KOMPAS.com - TelurMoe Farm di Sleman, Yogyakarta, menjadi contoh bagaimana pemberdayaan, kolaborasi, dan pendampingan mampu membuka ruang kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.
Peternakan ayam petelur yang dikelola kelompok Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel ini tidak hanya menghasilkan ribuan telur, tetapi juga menghadirkan kesempatan kerja yang sesuai dengan kemampuan anggotanya.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA), dan Lazismu Pusat.
Melalui pendampingan berkelanjutan, kelompok difabel dibimbing membangun usaha produktif yang kini menjadi tempat belajar pemberdayaan bagi berbagai daerah.
TelurMoe Farm lahir dari gagasan MPM PP Muhammadiyah untuk menciptakan model pemberdayaan ekonomi yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Baca juga: Shalawat Ibrahimiyah: Mengapa Dibaca Saat Tahiyat?
Program ini kemudian dikembangkan bersama UNISA dan Lazismu Pusat sebagai mitra kolaborasi.
Fasilitator MPM PP Muhammadiyah, Syauqi, menjelaskan bahwa peternakan tersebut bukan sekadar usaha ekonomi, melainkan ruang belajar dan ruang kerja yang memungkinkan kelompok difabel mengembangkan keterampilan secara bertahap sesuai kondisi fisik masing-masing.
Salah seorang pengurus kelompok difabel, Yanti, menceritakan perjalanan TelurMoe Farm yang dimulai dari skala kecil. Ia bersama anggota lainnya belajar memelihara sekitar 300 ekor ayam petelur sebelum akhirnya mampu mengembangkan usaha hingga hampir empat kali lipat.
“Kami mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi keterbatasan fisik kami,” kata Yanti.
Melalui proses belajar dan pendampingan, kini kelompok tersebut mengelola sekitar 1.000 ekor ayam dengan produktivitas rata-rata mencapai 900–920 butir telur setiap hari.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Beristighfar Tiga Kali Setelah Salam?
Pencapaian itu menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk menjalankan usaha produktif apabila memperoleh kesempatan dan dukungan yang tepat.
Yanti menjelaskan bahwa TelurMoe diposisikan sebagai produk telur dengan karakteristik rendah kalori dan lemak, serta kaya protein dan omega 3, 6, dan 9. Namun, menurutnya, tantangan terbesar justru terletak pada pemasaran produk, bukan pada proses produksi.
“Telur ini memiliki kandungan rendah kalori dan lemak, tinggi kandungan protein, serta omega 3, 6, 9 sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Tantangan terberat pada pemasaran untuk telur kategori khusus ini,” ujarnya.
Karena itu, seluruh anggota kelompok tidak hanya bertugas memelihara ayam, tetapi juga ikut memasarkan hasil produksi. Mereka berperan sebagai tenaga pemasaran untuk memperluas jangkauan pelanggan sekaligus memperoleh tambahan pendapatan harian.
Baca juga: Memberi Hadiah atau Sedekah, Mana yang Lebih Utama dalam Islam?
Menurut Yanti, MPM PP Muhammadiyah berperan membantu membuka akses pasar dan mencarikan pelanggan bagi TelurMoe Farm. Namun, keberhasilan usaha tersebut tidak hanya bergantung pada pendampingan dari luar, melainkan juga partisipasi aktif seluruh anggota kelompok.
“Maka, di samping MPM PP membantu mencarikan pelanggan, kami semua anggota ikut menjadi marketing, ikut memasarkan semampu kami. Lumayan, kami bisa mendapatkan margin untuk tambahan pendapatan harian kami,” tuturnya.
Model kolaborasi ini mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pendampingan, pelatihan, akses pasar, hingga keterlibatan langsung penyandang disabilitas sebagai pelaku utama usaha.
Keberhasilan TelurMoe Farm menarik perhatian Pemerintah Desa Jemawan, Kabupaten Klaten. Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan perwakilan Koperasi Desa Merah Putih Jemawan mengunjungi lokasi pada Ahad (27/9).
Baca juga: Bolehkah Shalat Tahajud Tanpa Tidur Terlebih Dahulu?
Bagi rombongan tersebut, TelurMoe Farm tidak sekadar menampilkan kandang ayam petelur.
Hal yang dipelajari adalah sebuah ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan modal, lahan, pendampingan, keterampilan, produksi, pemasaran, dan kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Kisah TelurMoe Farm menunjukkan bahwa pemberdayaan yang berkelanjutan tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kesempatan hidup yang lebih mandiri bagi kelompok difabel melalui kerja sama berbagai pihak.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.