KOMPAS.com - Perkembangan media sosial membuat informasi dapat diterima dan disebarkan dengan cepat. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut umat Islam lebih berhati-hati agar tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Tabayun atau memeriksa kebenaran informasi menjadi salah satu prinsip penting dalam Islam. Sikap tersebut diperlukan agar seseorang tidak terburu-buru mempercayai kabar, menuduh orang lain, atau menyebarkan berita yang dapat menimbulkan fitnah dan permusuhan.
Berikut teks khutbah Jumat dengan fokus pada pentingnya tabayun dan menjaga diri dari kebiasaan menyebarkan informasi secara sembarangan.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak begitu cepat. Melalui telepon genggam, sebuah kabar dapat berpindah dari satu orang kepada orang lain dalam hitungan detik. Apa yang kita lihat di layar dapat segera kita teruskan kepada keluarga, teman, bahkan kepada ribuan orang yang tidak kita kenal.
Kemudahan ini merupakan nikmat apabila digunakan untuk kebaikan. Kita dapat menyebarkan ilmu, mengingatkan dalam kebaikan, mempererat silaturahmi, dan menyampaikan informasi yang bermanfaat.
Namun, kemudahan yang sama dapat menjadi jalan datangnya dosa apabila kita tidak berhati-hati.
Sebuah berita yang belum tentu benar dapat berubah menjadi tuduhan. Sebuah potongan video dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sebuah komentar dapat melukai perasaan. Bahkan sebuah pesan yang hanya kita teruskan dapat menjadi sebab rusaknya nama baik seseorang.
Karena itu, Islam mengajarkan kepada kita satu sikap yang sangat penting, yaitu tabayun.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa menerima informasi bukan berarti harus langsung mempercayainya.
Ada berita yang harus diperiksa. Ada kabar yang harus ditelusuri. Ada informasi yang lebih baik kita diamkan ketika kebenarannya belum dapat dipastikan.
Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya membaca judul lalu mengambil kesimpulan. Jangan pula kita menilai seseorang hanya berdasarkan potongan video atau satu unggahan yang beredar di media sosial.
Sebab, sesuatu yang kita lihat belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tabayun bukan hanya berlaku ketika kita menerima berita besar. Tabayun juga diperlukan dalam perkara yang terlihat sederhana.
Ketika menerima pesan berantai, jangan langsung meneruskannya.
Ketika menemukan tuduhan terhadap seseorang, jangan langsung ikut menyebarkannya.
Ketika melihat potongan video, jangan buru-buru memberikan penilaian sebelum mengetahui konteksnya.
Dan ketika mendengar kabar yang dapat merugikan orang lain, jangan menjadikan rasa penasaran sebagai alasan untuk menyebarkannya.
Ingatlah, tidak semua yang kita ketahui harus kita bagikan. Tidak semua yang kita lihat harus kita komentari. Dan tidak semua yang ramai dibicarakan berarti benar.
Rasulullah SAW mengingatkan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,
Hadis tersebut sangat relevan dengan kehidupan kita di era digital.
Dahulu, menjaga lisan berarti menjaga perkataan yang keluar dari mulut. Sekarang, menjaga lisan juga berarti menjaga tulisan yang kita ketik, komentar yang kita buat, pesan yang kita kirim, serta informasi yang kita sebarkan.
Jari-jari kita mungkin hanya bergerak beberapa detik ketika menekan tombol bagikan. Namun, akibat dari informasi tersebut dapat berlangsung jauh lebih lama.
Satu unggahan dapat mempermalukan seseorang. Satu tuduhan dapat merusak kepercayaan. Satu berita palsu dapat memicu pertengkaran.
Karena itu, sebelum menekan tombol kirim atau bagikan, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah konteksnya sudah jelas? Apakah menyebarkannya membawa manfaat? Dan apakah ada orang yang dapat dirugikan karenanya?
Jika kita tidak mengetahui jawabannya, diam adalah pilihan yang lebih aman.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah SWT juga mengingatkan bahwa setiap perkataan manusia berada dalam pengawasan-Nya.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
Jika ucapan saja dicatat, maka apa yang kita tulis dan sebarkan pun tidak lepas dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah SWT.
Oleh sebab itu, marilah kita menjadikan media sosial sebagai tempat menanam kebaikan, bukan tempat menebarkan fitnah.
Jangan mudah menjadi penyebar kabar. Jadilah orang yang memeriksa sebelum berbicara, memahami sebelum menilai, dan memastikan sebelum membagikan.
Semoga Allah SWT menjaga kita dari kesalahan dalam menerima dan menyampaikan informasi. Semoga Allah menjaga lisan kita, tulisan kita, jari-jari kita, serta seluruh aktivitas digital kita dari perkara yang mendatangkan dosa.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ، فَقَالَ:
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَاحْفَظْ قُلُوبَنَا مِنَ الْفِتْنَةِ، وَاحْفَظْ أَيْدِيَنَا وَأَصَابِعَنَا مِنْ نَشْرِ مَا لَا تُرْضِيكَ.
اللّٰهُمَّ اجْعَلْ مَا نَقُولُ وَمَا نَكْتُبُ وَمَا نَنْشُرُ سَبَبًا لِلْخَيْرِ وَالْمَنْفَعَةِ، وَلَا تَجْعَلْهُ سَبَبًا لِلْفِتْنَةِ وَالضَّرَرِ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Disadur dari laman NU Online “Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial” yang ditulis oleh Muhammad Faizin.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.