Editor
KOMPAS.com - Surah At-Taubah memiliki keunikan dalam susunan Al-Qur’an karena tidak diawali dengan bacaan basmalah, berbeda dari surah-surah lainnya.
Hal ini seperti dijelaskan oleh Muh Andi Sulaiman membahas asbabun nuzul Surah At-Taubah ayat 1–10 dalam Halaqah Tafsir At-Tanwir yang diselenggarakan di Yogyakarta pada Sabtu (15/02/2025).
Baca juga: 2 Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah: Bacaan, Arti, dan Keutamaannya untuk Berdoa
Salah satu pembahasan utamanya adalah alasan Surah At-Taubah tidak diawali basmalah sebagaimana surah-surah lain dalam Al-Qur’an.
Dalam kajian asbabun nuzul, ketiadaan basmalah ini berkaitan dengan kandungan surah yang menegaskan pemutusan perjanjian dengan kaum musyrikin yang melanggar kesepakatan.
Baca juga: Mengapa Surah Maryam Sering Dibaca? Ini Keutamaan dan Kandungannya
Menurut pemaparannya, Surah At-Taubah diturunkan setelah Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah.
Rasulullah SAW dan para sahabat kembali dari peperangan tersebut dengan membawa ketentuan tegas mengenai perjanjian dengan kaum musyrikin yang telah mereka langgar.
Ayat pertama Surah At-Taubah menegaskan pemutusan hubungan tersebut. Allah SWT berfirman:
بَرَآءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖۤ اِلَى الَّذِيۡنَ عَاهَدتُّمۡ مِّنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَ ؕ
Artinya: “Inilah pernyataan pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan mereka.” (QS. At-Taubah: 1).
Dalam tradisi penulisan mushaf Al-Qur’an, basmalah menjadi pembuka surah yang mengandung makna kasih sayang dan rahmat Allah SWT.
Namun, Surah At-Taubah tidak diawali dengan basmalah karena kandungannya menekankan pernyataan pemutusan perjanjian dan peringatan tegas kepada kaum musyrikin yang mengingkari kesepakatan.
Dalam penjelasan Muh Andi Sulaiman, basmalah yang mengandung makna rahmat dinilai tidak sejalan dengan konteks surah yang menegaskan sikap terhadap pihak-pihak yang mengkhianati perjanjian.
Karena itu, ketiadaan basmalah dipahami sebagai penanda ketegasan pesan yang disampaikan dalam Surah At-Taubah.
Selanjutnya, pada musim haji tahun 9 Hijriah, Ali bin Abi Thalib ditugaskan Rasulullah SAW untuk membacakan ayat-ayat Surah At-Taubah kepada kaum musyrikin.
Ayat-ayat tersebut menjadi pemberitahuan bahwa perjanjian yang dilanggar telah dibatalkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Pemberitahuan itu juga memberikan tenggang waktu hingga empat bulan bagi kaum musyrikin untuk menentukan sikap sebelum kaum muslimin diperintahkan memerangi pihak yang tetap memusuhi mereka.
Dengan demikian, Surah At-Taubah memuat ketentuan tegas mengenai hubungan dengan kaum musyrikin yang melanggar perjanjian.
Muh Andi Sulaiman juga menjelaskan keterkaitan Surah At-Taubah dengan Surah Al-Anfal.
Kedua surah tersebut membahas peperangan dan ketentuan terkait hubungan kaum muslimin dengan kaum musyrikin.
Namun, Surah Al-Anfal masih membuka ruang perundingan dalam konteks tertentu, sedangkan Surah At-Taubah menegaskan sikap terhadap pihak yang mengingkari perjanjian.
Perbedaan konteks tersebut turut menjelaskan karakter Surah At-Taubah yang lebih tegas dalam menyampaikan peringatan.
Ketiadaan basmalah pada awal Surah At-Taubah menjadi ciri khas yang berkaitan dengan kandungan dan konteks surah tersebut.
Pembahasan asbabun nuzul membantu pembaca memahami latar belakang turunnya ayat-ayatnya.
Dengan memahami konteks sejarahnya, pesan Surah At-Taubah dapat dipelajari secara lebih utuh.
Surah At-Taubah berarti pengampunan dan termasuk surah Madaniyyah yang diturunkan setelah Rasulullah SAW kembali dari Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah.
Surah ke-9 dalam Al-Qur’an ini terdiri dari 129 ayat dan memiliki nama lain, yaitu Bara’ah, yang berarti berlepas diri.
Penamaan Bara’ah berkaitan dengan kandungan surah yang membahas pemutusan perjanjian dengan kaum musyrikin yang melanggar kesepakatan.
Surah At-Taubah juga memiliki keunikan karena tidak diawali basmalah, yang dalam sumber tersebut dikaitkan dengan pembahasan tentang peperangan dan pemutusan perjanjian, berbeda dari makna rahmat dan kasih sayang yang terkandung dalam makna basmalah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.