Editor
KENDAL, KOMPAS.com — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengajak santri yang aktif dalam Gerakan Pramuka menyiapkan diri menjadi pemimpin yang jujur, berempati, dan menghormati guru.
Menurut Taj Yasin, pendidikan pesantren dan kegiatan Pramuka dapat saling menguatkan. Kedisiplinan yang dilatih melalui Pramuka perlu berjalan bersama adab, kepedulian, dan nilai-nilai spiritual yang ditanamkan di pesantren.
Pesan itu disampaikan Taj Yasin dalam sesi Jumpa Tokoh Perkemahan Wirakarya Daerah (PWD) XI Kwartir Daerah Jawa Tengah di Pondok Pesantren Darul Amanah, Sukorejo, Kendal, Senin malam (28/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri anggota Pramuka Penegak dan Pandega serta para santri.
“Pramuka ini bukan hanya di sekolah umum, tetapi sekarang sudah masuk dan berkembang pesat di pondok-pondok pesantren. Organisasi ini paling diminati oleh siswa dan santri. Potensi raksasa di Jawa Tengah ini harus kita siapkan betul untuk melahirkan pemimpin masa depan,” kata Taj Yasin dalam rilisnya.
Baca juga: Ribuan Pramuka se-Jateng Ikuti Wira Karya XI di Darul Amanah, Belajar Kepemimpinan hingga Pengabdian
Taj Yasin, yang juga Wakil Ketua Majelis Pembimbing Daerah Gerakan Pramuka Jawa Tengah, mengatakan para santri Pramuka saat ini akan berada pada usia produktif ketika Indonesia memasuki tahun 2045.
Karena itu, pembentukan karakter kepemimpinan perlu dimulai sejak sekarang.
“Tahun 2045, pada momen Indonesia Emas, kalian para santri dan Pramuka inilah yang nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin di negara Republik Indonesia. Kita menyiapkan pemimpin mulai dari tingkat nasional, provinsi, kabupaten/kota, hingga ke tingkat desa,” ujarnya.
Salah satu bekal yang ia tekankan adalah adab dalam menuntut ilmu. Taj Yasin mengajak para peserta meneladani penghormatan ulama kepada guru dan membiasakan diri mendengar arahan pembina tanpa mengedepankan ego.
“Di dunia pesantren, pondasi utamanya adalah ketaatan dan takzim kepada guru. Imam Syafi'i dan Imam Bukhari bisa menjadi tokoh besar karena taat dan patuh pada arahan gurunya. Ini yang harus diterapkan dalam kepemimpinan Pramuka pesantren: jangan menonjolkan ego, tetapi dengarkan arahan pembina, senior, dan guru-guru kita,” tutur dia.
Baca juga: Mengapa Amanah Jadi Syarat Utama Seorang Pemimpin? Ini Dalilnya
Selain adab, Taj Yasin menyebut integritas, empati, dan keteladanan sebagai bekal penting seorang pemimpin. Ia mengajak santri Pramuka menumbuhkan kepedulian dengan mendengar persoalan orang lain dan membiasakan diri bertanggung jawab, termasuk dalam hal-hal kecil.
“Indonesia harus dibangun dengan hati melalui karakter pemimpinnya. Pemimpin tidak boleh otoriter, harus jujur, memiliki empati, dan berani mengambil keputusan berisiko demi kemaslahatan umat. Sebagai santri Pramuka, mari kita mulai dari perkara-perkara kecil. Biasakan hal kecil itu dengan disiplin, sehingga pekerjaan besar nantinya akan terukur,” tutur Taj Yasin.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Amanah KH Muhammad Fatwa berharap perkemahan tersebut menjadi ruang silaturahmi, pembinaan kepemimpinan, sekaligus sarana dakwah.
Ia berharap para peserta dapat membawa nilai yang mereka pelajari selama perkemahan ke tengah masyarakat.
“Terus insya Allah hasil dari perkemahan ini mencetak kader-kader terbaik Pramuka se-Jawa Tengah untuk membela negara dan membela umat,” kata Muhammad Fatwa.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Taj Yasin di Pondok Pesantren Darul Amanah.
Menurutnya, perhatian tersebut menjadi penyemangat bagi para peserta untuk terus berkegiatan dan kelak berkontribusi kepada masyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.