KOMPAS.com - Nama Abu Ayyub Al-Anshari selalu dikenang dalam sejarah Islam sebagai sahabat yang mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Rasulullah SAW ketika beliau hijrah ke Madinah.
Peristiwa itu bukan sekadar kisah penyambutan, melainkan menjadi simbol keikhlasan kaum Anshar dalam menolong Nabi dan kaum Muhajirin.
Biografi Abu Ayyub tercatat dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dan At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibnu Sa’d.
Kedua kitab tersebut menjelaskan bahwa beliau bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib dari Bani Najjar, termasuk golongan Anshar, hadir dalam Baiat Aqabah, serta mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW.
Abu Ayyub Al-Anshari memiliki nama lengkap Khalid bin Zaid Al-Anshari An-Najjari. Dalam Al-Iṣābah, Ibnu Hajar menempatkannya sebagai sahabat utama dari kalangan Anshar yang memiliki kedekatan khusus dengan Rasulullah SAW sejak masa hijrah.
Baca juga: Mengapa Rasulullah Beristighfar Tiga Kali Setelah Salam?
Sementara itu, At-Ṭabaqāt al-Kubrā karya Ibnu Sa’d meriwayatkan bahwa Abu Ayyub ikut Baiat Aqabah sebelum hijrah, kemudian menjadi salah satu sahabat yang senantiasa menyertai Rasulullah dalam peperangan. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan dan sangat menghormati tamunya.
Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, setiap keluarga Anshar berharap beliau singgah di rumah mereka. Namun Nabi tidak memilih berdasarkan kedekatan ataupun status sosial. Beliau membiarkan untanya berjalan hingga berhenti sendiri.
Tempat berhentinya unta itulah yang kemudian menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi. Sementara rumah terdekat milik Abu Ayyub Al-Anshari menjadi tempat tinggal Rasulullah selama beberapa bulan sebelum kamar-kamar beliau selesai dibangun.
Menurut riwayat Ibnu Sa’d, Abu Ayyub awalnya mempersilakan Rasulullah menempati lantai atas. Namun Rasulullah memilih lantai bawah agar lebih mudah menerima tamu dan masyarakat yang datang menemui beliau setiap hari.
Baca juga: 300 Aktivis NU dari Berbagai Kubu Serukan Rekonsiliasi Pasca-Muktamar
Kemuliaan Abu Ayyub tidak dapat dipisahkan dari karakter kaum Anshar yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Allah SWT memuji mereka karena mengutamakan saudaranya meskipun sedang membutuhkan.
Allah berfirman dalam QS Al-Hasyr Ayat 9:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
Wallażīna tabawwa'ud-dāra wal-īmāna min qablihim yuḥibbūna man hājara ilaihim wa lā yajidūna fī ṣudūrihim ḥājatan mimmā ūtū wa yu'tsirūna ‘alā anfusihim walau kāna bihim khaṣāṣah.
Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada mereka, dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan.”
Baca juga: Memberi Hadiah atau Sedekah, Mana yang Lebih Utama dalam Islam?
Para mufasir menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan akhlak kaum Anshar secara umum. Abu Ayyub menjadi salah satu teladan nyata dari semangat itsar, yakni mendahulukan kepentingan orang lain daripada dirinya sendiri.
Selama Rasulullah tinggal di rumahnya, Abu Ayyub dan istrinya selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik. Dalam salah satu riwayat yang dicatat Ibnu Sa’d, keduanya bahkan merasa sungkan berjalan di lantai atas karena khawatir mengganggu Rasulullah yang berada di bawah.
Kisah ini menunjukkan bahwa memuliakan tamu bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menghadirkan rasa hormat, perhatian, dan kepekaan terhadap kenyamanan orang lain. Akhlak inilah yang menjadikan Abu Ayyub dikenang sepanjang sejarah Islam.
Baca juga: Gym di Bandung Ini Dikelola dengan Wakaf Produktif, Apa Itu?
Abu Ayyub juga meriwayatkan hadis yang selaras dengan kehidupannya sebagai tuan rumah Rasulullah SAW.
Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshari RA:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Man kāna yu'minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyukrim ḍaifahu.
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR Sahih al-Bukhari No. 6018; Sahih Muslim No. 47)
Hadis ini menjadi landasan penting dalam adab sosial Islam. Memuliakan tamu dipandang sebagai wujud nyata keimanan, bukan sekadar tradisi budaya.
Semangat Abu Ayyub tidak berhenti setelah wafatnya Rasulullah SAW. Menurut Al-Iṣābah dan At-Ṭabaqāt, beliau tetap mengikuti berbagai ekspedisi jihad hingga usia lanjut. Ia wafat dalam pengepungan Konstantinopel pada masa pemerintahan Muawiyah dan dimakamkan di dekat benteng kota tersebut sesuai wasiatnya.
Baca juga: Bolehkah Shalat Tahajud Tanpa Tidur Terlebih Dahulu?
Kisah Abu Ayyub Al-Anshari mengajarkan bahwa kemuliaan bukan lahir dari kekayaan atau jabatan, melainkan dari kesediaan membuka pintu rumah dan hati bagi perjuangan agama. Keikhlasan menyambut Rasulullah menjadikannya salah satu sahabat yang namanya terus dikenang sebagai teladan kaum Anshar.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.