Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Muhaimin: Pesantren Harus Cetak Santri Mandiri dan Ciptakan Peluang

Kompas.com, 7 Oktober 2026, 07:54 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya peran pesantren dalam pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan yang membekali santri dengan karakter, keterampilan, dan kemampuan mengembangkan potensi untuk mencapai kemandirian.

Menurut Muhaimin, pesantren tidak seharusnya hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan. Lingkungan pesantren juga dapat menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan keterampilan sekaligus belajar melihat peluang di sekitarnya.

“Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar. Pesantren bisa menjadi ruang untuk membangun manusia yang punya karakter, keterampilan, kemampuan melihat peluang, dan pada akhirnya mampu mandiri,” ujar Muhaimin di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/10/2026).

Baca juga: PPSN VI Ditutup, Dirjen Pesantren: Prestasi Terpenting adalah Karakter

Pendidikan Harus Buka Potensi Santri

Muhaimin mengatakan, pemberdayaan masyarakat perlu dimulai dengan membangun kapasitas manusia.

Menurut dia, pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan kepada peserta didik. Mereka juga perlu mendapatkan ruang untuk mengenali minat dan potensi yang dimiliki.

Peserta didik, lanjut Muhaimin, perlu diberi kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mencoba menciptakan sesuatu, hingga melihat peluang yang dapat dikembangkan dari lingkungan sekitar.

Model tersebut, menurut dia, diterapkan di Pesan Trend, yang memadukan kurikulum nasional, pendidikan Al Quran, permakultur, dan pembelajaran berbasis keterampilan hidup.

Santri tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan, seperti pertanian, peternakan, pengolahan limbah, pengembangan kopi, produk santri, hingga wisata edukasi.

Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis potensi lokal.

“Yang penting dalam pemberdayaan adalah bagaimana anak-anak ini tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada di sekitarnya,” kata Muhaimin.

Pemerintah Tak Perlu Ambil Alih Gerakan Masyarakat

Muhaimin menilai berbagai inisiatif yang tumbuh dari masyarakat, termasuk model pemberdayaan di pesantren, perlu diperkuat melalui akses, pendampingan, dan kolaborasi.

Menurut dia, pemerintah tidak harus mengambil alih gerakan yang sudah tumbuh di masyarakat.

Sebaliknya, pemerintah dapat membantu memperkuat kapasitas sekaligus memperluas dampaknya melalui kerja sama dengan berbagai pihak.

Praktik baik yang berkembang di pesantren juga dapat menjadi pembelajaran bagi komunitas lain untuk membangun model pemberdayaan yang disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing daerah.

Kampung Pemuda Ingin Perluas Model ke Daerah

Sementara itu, penggagas dan pendiri kawasan Kampung Pemuda, Ustadz Hanan Attaki, mengatakan pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari perjalanan gerakan Pemuda Hijrah sejak 2015.

Gerakan tersebut kini memasuki tahap membangun model pemberdayaan anak muda.

“Periode pertama kami membuat tren, alhamdulillah pada 2015 sampai 2020 lahir tren hijrah di Indonesia. Periode kedua kami membuat model dan lokasi. Kawasan ini salah satunya, sebuah kawasan kolaboratif anak muda,” ujar Hanan.

Ia mengatakan model tersebut nantinya akan diperluas ke berbagai daerah agar semakin banyak anak muda memiliki ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan potensi sesuai karakter masing-masing daerah.

“Harapan kami setelah ini bisa scale up di seluruh Indonesia. Ini bukan franchise, tetapi movement. Silakan ditiru dan dikembangkan secara gratis sesuai kebutuhan daerah masing-masing,” kata Hanan.

Baca juga: Kiai Imjaz Masuk Syuriyah PBNU, Siap Kawal Penguatan Otoritas Ulama dan Transformasi Pesantren

Pemberdayaan Bukan Membuat Masyarakat Bergantung

Muhaimin kembali menegaskan bahwa tujuan utama pemberdayaan adalah membangun kemampuan masyarakat agar dapat berdiri sendiri.

Menurut dia, masyarakat perlu didorong untuk mengenali dan mengembangkan potensi yang sudah dimiliki, baik potensi sumber daya manusia maupun potensi lingkungan di sekitarnya.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membangun keterampilan, kemandirian, dan kemampuan santri menciptakan peluang dari potensi lokal.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Niat Sholat Witir 1 dan 3 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Sholat Witir 1 dan 3 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa Harian
Buku Fatwa dan Fikih Kebencanaan Muhammadiyah Masuk Koleksi Oxford
Buku Fatwa dan Fikih Kebencanaan Muhammadiyah Masuk Koleksi Oxford
Aktual
Mengapa Islam Melarang Korupsi? Ini Dalil Al-Quran dan Hadis
Mengapa Islam Melarang Korupsi? Ini Dalil Al-Quran dan Hadis
Aktual
Apa Itu Dakwah Ekonomi dalam Islam? Ini Konsep dan Contohnya
Apa Itu Dakwah Ekonomi dalam Islam? Ini Konsep dan Contohnya
Aktual
PBNU dan Qatar Jajaki Beasiswa Santri hingga Pemasaran Produk Pesantren
PBNU dan Qatar Jajaki Beasiswa Santri hingga Pemasaran Produk Pesantren
Aktual
Doa Robbisrohli Sodri Wayassirli Amri: Arab, Latin, Arti, dan Kapan Dibaca
Doa Robbisrohli Sodri Wayassirli Amri: Arab, Latin, Arti, dan Kapan Dibaca
Doa dan Niat
Doa Sebelum Tidur dan Bangun Tidur: Arab, Latin, Arti, dan Adabnya
Doa Sebelum Tidur dan Bangun Tidur: Arab, Latin, Arti, dan Adabnya
Doa Harian
Menag Libatkan Tokoh Lintas Agama untuk Perkuat Tata Kelola Dana Umat
Menag Libatkan Tokoh Lintas Agama untuk Perkuat Tata Kelola Dana Umat
Aktual
Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Mandi Wajib Setelah Berhubungan: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Muhaimin: Pesantren Harus Cetak Santri Mandiri dan Ciptakan Peluang
Muhaimin: Pesantren Harus Cetak Santri Mandiri dan Ciptakan Peluang
Aktual
Kemenag Siapkan Edukasi Halal lewat Khutbah Jumat dan Bimbingan Calon Pengantin
Kemenag Siapkan Edukasi Halal lewat Khutbah Jumat dan Bimbingan Calon Pengantin
Aktual
Stres Skripsi? Riset Temukan Kaitan Sholat Dhuha dan Ketenangan Jiwa
Stres Skripsi? Riset Temukan Kaitan Sholat Dhuha dan Ketenangan Jiwa
Aktual
Doa Setelah Sholat Dhuha Lengkap dengan Arti, Niat, dan Tata Caranya
Doa Setelah Sholat Dhuha Lengkap dengan Arti, Niat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Doa Masuk Rumah: Arab, Latin, Arti, Adab, dan Doa Keluar Rumah
Doa Masuk Rumah: Arab, Latin, Arti, Adab, dan Doa Keluar Rumah
Doa dan Niat
Doa agar Hujan Berhenti: Arab, Latin, Arti, dan Adab Saat Hujan
Doa agar Hujan Berhenti: Arab, Latin, Arti, dan Adab Saat Hujan
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar