Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya memperbarui pendekatan penyampaian nilai-nilai agama kepada generasi muda di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi digital.
Menurut Nasaruddin, pembinaan keagamaan perlu memanfaatkan literasi yang relevan dengan media sosial dan kehidupan masyarakat modern agar ajaran agama tetap dapat dipahami dan diterapkan.
“Oleh karena itu, strategi dakwah dan pembinaan keagamaan dituntut untuk bertransformasi agar tetap kontekstual dan adaptif,” kata Nasaruddin dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Konfusianisme ASEAN-Tiongkok Ke-5 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Baca juga: Menag Libatkan Tokoh Lintas Agama untuk Perkuat Tata Kelola Dana Umat
Forum yang diikuti tokoh agama lintas negara tersebut membahas penguatan budi pekerti dalam menghadapi perubahan zaman.
Nasaruddin mengatakan, penyampaian ajaran agama tidak cukup hanya mengajak umat berpegang pada tradisi masa lalu. Pendekatannya juga perlu menjawab tantangan yang muncul seiring kemajuan teknologi.
Ia menilai perubahan yang cepat dapat menimbulkan kebingungan bagi umat beragama ketika harus menjaga tradisi sekaligus menghadapi tuntutan masa depan.
Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Xs. Budi Santoso Tanuwibowo turut menekankan pentingnya menghubungkan nilai agama dengan persoalan masa kini.
Menurut Budi, perkembangan AI yang mulai menggantikan sejumlah peran mekanis manusia perlu diimbangi dengan penguatan moralitas.
“Ketika suatu saat AI mampu menggantikan semua fungsi manusia, apa yang akan dilakukan oleh manusia? Kalau mereka tidak punya budi pekerti, maka yang kalah akan dipinggirkan,” ujar Budi.
Ia menilai budi pekerti diperlukan agar manfaat kemajuan teknologi dapat dirasakan bersama, termasuk oleh kelompok rentan.
Baca juga: Menag: Pendidikan Antikorupsi Harus Dimulai dari Keteladanan Pemimpin
Perbedaan kemampuan intelektual maupun penguasaan teknologi, menurutnya, tidak seharusnya menjadi alasan untuk meminggirkan orang lain.
“Kalau kita punya budi pekerti, kan kita sama-sama menikmati. Ada perbedaan, tapi tidak sampai membuat orang yang kalah itu terpinggirkan,” kata Budi.
Melalui forum tersebut, Kementerian Agama menyatakan komitmen memperkuat peran lembaga keagamaan dalam menanamkan nilai ketuhanan yang diwujudkan melalui etika sehari-hari.
Penguatan ini diharapkan membantu generasi muda mengembangkan kecakapan teknologi sekaligus menjaga tanggung jawab moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.