Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Ibadah Terasa Berat, Bagaimana Menjaga Istiqamah?

Kompas.com, 20 Oktober 2026, 08:03 WIB
Puji Sri Rahayu,
Reni Susanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ada kalanya sholat terasa berat, membaca Al-Quran tertunda, atau kebiasaan beribadah yang sebelumnya rutin mulai ditinggalkan.

Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa jauh dari Allah SWT dan kehilangan semangat untuk memperbaiki diri.

Namun, ketika ibadah terasa berat, menjaga istiqamah bukan berarti memaksakan diri melakukan banyak amalan sekaligus.

Dalam Islam, istiqamah berkaitan dengan keteguhan menjalankan ketaatan secara berkelanjutan.

Upaya menjaganya dapat dimulai dengan memperbaiki niat, mengevaluasi kebiasaan, dan membangun rutinitas ibadah yang realistis. Dengan begitu, seseorang tetap berusaha taat meskipun suasana hati dan semangatnya tidak selalu sama.

Memahami Makna Istiqamah dalam Beribadah

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surah Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Innal-lażīna qālū rabbunallāhu ṡummastaqāmū tatanazzalu ‘alaihimul-malā’ikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū wa absyirū bil-jannatil-latī kuntum tū‘adūn.

Baca juga: Pujian Bisa Menguatkan, tetapi Ada Adab yang Perlu Dijaga dalam Islam

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS Fussilat: 30).

Ayat tersebut menghubungkan pengakuan iman dengan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Istiqamah bukan sekadar menyatakan keyakinan, melainkan berusaha mempertahankannya melalui ketaatan.

Ketika semangat menurun, seorang Muslim dapat menjadikan prinsip ini sebagai pengingat untuk kembali beribadah, bukan menunggu sampai perasaannya kembali bersemangat.

Tidak Harus Menunggu Semangat Datang

Semangat beribadah dapat berubah seiring kesibukan, kelelahan, dan keadaan yang dihadapi.

Karena itu, menjadikan suasana hati sebagai satu-satunya penentu ibadah berisiko membuat rutinitas ketaatan mudah terputus.

Langkah yang lebih realistis adalah tetap menjalankan kewajiban sambil menyesuaikan amalan sunah dengan kemampuan.

Baca juga: Muhammadiyah Haramkan Rokok, Mas’udi Dorong Pengawasan dan Sanksi di Kampus

Ketika merasa jenuh, seseorang dapat memeriksa penyebabnya. Apakah waktu istirahat kurang, jadwal terlalu padat, atau target ibadah yang dibuat sejak awal terlalu berat?

Evaluasi ini membantu menemukan langkah perbaikan tanpa menjadikan rasa lelah sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.

Membiasakan Amal Kecil yang Konsisten

Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan amal dalam hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ أَدْوَمُهَا إِلَى اللَّهِ، وَإِنْ قَلَّ»

‘An ‘Ā’isyah, anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam qāla: Saddidū wa qāribū, wa‘lamū an lan yudkhila aḥadakum ‘amaluhul-jannah, wa anna aḥabbal-a‘māli adwamuhā ilallāhi wa in qall

Artinya: Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, “Beramallah dengan tepat dan mendekatlah kepada kesempurnaan. Ketahuilah bahwa amal seseorang tidak akan memasukkannya ke surga. Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dilakukan, meskipun sedikit.” (HR Bukhari, nomor 6464).

Baca juga: Beda Pendapat dengan Orang Tua, Tetap Berbakti Tanpa Memendam Perasaan

Hadis ini menekankan pentingnya keseimbangan dan kesinambungan dalam beramal.

Seseorang tidak harus langsung menargetkan membaca Al-Quran berlembar-lembar setiap hari jika belum mampu mempertahankannya.

Membaca beberapa ayat secara rutin dapat menjadi awal yang lebih terukur, kemudian ditingkatkan ketika kebiasaan tersebut mulai terbentuk.

Mendahulukan Kewajiban dan Mengatur Target

Saat energi dan waktu terbatas, dahulukan kewajiban sebelum menambah banyak amalan sunah.

Menjaga sholat lima waktu, misalnya, lebih mendasar daripada menetapkan banyak target tambahan yang justru membuat rutinitas terasa sulit dipertahankan.

Baca juga: Guru Besar UMP: Label Syariah Tak Cukup, Pengelolaan Dana Harus Transparan

Dalam artikel “Istiqamah Bukan Soal Banyaknya Amal, tetapi Konsisten Menjaganya”, Muhammadiyah menyoroti tantangan mempertahankan ketaatan secara konsisten.

Prinsip ini dapat diterapkan dengan memilih target yang realistis, seperti menjaga salat tepat waktu atau menyediakan waktu khusus untuk membaca Al-Quran.

Setelah kebiasaan tersebut lebih stabil, seseorang dapat menambah amalan lain secara bertahap.

Menghidupkan Kembali Niat dan Lingkungan yang Baik

Ketika ibadah terasa hambar, mengingat kembali tujuan beribadah dapat membantu seseorang menata niat.

Ibadah bukan hanya rutinitas yang harus diselesaikan, melainkan bentuk ketaatan kepada Allah.

Memahami makna bacaan sholat atau membaca terjemahan ayat Al-Quran juga dapat membantu seseorang menjalani ibadah dengan lebih sadar.

Lingkungan turut berperan dalam menjaga kebiasaan. Seseorang dapat mencari teman yang saling mengingatkan, mengikuti kajian dari sumber tepercaya, atau menyediakan waktu khusus untuk beribadah bersama keluarga.

Dukungan tersebut bukan pengganti usaha pribadi, tetapi dapat membantu mempertahankan komitmen ketika semangat sedang menurun.

Baca juga: Surah Al-Baqarah Ayat 205 dan Larangan Membakar Hutan hingga Merusak Lingkungan

Kembali Beribadah Tanpa Menunggu Sempurna

Menjaga istiqamah tidak berarti seseorang tidak pernah merasa malas atau mengalami penurunan semangat. Yang perlu diupayakan adalah tidak membiarkan keadaan itu membuat seluruh kebiasaan baik berhenti.

Jika suatu amalan terlewat, evaluasi penyebabnya dan bangun kembali rutinitas tanpa terus-menerus menyalahkan diri.

Mulailah dari langkah yang bisa dilakukan hari ini: menjaga sholat wajib, membaca Al-Quran sesuai kemampuan, dan menyediakan waktu untuk berdoa. Setelah kebiasaan itu lebih stabil, tambahkan amalan lain secara bertahap.

Istiqamah tumbuh melalui usaha yang terus diperbarui, bukan tuntutan untuk selalu merasa bersemangat.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar