Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Tenun ke Air Bersih, Ikhtiar Perempuan Lombok Mengubah Kehidupan

Kompas.com, 10 Oktober 2026, 20:46 WIB
Reni Susanti

Editor

LOMBOK, KOMPAS.com – Keterampilan menenun yang diwariskan secara turun-temurun menjadi sumber penghidupan bagi perempuan di Desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kini, aktivitas tersebut tidak hanya membantu meningkatkan pendapatan keluarga, tetapi juga dikembangkan untuk mendukung penyediaan air bersih bagi masyarakat.

Melalui program Galeri Mina Tenun, para perempuan penenun memperoleh akses bahan baku, peralatan, dan pemasaran yang lebih baik. Program ini juga mengembangkan teknologi yang memanfaatkan gerakan alat tenun untuk menghasilkan energi listrik.

VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan, program tersebut bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi perempuan dengan memanfaatkan potensi lokal.

“Melalui Galeri Mina Tenun, kami berupaya membuka akses ekonomi yang lebih baik bagi perempuan penenun, sekaligus mengembangkan potensi lokal melalui inovasi yang mengintegrasikan budaya dan energi terbarukan,” ujar Dian dalam rilisnya, Sabtu (10/10/2026).

Baca juga: Menteri PPPA Ajak Ulama Perempuan Bersinergi Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

Program yang dikembangkan Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Bandara Internasional Lombok (BIL) ini berangkat dari persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat Desa Sukarara.

Sebagian mantan pekerja migran Indonesia (PMI) yang kembali ke kampung halaman mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Sementara itu, para penenun menghadapi keterbatasan modal, rendahnya nilai jual kain, serta ketergantungan terhadap pengepul.

Sebelum program berjalan, sebagian penenun hanya menerima upah sekitar Rp25.000 per lembar kain. Pembayaran juga kerap harus menunggu hingga produk terjual sehingga menyulitkan mereka membeli bahan baku untuk produksi berikutnya.

Melalui Galeri Mina Tenun, para penenun memperoleh dukungan bahan baku, pengembangan motif, serta alat tenun gedogan.

Galeri tersebut juga membantu pemasaran dan memastikan pembayaran diterima setelah kain selesai diproduksi, tanpa harus menunggu produk terjual kepada konsumen akhir.

Dengan skema tersebut, penghasilan penenun dilaporkan dapat mencapai sedikitnya Rp750.000 per lembar kain setelah memperhitungkan biaya modal.

Baca juga: MUI Siapkan E-commerce untuk UMKM, Targetkan 1.000 Usaha saat Peluncuran

Gerakan alat tenun untuk membantu menyediakan air bersih

Seorang perempuan tengah menenun kain di Lombok Tengah, NTB. DOK PERTAMINA PATRA NIAGA Seorang perempuan tengah menenun kain di Lombok Tengah, NTB.

Selain meningkatkan pendapatan keluarga, aktivitas menenun di Desa Sukarara juga dikembangkan untuk membantu mengatasi keterbatasan air bersih.

Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah NTB membuat sebagian masyarakat Desa Sukarara harus mencari sumber air alternatif atau membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Untuk membantu mengatasi persoalan tersebut, program Mina Tenun mengembangkan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dimodifikasi agar gerakan mekanis selama proses menenun dapat menghasilkan energi listrik.

Energi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pengoperasian pompa air dan sistem penyaringan air.

Inovasi ini juga didukung pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga.

“Bagi kami, inovasi sosial bukan hanya tentang menghadirkan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Dian.

Menjaga tradisi, membangun kemandirian

Dalam Islam, bekerja untuk menghidupi keluarga merupakan bagian dari ibadah. Semangat ini tercermin dari perjuangan perempuan Lombok yang terus menenun, menjaga warisan leluhur, sekaligus berikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.

Melalui Galeri Mina Tenun, keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun itu diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Program tersebut sekaligus membuka peluang mata pencaharian bagi mantan pekerja migran yang kembali ke kampung halaman.

