KOMPAS.com - Melihat orang lain memperoleh pekerjaan yang diinginkan, memiliki harta berlimpah, atau meraih pencapaian tertentu terkadang memunculkan rasa iri. Perasaan itu manusiawi, tetapi perlu dikenali agar tidak berkembang menjadi hasad atau dengki yang membuat seseorang berharap nikmat orang lain hilang.
Dalam Islam, seorang Muslim dianjurkan menjaga hati ketika menyaksikan kelebihan yang dimiliki orang lain. Caranya bukan dengan menyangkal perasaan yang muncul, melainkan mengarahkannya menjadi dorongan untuk memperbaiki diri, bersyukur atas nikmat sendiri, dan memohon karunia Allah SWT tanpa merendahkan sesama.
Hasad umumnya merujuk pada perasaan tidak senang terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang. Perasaan ini dapat muncul dalam berbagai keadaan, mulai dari urusan pekerjaan, pendidikan, harta, hingga kehidupan keluarga.
Baca juga: Muhammadiyah Haramkan Rokok, Mas’udi Dorong Pengawasan dan Sanksi di Kampus
Keinginan untuk memperoleh keberhasilan serupa tidak selalu berarti hasad. Seseorang dapat menjadikan pencapaian orang lain sebagai inspirasi untuk belajar dan berusaha, selama tidak berharap orang tersebut kehilangan kelebihannya. Perbedaan ini penting agar rasa ingin maju tidak berubah menjadi kedengkian.
Allah SWT mengingatkan umat Islam agar tidak iri terhadap kelebihan yang diberikan kepada sebagian orang. Peringatan tersebut tercantum dalam QS An-Nisa ayat 32:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ
Wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba‘ḍakum ‘alā ba‘ḍ.
Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS An-Nisa: 32).
Baca juga: Mars Hari Santri dan Ikrar Santri, Pengingat Perjuangan dan Janji untuk Negeri
Ayat ini selanjutnya mengingatkan bahwa setiap orang memperoleh bagian dari apa yang diusahakannya dan memerintahkan manusia memohon karunia Allah. Pesannya, perhatian tidak semestinya habis untuk membandingkan kehidupan dengan orang lain. Seorang Muslim dapat berusaha meraih kebaikan tanpa mempersoalkan mengapa orang lain mendapatkannya lebih dahulu.
Larangan hasad juga ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Iyyākum waẓ-ẓanna fa innaẓ-ẓanna akżabul-ḥadīṡ, wa lā taḥassasū wa lā tajassasū, wa lā tanāfasū wa lā taḥāsadū, wa lā tabāghaḍū wa lā tadābarū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikhwānan.
Artinya: “Jauhilah prasangka karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, jangan memata-matai, jangan saling bersaing secara tidak sehat, jangan saling mendengki, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Sahih Muslim 2563a).
Baca juga: Guru Besar UMP: Label Syariah Tak Cukup, Pengelolaan Dana Harus Transparan
Hadis ini menempatkan larangan dengki dalam rangkaian perilaku yang dapat merusak persaudaraan. Hasad bukan hanya persoalan perasaan pribadi, tetapi juga dapat mendorong seseorang meremehkan pencapaian, menyebarkan prasangka, atau memperlakukan orang lain secara buruk.
Saat rasa iri muncul, langkah pertama adalah menyadarinya tanpa membenarkan pikiran buruk yang mengikutinya. Misalnya, ketika melihat teman mendapat promosi pekerjaan, seseorang dapat mengakui kekecewaannya sendiri tanpa berharap temannya gagal. Kesadaran ini membantu mencegah perasaan sesaat berkembang menjadi kebencian.
Selanjutnya, ingat kembali nikmat yang telah dimiliki. Rasa syukur bukan berarti berhenti mengejar cita-cita, melainkan menyadari bahwa keberhasilan orang lain tidak menghapus nilai kehidupan sendiri. Dengan begitu, seseorang dapat tetap berusaha meningkatkan kemampuan tanpa menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran tunggal kebahagiaan.
Salah satu cara mengelola hasad adalah mengganti keinginan buruk dengan doa yang baik. Ketika melihat seseorang memperoleh rezeki atau keberhasilan, doakan agar nikmat tersebut membawa manfaat. Sikap ini membantu melatih hati agar tidak terus-menerus memandang kelebihan orang lain sebagai ancaman.
Baca juga: 200 Ucapan Pernikahan Islami Penuh Doa dan Makna
QS An-Nisa ayat 32 juga mengarahkan manusia untuk memohon karunia Allah. Karena itu, alih-alih sibuk mempertanyakan keberuntungan orang lain, seorang Muslim dapat meminta rezeki, ilmu, atau kesempatan yang baik bagi dirinya sendiri. Doa perlu disertai ikhtiar yang nyata, seperti belajar, bekerja dengan tekun, dan memperbaiki kekurangan.
Media sosial dapat mempertemukan seseorang dengan berbagai pencapaian orang lain dalam waktu singkat. Jika kebiasaan melihat unggahan tertentu terus memicu kecemasan atau rasa rendah diri, mengurangi waktu mengaksesnya dapat menjadi langkah yang membantu. Perlu diingat, unggahan biasanya hanya memperlihatkan sebagian pengalaman hidup seseorang, bukan keseluruhannya.
Pada akhirnya, menghindari hasad bukan berarti tidak boleh menginginkan kehidupan yang lebih baik. Kuncinya adalah menjaga agar keinginan tersebut tidak berubah menjadi harapan buruk bagi orang lain. Ketika rasa iri muncul, berhenti sejenak, syukuri nikmat yang ada, doakan kebaikan bagi sesama, lalu lanjutkan usaha sesuai kemampuan. Dengan cara itu, keberhasilan orang lain dapat menjadi inspirasi, bukan sumber kedengkian.
Baca juga: Nasihat Ulama tentang Pola Asuh: Kekerasan Bisa Membentuk Perilaku Kasar Anak
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.