Editor
KOMPAS.com — Perilaku kasar dan kebiasaan merundung pada anak perlu menjadi perhatian orang tua maupun pendidik.
Selain mengoreksi tindakan anak, orang dewasa perlu mengevaluasi pola pengasuhan dan contoh perilaku yang diberikan sehari-hari.
Alumni Azzahirul Falah Ploso, Shofi Mustajibullah, menjelaskan bahwa anak belajar dengan meniru lingkungan sekitarnya, termasuk dalam interaksi dengan orang tua dan guru.
Baca juga: 5 Cara Mendidik Anak agar Dekat dengan Al-Quran
Menurut Shofi, anak yang terbiasa menerima cacian atau mengalami kekerasan fisik dapat meniru tindakan tersebut ketika berhadapan dengan orang lain. Karena itu, pendidikan karakter perlu berjalan bersama keteladanan dari orang dewasa.
Dalam pandangan Islam, orang tua memiliki tanggung jawab membimbing anak mengelola emosi, membiasakan akhlak baik, serta menjauhi tindakan yang merugikan sesama.
Dikutip dari NU Online, Shofi merujuk pemikiran Ibnu Khaldun yang mengingatkan bahwa pendidikan dengan kekerasan dan paksaan dapat membahayakan perkembangan anak.
Dalam Tarikh Ibnu Khaldun, dijelaskan:
أنّ إرهاف الحدّ بالتّعليم مضرّ بالمتعلّم سيّما في أصاغر الولد لأنّه من سوء الملكة. ومن كان مرباه بالعسف والقهر من المتعلّمين أو المماليك أو الخدم سطا به القهر وضيّق عن النّفس في انبساطها وذهب بنشاطها ودعاه إلى الكسل وحمل على الكذب والخبث وهو التّظاهر بغير ما في ضميره خوفا من انبساط الأيدي بالقهر عليه وعلّمه المكر والخديعة لذلك وصارت له هذه عادة وخلقا وفسدت معاني الإنسانيّة الّتي له من حيث الاجتماع والتّمرّن وهي الحميّة والمدافعة عن نفسه ومنزله. وصار عيالا على غيره في ذلك بل وكسلت النّفس عن اكتساب الفضائل والخلق الجميل فانقبضت عن غايتها ومدى إنسانيّتها فارتكس وعاد في أسفل السّافلين
Artinya, “Bersikap keras dalam pendidikan justru membahayakan pelajar, terutama anak-anak di bawah umur, karena hal itu merupakan cerminan buruknya metode pembinaan. Siapa pun, baik pelajar, budak, maupun pelayan, yang dididik melalui paksaan dan kekerasan, maka kekerasan itu akan menguasainya, mempersempit keluasan jiwanya, menghilangkan semangatnya, mendorongnya pada kemalasan, serta membuatnya terbiasa berdusta dan berlaku licik. Ia menampilkan sesuatu yang berbeda dari isi hatinya karena takut menerima kekerasan. Keadaan itu mengajarinya tipu daya hingga menjadi kebiasaan dan tabiat. Akibatnya, rusaklah nilai-nilai kemanusiaan yang diperoleh melalui interaksi sosial dan penempaan diri, seperti harga diri serta kemampuan membela diri dan keluarganya. Ia menjadi bergantung kepada orang lain, sementara jiwanya enggan meraih keutamaan dan akhlak mulia, sehingga merosot dari tujuan kemanusiaannya.” (Tarikh Ibnu Khaldun, Beirut, Darul Fikri, 1981, Juz 1, halaman 743).
Baca juga: 5 Ruang Keteladanan Orangtua dalam Mendidik Anak di Era Digital
Menurut Shofi, penjelasan tersebut menjadi pengingat bahwa kepatuhan yang lahir dari rasa takut belum tentu menunjukkan tumbuhnya kesadaran untuk berbuat baik.
Anak dapat menyembunyikan perasaan atau berbohong untuk menghindari hukuman. Karena itu, pola pengasuhan perlu memberi ruang bagi anak untuk memahami kesalahan dan belajar memperbaikinya.