Dian mengatakan, inovasi yang dikembangkan melalui Mina Tenun diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan.

“Melalui Mina Tenun, aktivitas menenun yang menjadi bagian dari budaya lokal dikembangkan untuk mendukung penghidupan perempuan sekaligus menghadirkan solusi bagi kebutuhan air bersih,” ujarnya.

Bagi perempuan Desa Sukarara, menenun kini bukan sekadar merangkai benang menjadi kain. Di dalamnya ada ikhtiar menjaga tradisi, memperkuat ekonomi keluarga, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Kiai Cholil Jelaskan Makna Zuhud, Kaya Raya Tak Berarti Jauh dari Allah
Kiai Cholil Jelaskan Makna Zuhud, Kaya Raya Tak Berarti Jauh dari Allah
Aktual
Kemenag Buka Call for Papers Mu’tamad 2026, Ini Tema, Subtema, Syarat,dan Jadwalnya
Kemenag Buka Call for Papers Mu’tamad 2026, Ini Tema, Subtema, Syarat,dan Jadwalnya
Aktual
Lowongan CPNS Kemenag 2026 Belum Dibuka, Masyarakat Diminta Waspadai Info dan Link Rekrutmen Palsu
Lowongan CPNS Kemenag 2026 Belum Dibuka, Masyarakat Diminta Waspadai Info dan Link Rekrutmen Palsu
Aktual
UMKM Bali Diajak Pasok Kebutuhan Jemaah Haji dan Umrah
UMKM Bali Diajak Pasok Kebutuhan Jemaah Haji dan Umrah
Aktual
Dari Tenun ke Air Bersih, Ikhtiar Perempuan Lombok Mengubah Kehidupan
Dari Tenun ke Air Bersih, Ikhtiar Perempuan Lombok Mengubah Kehidupan
Aktual
BPJPH Tegaskan Wajib Halal Berlaku Mulai 18 Oktober 2026, Tidak Ada Penundaan
BPJPH Tegaskan Wajib Halal Berlaku Mulai 18 Oktober 2026, Tidak Ada Penundaan
Aktual
Wajib Halal Tetap Berlaku 18 Oktober 2026, BPJPH Siapkan Aturan Khusus
Wajib Halal Tetap Berlaku 18 Oktober 2026, BPJPH Siapkan Aturan Khusus
Aktual
Program Ustadz Punya Rumah Hadir di Hari Santri 2026, Sediakan Akses KPR FLPP
Program Ustadz Punya Rumah Hadir di Hari Santri 2026, Sediakan Akses KPR FLPP
Aktual
Cara Buat Kartu Nikah Digital di simkah4.kemenag.go.id, Ini Langkahnya
Cara Buat Kartu Nikah Digital di simkah4.kemenag.go.id, Ini Langkahnya
Aktual
Hukum Memakai Jimat dan Rajah dalam Islam, Ini Penjelasannya
Hukum Memakai Jimat dan Rajah dalam Islam, Ini Penjelasannya
Aktual
Kemenhaj Resmi Cabut Izin KBIHU Al-Fatah Purwakarta, Terbukti Lakukan Pungli dan Tipu Data Jemaah
Kemenhaj Resmi Cabut Izin KBIHU Al-Fatah Purwakarta, Terbukti Lakukan Pungli dan Tipu Data Jemaah
Aktual
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, Siap Diaudit Forensik
BPKH Kelola Dana Haji Rp 184 Triliun, Siap Diaudit Forensik
Aktual
Kisah Thufail bin Amr: Saat Dakwah Ditolak, Ini Doa Rasulullah untuk Kaumnya
Kisah Thufail bin Amr: Saat Dakwah Ditolak, Ini Doa Rasulullah untuk Kaumnya
Aktual
Apa Itu Gharar dalam Jual Beli Online? Ini Contohnya
Apa Itu Gharar dalam Jual Beli Online? Ini Contohnya
Aktual
Menemukan Barang di Jalan, Bolehkah Langsung Diambil?
Menemukan Barang di Jalan, Bolehkah Langsung Diambil?
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar