Editor
KOMPAS.com - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pemerintah belum mengeluarkan imbauan atau larangan perjalanan umrah di tengah konflik Arab Saudi.
Ia juga mengungkap bahwa pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan otoritas Arab Saudi untuk memantau situasi keamanan.
Baca juga: 5 Negara yang Imbau Warganya Menunda Umrah ke Saudi demi Keamanan
"Sampai hari ini kami terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri RI dan otoritas Saudi Arabia. Belum ada keputusan untuk menghimbau atau melarang perjalanan ke Saudi Arabia,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (14/10/2026).
Meski demikian, jemaah umrah Indonesia diimbau memilih penerbangan langsung menuju Madinah atau Jeddah guna menghindari transit di wilayah terdampak konflik.
Imbauan ini menyusul gangguan penerbangan yang dialami sejumlah rombongan jemaah umrah akibat pembatasan rute udara di Riyadh dan sejumlah kota transit di kawasan Teluk.
Penyesuaian rute penerbangan dilakukan untuk mengantisipasi risiko keamanan, terutama bagi penerbangan tidak langsung (indirect flight) yang transit di wilayah terdampak. Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi menyatakan kondisi tetap aman bagi jemaah umrah.
Dahnil menjelaskan, Kementerian Luar Negeri RI dan Kemenhaj mengimbau jemaah Indonesia memilih penerbangan langsung menuju Madinah atau Jeddah agar tidak perlu transit di wilayah yang terdampak konflik.
“Kemenlu RI dan kami Kemenhaj hanya menghimbau agar jamaah Indonesia memilih penerbangan direct ke Madinah atau Jeddah (Makkah) Dan, otoritas kerajaan Saudi Arabia juga menyatakan kondisi aman dan safety untuk jamaah umrah,” lanjutnya.
Gangguan penerbangan sebelumnya berdampak pada sejumlah rombongan jemaah umrah akibat pembatasan rute udara di Riyadh serta kota transit di Teluk, seperti Abu Dhabi dan Dubai.
Penundaan keberangkatan terjadi seiring penyesuaian atau pengalihan rute penerbangan, khususnya bagi perjalanan yang menggunakan penerbangan transit (indirect flight) melalui wilayah terdampak, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Dahnil berharap seluruh pihak yang terlibat dalam konflik di Timur Tengah menahan diri agar ketegangan tidak berkembang menjadi perang terbuka.
Menurutnya, konflik dapat merugikan berbagai pihak dan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap aktivitas ibadah umat Islam di Tanah Suci.
“Kami berharap semua pihak di timur tengah menahan diri jangan terjebak dengan perang terbuka yang justru akan merugikan semua pihak apalagi langsung atau tidak langsung pasti berdampak terhadap aktivitas ibadah umat Islam di tanah suci" pungkasnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, berulang kali menjadi sasaran serangan kelompok Ansar Allah atau Houthi dari Yaman.
Sputnik melaporkan, Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi menyatakan serangan pada 10 Oktober menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya. Sementara itu, serangan pada 11 Oktober menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya.
Serangan tersebut mengenai dua terminal penumpang dan memicu kebakaran.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI juga telah mengkonfirmasi adanya dua warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Ahad (11/10/2026) lalu.
Ia menyebut kedua korban tersebut teridentifikasi sebagai RM (45) dan ET (32) yang merupakan WNI dengan izin tinggal tetap di Arab Saudi dan bukan bagian dari jemaah umrah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.