KOMPAS.com - Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dari kalangan Anshar. Ia dikenal sebagai penyair yang membela Rasulullah SAW melalui syair dan termasuk salah satu tokoh yang dipercaya memimpin pasukan Muslim dalam Perang Mu'tah.
Ibn Hajar al-'Asqalani dalam Al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah menyebut Abdullah bin Rawahah sebagai Abdullah bin Rawahah bin Tsa'labah bin Imri' al-Qais al-Anshari al-Khazraji. Ia termasuk salah satu naqib pada Baiat Aqabah, mengikuti Perang Badar dan berbagai peristiwa setelahnya hingga akhirnya gugur di Mu'tah.
Menurut Ibn Sa'd dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Abdullah bin Rawahah merupakan bagian dari Bani al-Harits bin al-Khazraj. Ibunya bernama Kabsyah binti Waqid bin Amr bin al-Ithnabah. Ia termasuk salah satu dari 12 naqib Anshar yang diangkat dalam peristiwa Aqabah.
Baca juga: Kenapa Rezeki Tak Selalu Berbentuk Uang? Ini Penjelasan dalam Islam
Ibn Sa'd juga mencatat bahwa Abdullah bin Rawahah telah mengenal kemampuan membaca dan menulis sejak masa sebelum Islam. Setelah memeluk Islam, ia mengikuti sejumlah peristiwa penting bersama Rasulullah SAW, termasuk Badar, Uhud, Khandaq, Hudaibiyah, dan Khaibar.
Selain dikenal sebagai sahabat yang terlibat dalam berbagai peristiwa, Abdullah bin Rawahah juga memiliki kemampuan bersyair. Ibn Hajar menyebutnya sebagai seorang penyair yang terkenal dan termasuk orang yang membela Rasulullah SAW melalui syair.
Dalam Al-Iṣābah, Ibn Hajar mencatat riwayat bahwa Abdullah bin Rawahah pernah membacakan syair di hadapan Rasulullah SAW. Setelah mendengarnya, Nabi SAW mendoakannya agar Allah memberikan keteguhan kepadanya.
Riwayat tersebut menunjukkan bahwa kemampuan bersyair Abdullah bin Rawahah digunakan dalam konteks membela Rasulullah SAW. Kemampuan tersebut menjadi salah satu bagian yang menonjol dari kehidupan sahabat ini.
Baca juga: Rekam Jejak Suyudi Ario Seto, GP Ansor Dukung Penuh Kapolri Baru
Peran Abdullah bin Rawahah semakin terlihat ketika Rasulullah SAW mengatur kepemimpinan pasukan dalam Perang Mu'tah. Dalam riwayat Abdullah bin Umar yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari, Rasulullah SAW menetapkan Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin. Jika Zaid gugur, kepemimpinan dilanjutkan Ja'far bin Abi Thalib, kemudian Abdullah bin Rawahah.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَمَّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ مُؤْتَةَ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، وَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ»
‘An ‘Abdillāhi bin ‘Umara raḍiyallāhu ‘anhumā qāla: ammarar-rasūlullāhu ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama fī ghazwati Mu’tah Zaidabna Hāritsah, faqāla rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam: “In qutila Zaidun fa Ja‘farun, wa in qutila Ja‘farun fa ‘Abdullāhu bin Rawāhah.”
“Dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata, Rasulullah SAW mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin dalam Perang Mu'tah. Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika Zaid gugur, maka Ja'far; jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawahah.’” (Sahih al-Bukhari, No. 4261)
Baca juga: Kapan Hari Santri 2026 Diperingati? Ini Sejarah, Makna, dan Logonya
Hadis ini memperlihatkan bahwa Abdullah bin Rawahah telah dipercaya Rasulullah SAW untuk mengambil alih kepemimpinan pasukan setelah dua pemimpin sebelumnya. Kepercayaan tersebut menjadi bagian penting dalam catatan sejarah kehidupannya.
Perang Mu'tah berlangsung pada tahun kedelapan Hijriah. Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibn Sa'd mencatat Abdullah bin Rawahah sebagai salah satu pemimpin yang gugur dalam peristiwa tersebut. Ibn Hajar juga menyebut bahwa ia gugur di Mu'tah setelah sebelumnya mengikuti berbagai peristiwa bersama Rasulullah SAW.
Riwayat lain dalam Sahih al-Bukhari menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan kabar gugurnya tiga pemimpin Mu'tah kepada para sahabat. Anas bin Malik meriwayatkan:
أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَ جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَ ابْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ
Akhadzar-rāyata Zaidun fa-uṣība, tsumma akhadza Ja‘farun fa-uṣība, tsumma akhadza Ibnُ Rawāḥata fa-uṣība.
Baca juga: Kapan Hari Santri 2026 Diperingati? Ini Sejarah, Makna, dan Logonya
“Zaid mengambil panji lalu gugur, kemudian Ja'far mengambilnya lalu gugur, kemudian Ibnu Rawahah mengambilnya lalu gugur.” (Sahih al-Bukhari, No. 3757)
Hadis tersebut juga mencatat bahwa Rasulullah SAW menyampaikan kabar itu dalam keadaan berlinang air mata. Riwayat ini menunjukkan kedukaan Nabi atas wafatnya ketiga sahabat tersebut.
Kehidupan Abdullah bin Rawahah memperlihatkan beberapa peran sekaligus dalam sejarah awal Islam. Ia termasuk naqib Anshar, mengikuti berbagai peristiwa penting bersama Rasulullah SAW, dikenal sebagai penyair, dan dipercaya menjadi salah satu pemimpin dalam Perang Mu'tah.
Ia kemudian gugur dalam peristiwa tersebut pada tahun kedelapan Hijriah. Catatan Ibn Hajar dan Ibn Sa'd menempatkan Abdullah bin Rawahah sebagai salah satu sahabat Anshar yang memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bersama Rasulullah SAW.
Baca juga: Sedekah atas Nama Orangtua yang Sudah Meninggal, Apakah Sampai Pahalanya?
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.