Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Lubna: Dijauhi Keluarga, Goreng Pisang demi Bertahan Hidup, hingga Lulus S2

Kompas.com, 29 September 2026, 09:10 WIB
Reni Susanti

Editor


BOGOR, KOMPAS.com — Saat berusia 19 tahun, Lubna Puteri Azzahra harus memilih antara membayar kuliah atau mempertahankan kamar kosnya di Jakarta. Ia memilih membayar kos. Tanpa tempat tinggal, ia tidak tahu harus pergi ke mana.

“Kalau aku bayar uang kuliah, aku tuh nggak bisa bayar kosan. Kalau nggak bisa bayar kosan mau tinggal di mana. Akhirnya aku memutuskan untuk bayar kosan aja deh, kuliah nanti,” tutur Lubna dikutip dari MUI Digital, Selasa (29/2/2026).

Lubna, yang sebelumnya bernama Sri Agustina Nadeak, merantau ke Jakarta untuk kuliah. Pada masa itu pula ia memutuskan memeluk Islam. Keputusan tersebut diikuti dengan berkurangnya dukungan keluarga hingga akhirnya terhenti.

“Dukungan-dukungan dari orang tua, keluarga itu berkurang dan di-stop sama sekali. Komunikasi, support mental itu nggak ada,” katanya.

Baca juga: Momen Hangat, 150 Mualaf Eks-Baduy Buka Puasa Bersama Kang Maman

Azan yang mengubah hidup

Sebelum bersyahadat, Lubna mengaku mengalami sesuatu yang tidak ia pahami.

Selama sepekan, setiap sekitar pukul 02.00, ia mendengar suara yang kemudian dikenalnya sebagai azan. Ia mengatakan suara itu tidak berasal dari masjid ataupun orang di sekitarnya.

“Setiap jam 2 malam selama satu minggu. Bukan dengar dari masjid, bukan dengar dari orang. Tapi di kuping di kiri dan di kanan,” ujarnya.

Lubna mencari tahu tentang azan, lalu mendatangi Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

Pengalaman itu ia maknai sebagai petunjuk yang memantapkan hatinya untuk memeluk Islam.

Namun, menjalani pilihan tersebut seorang diri sebagai mahasiswa perantau tidak mudah.

Saat dukungan keluarga terhenti, Lubna harus mencari penghasilan untuk membiayai hidup.

Ia mengirim lamaran pekerjaan ke berbagai tempat sebelum akhirnya bekerja menggoreng pisang.

Pekerjaan itu ia jalani selama sekitar dua tahun dengan penghasilan sekitar Rp 1,8 juta. Di tengah keterbatasan, keinginannya untuk kembali kuliah tidak padam.

“Aku berpikir ada beban ganda sebagai perantau dan juga sebagai yang memilih jalan berbeda dari orang tua. Kayaknya dengan gaji yang waktu itu cuma 1.800.000. Akhirnya memilih, ah gimana pun aku harus kuliah deh. Mimpi itu tetap ada nyala dalam diri,” ungkapnya.

Baca juga: Memberi Hadiah atau Sedekah, Mana yang Lebih Utama dalam Islam?

Perjuangan kuliah

Lubna kemudian mencari kampus dengan biaya yang sanggup ia jangkau. Ketika pandemi Covid-19 memungkinkan perkuliahan daring, ia kembali belajar. Kesempatan mencicil biaya kuliah turut membantunya melanjutkan pendidikan.

Pertemanan di kampus dan komunitas juga membuka jalan bagi Lubna untuk memperoleh pekerjaan lain. Sedikit demi sedikit, keadaan ekonominya membaik.

“Pelan-pelan jalan hidup kayaknya melalui orang yang kukenal dibukakan sama Allah. Alhamdulillah,” katanya.

Lubna akhirnya menyelesaikan pendidikan S1. Ia mengabarkan pencapaian itu kepada orang tuanya dan mengundang mereka datang ke Jakarta. Menurut Lubna, orang tuanya semula khawatir dengan pilihan hidup yang ia ambil.

“Anggapan mereka kan waktu itu, anak ini salah jalan atau bergaul sama siapa sih. Tapi akhirnya selesai,” tuturnya.

Lubna kemudian melanjutkan pendidikan S2. Ia mengatakan program yang dirancang berlangsung 18 bulan dapat diselesaikannya dalam 12 bulan. Ketika orang tuanya kembali datang, ia melihat keduanya menangis.

