dari Berbagai Negara Akan Kumpul di Indonesia

Menag Soroti Peran Imam dalam Membangun Perdamaian

Nasaruddin mengatakan, peran imam terus berkembang seiring perubahan dan tantangan yang dihadapi masyarakat.

Selain menjalankan fungsi tradisional, imam dinilai memiliki posisi penting dalam membangun hubungan yang lebih damai di lingkungan sosial.

“Peran imam terus berubah dan berkembang. Secara tradisional, imam dipahami sebagai orang yang memimpin salat, mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan khutbah, dan membimbing kehidupan moral umat. Fungsi ini tetap penting. Namun, di dunia yang semakin terhubung sekaligus sering terpecah, imam dituntut untuk menjadi lebih dari itu, menjadi bridge-builder, peace educator, community diplomat, dan representasi Islam di ruang publik yang lebih luas,” ujar Menag saat menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Menurut dia, imam memiliki kedekatan dan kepercayaan dari masyarakat sehingga dapat berperan dalam mencegah konflik berkembang menjadi permusuhan.

“Imam berada dalam posisi yang unik untuk mendorong proses ini. Ia berbicara secara rutin kepada masyarakat, memahami persoalan lokal, memiliki legitimasi keagamaan, dan sering menjadi orang pertama yang didatangi ketika terjadi krisis keluarga, konflik sosial, atau kebingungan moral. Karena kepercayaan itu, imam dapat membantu mengurangi prasangka keagamaan sebelum berkembang menjadi permusuhan,” katanya.

Imam Perlu Mengedepankan Pendekatan yang Bijaksana

Dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat, Nasaruddin menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana. Menurutnya, menyampaikan Islam dengan penuh hikmah tidak berarti mengurangi keyakinan keagamaan.

“Imam yang mengedepankan hikmah tidak melemahkan imannya. Sebaliknya, ia menunjukkan kedewasaan dalam menyampaikan Islam dengan penuh martabat dan penghormatan,” ujar Menag.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar imam dapat menjalankan perannya di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang dan persoalan yang beragam.

Masjid Dapat Menjadi Pusat Diplomasi Agama

Selain imam, Nasaruddin juga melihat masjid memiliki peran dalam membangun perdamaian. Masjid dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk mempertemukan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan.

“Masjid sendiri bisa menjadi pusat diplomasi agama. Masjid dapat menjadi tuan rumah diskusi antar agama, kerja sama kemanusiaan, program pelestarian lingkungan, kegiatan pemuda, dan kunjungan pendidikan,” kata Menag.

Dengan fungsi tersebut, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang untuk menunjukkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dalam hal ini, masjid menjadi bukan hanya tempat ibadah atau titik pertemuan antara Tuhan dan hamba-Nya, tetapi juga tempat di mana kasih sayang Islam dapat terlihat nyata di tengah masyarakat,” katanya.

Imam Masa Depan Perlu Memahami Konflik dan Keragaman

Nasaruddin mengatakan, imam masa depan tetap harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, kemampuan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap masyarakat dan berbagai persoalan yang berkembang.

“Imam masa depan harus tetap berakar kuat pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus memahami masyarakat, penyelesaian konflik, urusan internasional, dan keragaman budaya,” ujar Menag.

Menurutnya, kemampuan memahami berbagai persoalan tersebut akan mendukung imam dalam menjalankan peran yang lebih luas di tengah masyarakat.

Diplomasi Agama Penting untuk Meredam Konflik

Nasaruddin juga mendorong penguatan diplomasi agama sebagai salah satu pendekatan untuk membangun perdamaian.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri International Grand Imam Conference 2026 yang diikuti lebih dari 40 grand imam dari berbagai negara.

“Diplomasi formal ternyata tidak banyak berhasil untuk meredam konflik. Mari kita mencoba jalur lain, bagaimana menyentuh hati nurani setiap insan di muka bumi ini. Kita sama-sama anak cucu Adam, kita sama-sama anak manusia, pasti punya rasa yang sama. Mari mempertemukan hati nurani untuk menyelesaikan konflik yang ada di antara kita,” kata Menag.

Ia menilai imam besar di setiap negara memiliki peran penting dalam menyentuh masyarakat melalui pendekatan kemanusiaan.

“Di sinilah peranan imam besar pada setiap negara, mampu menyentuh batin masyarakat, karena kita sangat yakin bahwa kemanusiaan itu hanya satu. Apapun agamanya, apapun etnisnya, apapun warga negaranya, hati dasar setiap insan itu adalah satu,” tandasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Makmum Masbuk Ikut Imam Rukuk, Apakah Dapat Satu Rakaat? Ini Penjelasan Muhammadiyah
Aktual
Muhammadiyah Bedakan Mana Ajaran Islam yang Tetap dan Terbuka untuk Berubah
Muhammadiyah Bedakan Mana Ajaran Islam yang Tetap dan Terbuka untuk Berubah
Aktual
Kemenperin Perkuat Sertifikasi Halal untuk Industri Kecil, 12.171 Pelaku Usaha Difasilitasi
Kemenperin Perkuat Sertifikasi Halal untuk Industri Kecil, 12.171 Pelaku Usaha Difasilitasi
Aktual
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama untuk Rencanakan Mudik
Libur Lebaran 2027 Bisa Sampai 10 Hari, Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama untuk Rencanakan Mudik
Aktual
BPKH Catat Dana Kelolaan Rp180,72 Triliun pada Akhir 2025
BPKH Catat Dana Kelolaan Rp180,72 Triliun pada Akhir 2025
Aktual
Kemendag Tegaskan Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Larangan Impor
Kemendag Tegaskan Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Larangan Impor
Aktual
Mengapa Duduk Tenang Sebelum Shalat Termasuk Sunnah? Ini Penjelasannya
Mengapa Duduk Tenang Sebelum Shalat Termasuk Sunnah? Ini Penjelasannya
Aktual
Muktamar NU Usai, GP Ansor: Sudahi Perdebatan, Saatnya Kembali Berkhidmah
Muktamar NU Usai, GP Ansor: Sudahi Perdebatan, Saatnya Kembali Berkhidmah
Aktual
Rezeki Seret, Apakah Istighfar Benar-Benar Membuka Pintu Rezeki?
Rezeki Seret, Apakah Istighfar Benar-Benar Membuka Pintu Rezeki?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar