Editor
MALANG, KOMPAS.com — Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said mengajak santri menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud cinta tanah air.
Pesan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekoteologi dalam Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026.
“Ekoteologi kami angkat sebagai ruh PPSN VI karena mencintai tanah air bukan hanya soal simbol. Tanah air itu tanah dan airnya, hutannya, sungainya, udaranya,” ujar Basnang dalam Malam Ramah Tamah Selamat Datang dan Malam Budaya Jawa Timur di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Rabu (30/9/2026) malam.
Baca juga: Menag Lantik 5 Pejabat Ditjen Pesantren, Ingatkan Nasib Santri di 42.000 Pondok
Menurut Basnang, menjaga alam merupakan amanah Allah kepada manusia sebagai khalifah di bumi sekaligus wujud nyata hubbul wathan minal iman atau cinta tanah air sebagai bagian dari iman.
Ia berharap pengalaman mengikuti perkemahan dapat mendorong santri merawat lingkungan setelah kembali ke daerah masing-masing.
“Kami ingin santri pulang dari perkemahan ini tidak hanya terampil berpramuka, tetapi juga menjadi pelopor perawatan lingkungan di pesantren dan masyarakatnya,” katanya.
Basnang menegaskan bahwa nilai-nilai ekoteologi memiliki akar dalam pendidikan pesantren. Ajaran tentang kebersihan, larangan berlebih-lebihan, dan kepedulian terhadap alam telah lama menjadi bagian dari pembinaan santri.
“Sejak lama pesantren mengajarkan kebersihan sebagai bagian dari iman, larangan berlebih-lebihan, dan kepedulian terhadap alam,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu mendukung pesantren dalam mengembangkan pendidikan dan lingkungan yang sehat bagi santri.
“Karena itu, negara hadir bukan untuk menggurui, melainkan untuk berpihak: mengakui khazanah pesantren, menguatkan perannya dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, serta mendukung pesantren membangun lingkungan yang sehat bagi para santri,” katanya.
Baca juga: Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Dalam rilisnya, Basnang menyampaikan bahwa PPSN VI menjadi agenda pertama yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren sebagai kelembagaan baru di Kementerian Agama.
Ia mengingatkan bahwa pesantren telah berkontribusi dalam pendidikan dan perjuangan bangsa jauh sebelum Indonesia merdeka. Karena itu, menurutnya, negara patut mengakui dan mendukung peran pesantren.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Malang M Sanusi menekankan pentingnya akhlak dalam membentuk calon pemimpin.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak. Menurutnya, iman dan takwa yang tercermin dalam perilaku merupakan fondasi kepemimpinan kebangsaan.
Sanusi berharap PPSN VI dapat memperkuat pembinaan santri agar tumbuh menjadi pemimpin yang berakhlak, adil, dan beradab.
Ia juga mengaitkan pembentukan karakter tersebut dengan nilai-nilai Pancasila, termasuk persatuan, kebersamaan, serta keadilan sosial.
Malam penyambutan di Pendopo Agung Kabupaten Malang turut diisi kegiatan budaya Jawa Timur untuk menyambut kontingen dari berbagai daerah.
PPSN VI yang berlangsung hingga 6 Oktober 2026 diharapkan menjadi ruang pembinaan keterampilan kepramukaan, akhlak, dan kepedulian lingkungan bagi santri.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.