“Dan orang tua datang lagi. Akhirnya di situ yang pertama kali aku lihat mama sama bapak itu nangis,” ucap Lubna.

Pengalaman tersebut menguatkan keyakinannya bahwa keadaan yang sulit tidak harus mengakhiri cita-cita seseorang.

“Siapa sangka seorang penggoreng pisang ternyata bisa kok, kuliah S1, S2 bisa. Dan bisa jadi pengacara juga bisa. Dan gak ada yang gak mungkin gitu,” ujarnya.

Kini, setelah sekitar tujuh tahun menjadi mualaf, Lubna masih ingin belajar. Ia menjadi salah satu dari 43 peserta Bootcamp Muharrik Mualaf 2026 yang diselenggarakan Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf Majelis Ulama Indonesia (LP2M MUI) pada 18–20 September 2026 di Jakarta dan Kabupaten Bogor.

Melalui kegiatan itu, Lubna berharap dapat memperdalam pengetahuan agama, bertemu teman baru, dan menemukan lingkungan yang mendukungnya.

“Saya masih sangat membutuhkan yang namanya keluarga. Mungkin bukan keluarga sedarah, tapi seiman,” katanya.

Lubna juga berharap pengalaman yang telah dilaluinya kelak memberi manfaat bagi orang lain. Kepada anak muda yang sedang menghadapi masa sulit, ia berpesan agar tidak melepaskan harapan.

“Yang perlu kita tekankan itu tetap merawat harapan, tetap semangat. Mungkin hari ini hujan, tapi besok belum tentu hujan. Bahkan terang aja ada waktunya, malam ada waktunya,” tuturnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Terkena Percikan Air Kloset, Apakah Badan dan Handuk Jadi Najis?
Terkena Percikan Air Kloset, Apakah Badan dan Handuk Jadi Najis?
Aktual
Gus Kikin: Dukungan untuk Palestina Telah Diajarkan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng
Gus Kikin: Dukungan untuk Palestina Telah Diajarkan KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng
Aktual
Prabowo Minta Biaya Haji Tak Memberatkan, Keuangan Haji Bakal Diaudit Forensik
Prabowo Minta Biaya Haji Tak Memberatkan, Keuangan Haji Bakal Diaudit Forensik
Aktual
Kisah Lubna: Dijauhi Keluarga, Goreng Pisang demi Bertahan Hidup, hingga Lulus S2
Kisah Lubna: Dijauhi Keluarga, Goreng Pisang demi Bertahan Hidup, hingga Lulus S2
Aktual
Pagar Nusa NU Perluas Kaderisasi di Taiwan
Pagar Nusa NU Perluas Kaderisasi di Taiwan
Aktual
Kemenhaj Temukan 400 Ribu Data Tak Valid, Antrean Haji Jadi 14 Tahun
Kemenhaj Temukan 400 Ribu Data Tak Valid, Antrean Haji Jadi 14 Tahun
Aktual
Muhadjir Effendy Ungkap Keinginan Guruh Soekarnoputra Bangun Masjid Fatmawati
Muhadjir Effendy Ungkap Keinginan Guruh Soekarnoputra Bangun Masjid Fatmawati
Aktual
Di Darul Amanah, Taj Yasin Ajak Santri Pramuka Jadi Pemimpin yang Berempati
Di Darul Amanah, Taj Yasin Ajak Santri Pramuka Jadi Pemimpin yang Berempati
Aktual
TelurMoe Farm Jadi Ruang Pemberdayaan Difabel Bangun Kemandirian Ekonomi
TelurMoe Farm Jadi Ruang Pemberdayaan Difabel Bangun Kemandirian Ekonomi
Aktual
Niat Sholat Witir 1 dan 3 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Sholat Witir 1 dan 3 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Doa Tidur dan Bangun Tidur: Arab, Latin, Arti, dan Amalannya
Doa Tidur dan Bangun Tidur: Arab, Latin, Arti, dan Amalannya
Doa dan Niat
Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Kandungannya
Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Kandungannya
Doa dan Niat
Sholawat Nariyah: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Sholawat Nariyah: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Mengamalkannya
Doa dan Niat
Perkiraan Awal Ramadhan 2027 Hingga Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran
Perkiraan Awal Ramadhan 2027 Hingga Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran
Aktual
Kemenhaj Bersihkan Ratusan Ribu Data Invalid, Antrean Faktual Haji Kini Hanya 14 Tahun
Kemenhaj Bersihkan Ratusan Ribu Data Invalid, Antrean Faktual Haji Kini Hanya 14 Tahun
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar