Editor
KOMPAS.com — Desti Anugerah membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri ketika mulai tinggal di Pondok Pesantren Amal Jariyah, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Perhatian para pengurus perlahan membantunya merasa lebih nyaman menjalani kehidupan di pondok.
“Awalnya saya perlu beradaptasi. Seiring berjalannya waktu, para pengurus pondok pesantren peduli dan memperhatikan saya,” tutur Desti dikutip dari laman Kemenag, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, suasana kekeluargaan terasa dalam pengasuhan maupun kegiatan belajar. Para santri mendapat bimbingan untuk menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami dibimbing menjaga akhlak dan adab,” katanya.
Baca juga: Program Ustadz Punya Rumah Hadir di Hari Santri 2026, Sediakan Akses KPR FLPP
Pengalaman Desti menjadi salah satu cerita santri dan alumni yang dihimpun dalam rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI di Malang, Oktober 2026.
Mereka membagikan pengalaman tentang pendampingan, penerapan disiplin, dan perlindungan di pesantren masing-masing.
Bagi keluarga yang melepas anak untuk belajar di pesantren, hal-hal tersebut menjadi bagian penting dari kebutuhan pendidikan. Anak membutuhkan kesempatan menimba ilmu sekaligus lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Muhammad Fauzul Said, alumnus Pondok Pesantren As-Salafie Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, mengenang cara pengasuh menanamkan disiplin selama dirinya menjadi santri.
“Kami dibimbing dengan pendisiplinan positif, selain ilmu agama,” ujarnya.
Dalam pengalamannya, proses pengasuhan berlangsung aman dan nyaman, tanpa kekerasan.
Pendekatan terhadap pelanggaran aturan juga menjadi hal yang diingat Arfiandi, alumnus Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung, Kabupaten Bone.
Menurutnya, pengurus berusaha memahami persoalan yang dihadapi santri sebelum menentukan langkah pendisiplinan.
“Apabila ada persoalan disiplin dan pelanggaran, pengurus pondok mencari tahu akar masalahnya,” katanya.
Baca juga: PBNU dan Qatar Jajaki Beasiswa Santri hingga Pemasaran Produk Pesantren
Arfiandi merasakan pendekatan tersebut sebagai bagian dari pengasuhan yang memberi rasa aman. Ia juga menyebut adanya perlindungan terhadap santri dari perundungan.
“Saya merasa Pesantren Al-Ikhlas membuat aman, nyaman, dan penuh suasana kekeluargaan,” ujarnya.
Bagi Zahiratun Hasanah, santri Pondok Pesantren Darul Kamal Nahdlatul Wathan Kembang Kerang, Nusa Tenggara Barat, rasa aman juga berkaitan dengan kesempatan menyampaikan persoalan kepada orang yang dipercaya.
“Kami selalu diberikan arahan tentang saling menghargai dan tidak melakukan tindakan kekerasan ataupun perundungan,” katanya.
“Jika ada masalah, santri diberikan ruang untuk melapor kepada pengurus atau guru yang dipercaya.”
Menurut Zahiratun, pesantren berulang kali mengingatkan pentingnya lingkungan pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
Ia juga merasakan pembiasaan kedisiplinan, kepedulian, dan akhlak dalam kehidupan bersama. Santri belajar mengatur waktu untuk ibadah dan belajar, sekaligus memperhatikan kebutuhan teman-temannya.
Keteladanan guru menjadi bagian yang membekas dalam pengalamannya.
“Para guru menjadi teladan yang baik dalam sikap, kesabaran, dan tanggung jawab, sehingga kami termotivasi untuk mencontohnya,” tuturnya.
Mustafa Thoriq El-Ghani, alumnus Pondok Pesantren Sintesa Magetan, Jawa Timur, mengatakan bahwa lingkungan yang terjaga membantunya belajar dan beraktivitas dengan tenang.
Menurut Mustafa, suasana tersebut dibangun melalui keterlibatan pimpinan, guru, dan pengurus pesantren.
“Dengan arahan para mudir, bimbingan para asatidz, serta peran pengurus pesantren, ditanamkan nilai saling menjaga, saling menghormati, menghargai adab, serta membangun kepedulian terhadap sesama,” ujarnya.
Ia menilai perlindungan dari perundungan dan kekerasan merupakan bagian penting dari pendidikan.
“Lingkungan pendidikan tetap aman, nyaman, dan terhindar dari tindakan yang tidak seharusnya, baik itu perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya. Hal tersebut menurut saya menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang sehat,” katanya.
Mustafa turut menyampaikan terima kasih kepada pimpinan, ustaz, dan pengurus pesantren atas bimbingan serta nilai kehidupan yang diterimanya.
Pengalaman para santri dan alumni tersebut menggambarkan praktik pengasuhan di pesantren masing-masing, mulai dari perhatian kepada santri baru hingga kesempatan melaporkan masalah.
Cerita mereka juga disertai harapan agar perlindungan anak terus diperkuat.
Zahiratun berharap pesantren semakin memperhatikan pengawasan dan pembinaan, sehingga seluruh santri dapat menjalani pendidikan dengan aman.
“Semoga seluruh pesantren semakin memperkuat pengawasan, pembinaan karakter, serta perlindungan anak agar tidak ada lagi kekerasan ataupun perundungan,” ucapnya.
Mustafa berharap almamaternya terus menjadi lingkungan yang ramah anak dan melahirkan generasi berakhlak baik, berpikir luas, serta bermanfaat bagi masyarakat.
Bagi mereka, perhatian pengurus, disiplin yang mendidik, keteladanan guru, dan ruang untuk menyampaikan masalah merupakan bagian dari rasa aman selama menjalani kehidupan di pesantren.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.