KOMPAS.com - Bersin dapat terjadi kapan saja, termasuk ketika seseorang sedang melaksanakan salat. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan apakah orang yang bersin boleh mengucapkan Alhamdulillah atau justru harus diam agar salatnya tidak batal.
Dalam fikih Islam, mengucapkan hamdalah setelah bersin saat salat diperbolehkan karena termasuk zikir kepada Allah SWT. Namun, ada ketentuan yang perlu diperhatikan, terutama mengenai ucapan yang ditujukan kepada orang lain dan upaya menjaga kekhusyukan selama beribadah.
Melansir dari laman NU Online bahwa orang yang bersin ketika salat disunahkan membaca hamdalah. Ucapan tersebut merupakan bentuk zikir, bukan percakapan biasa dengan manusia. Karena itu, membaca Alhamdulillah tidak membatalkan salat menurut penjelasan fikih.
Baca juga: Muhammadiyah Haramkan Rokok, Mas’udi Dorong Pengawasan dan Sanksi di Kampus
Ketentuan ini penting karena salat memiliki aturan tersendiri mengenai ucapan. Bacaan Al-Qur'an, zikir, dan doa merupakan bagian dari ibadah, sedangkan percakapan biasa dengan manusia tidak termasuk bacaan salat. Oleh sebab itu, orang yang bersin tidak perlu panik atau menganggap salatnya langsung batal.
Anjuran mengucapkan hamdalah setelah bersin dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
Idzā ‘aṭasa aḥadukum falyaqulil-ḥamdu lillāh, wa lyaqul lahu akhūhu au ṣāḥibuhu yarḥamukallāh, fa idzā qāla lahu yarḥamukallāh falyaqul yahdīkumullāhu wa yuṣliḥu bālakum.
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah dia mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Saudara atau temannya hendaknya mengucapkan ‘Yarhamukallah’. Apabila orang yang bersin mendengar ucapan itu, hendaklah dia membalas, ‘Yahdikumullah wa yushlihu balakum’.” (Sahih al-Bukhari 6224).
Baca juga: Mars Hari Santri dan Ikrar Santri, Pengingat Perjuangan dan Janji untuk Negeri
Hadis ini menjelaskan adab ketika bersin, yaitu memuji Allah dan saling mendoakan. Namun, pelaksanaannya perlu memperhatikan keadaan. Ketika sedang salat, ucapan yang merupakan zikir dibedakan dari perkataan yang ditujukan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam penjelasan NU Online, hamdalah termasuk zikir berbahasa Arab sehingga tidak membatalkan salat. Dasarnya, larangan berbicara ketika salat berkaitan dengan percakapan manusia, sedangkan zikir merupakan bagian dari ibadah itu sendiri.
Meski demikian, orang yang bersin sebaiknya mengucapkan hamdalah secara wajar dan tidak mengeraskan suara hingga mengganggu jemaah lain. Tujuan salat tetap perlu dijaga, yakni beribadah dengan tertib dan khusyuk. Jika bersin terjadi berulang kali, seseorang dapat tetap berusaha menjaga konsentrasi tanpa perlu mencemaskan setiap gerakan tubuh yang tidak disengaja.
Baca juga: Santri Tak Harus Jadi Ustaz, Kenali Potensi untuk Memilih Karier
Dalam adab sehari-hari, orang yang mendengar hamdalah setelah seseorang bersin dianjurkan menjawab dengan “Yarhamukallah”, yang berarti “Semoga Allah merahmatimu”. Namun, ketentuan ini tidak bisa diterapkan begitu saja ketika orang yang mendengar sedang melaksanakan salat.
Nahdlatul Ulama menerangkan bahwa ucapan yang ditujukan kepada orang lain perlu dibedakan dari zikir untuk diri sendiri. Karena itu, jemaah yang sedang salat sebaiknya tidak menyela bacaannya untuk menjawab bersin orang lain. Adapun orang yang berada di luar salat dapat menjalankan adab tersebut sesuai tuntunan hadis.
Bersin merupakan reaksi tubuh yang bisa terjadi tanpa direncanakan. Jika mengalaminya saat salat, seseorang tidak perlu menghentikan ibadah hanya karena bersin atau menganggap dirinya melakukan kesalahan. Ia dapat mengucapkan Alhamdulillah, kemudian melanjutkan salat dengan tenang.
Baca juga: 200 Ucapan Pernikahan Islami Penuh Doa dan Makna
Memahami ketentuan ini membantu umat Islam membedakan zikir yang dibolehkan dari percakapan yang tidak sesuai dengan salat. Dengan demikian, ibadah tetap berjalan tertib, adab bersin tetap terjaga, dan perhatian tidak teralihkan oleh keraguan yang sebenarnya dapat dijelaskan melalui fikih.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.