Shofi juga mengutip Ibnu Qayyim dalam Tuhfatul Maudud mengenai pengaruh kebiasaan masa kecil terhadap pembentukan karakter:
فإنَّه ينشأ على ما عوَّده المربِّي في صغره؛ من حَرَدٍ وغضب، ولجَاجٍ وعَجَلَةٍ، وخفَّةٍ مع هَوَاهُ، وطَيْشٍ وحدَّةٍ وجَشَعٍ، فيصعب عليه في كِبَرِه تلافي ذلك، وتصير هذه الأخلاقُ صفاتٍ وهيئاتٍ راسخةً له، فلو تحرَّز منها غاية التحرُّز، فَضَحَتْه - ولا بدَّ - يومًا مّا.
Artinya, “Seorang anak akan tumbuh dewasa di atas kebiasaan yang ditanamkan pendidiknya semasa kecil, seperti tabiat kasar, cepat marah, keras kepala, tergesa-gesa, memperturutkan hawa nafsu, ceroboh, temperamental, hingga tamak. Jika demikian, akan sulit baginya memperbaiki hal tersebut ketika dewasa. Akhlak-akhlak itu menjadi sifat dan karakter yang tertanam kuat. Bahkan, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dengan sangat hati-hati, tabiat tersebut akan terlihat suatu hari nanti.” (Tuhfatul Maudud, Beirut, Darul Ibnu Hazm, 2019, Juz 1, halaman 349).
Merujuk penjelasan itu, Shofi mengingatkan agar perilaku kasar anak tidak dibiarkan menjadi kebiasaan. Orang tua dan guru perlu memberikan bimbingan sejak dini sekaligus memperhatikan cara mereka sendiri merespons persoalan.
Dalam pendidikan akhlak, anak juga perlu dibimbing untuk mengelola kemarahan agar tidak melukai orang lain melalui ucapan maupun tindakan.
Shofi mengaitkannya dengan hadis Nabi Muhammad SAW:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لا تَغْضَبْ»، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لا تَغْضَبْ
Artinya, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Berilah aku nasihat.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah engkau marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, dan beliau tetap bersabda, ‘Janganlah engkau marah.’” (HR Bukhari).
Pesan tersebut menjadi landasan untuk membiasakan pengendalian diri. Dalam pengasuhan, orang dewasa perlu memberi contoh bagaimana menghadapi kemarahan tanpa mencaci, merendahkan, atau menyakiti.
Shofi turut merujuk pemikiran Ibnu Misykawih dalam Tahdzibul Akhlaq. Ia menjelaskan bahwa watak perlu dididik dan diarahkan agar anak terbiasa menjalankan perbuatan baik.
وإذا أهملت الطباع ولم ترض بالتأديب والتقويم نشأ كل إنسان على رسوم طباعه وبقي عمره كله على الحال التي كان عليها في الطفولية وتبع ما وافقه في الطبع أما الغضب وأما اللذة وأما الزعارة وأما الشره وأما غير ذلك من الطباع المذمومة والشريعة هي التي تقوم الأحداث وتعودهم الأفعال المرضية وتعد نفوسهم لقبول الحكمة وطلب الفضائل والبلوغ إلى السعادة الإنسية بالفكر الصحيح والقياس المستقيم وعلى الوالدين أخذهم بها وسائر الآداب الجميلة بضروب السياسات من الضروب إذا دعت إليه الحاجة أو التوبيخات أن صدتهم أو الأطماع في الكرامات أو غيرها مما يميلون إليه من الراحات أو يحذرونه من العقوبات. حتى إذا تعودوا ذلك واستمروا عليه مدة من الزمان كثيرة أمكن فيهم حينئذ أن يعلموا برهين ما أخذوه تقليدا وينبهوا على طرق الفضائل وإكتسابها والبلوغ إلى غاياتها بهذه الصناعة التي نحن بصددها
Artinya, “Jika watak dibiarkan tanpa dididik dan diluruskan, manusia akan tumbuh mengikuti tabiatnya dan menjalani hidup sebagaimana keadaannya pada masa kanak-kanak. Ia mengikuti kecenderungannya, baik berupa amarah, kesenangan, perangai buruk, ketamakan, maupun sifat tercela lainnya.
Syariat meluruskan anak-anak, membiasakan mereka melakukan perbuatan yang diridai, serta menyiapkan jiwa mereka untuk menerima hikmah, mencari keutamaan, dan mencapai kebahagiaan manusiawi melalui pemikiran yang benar dan penalaran yang lurus.
Orang tua berkewajiban membimbing mereka dengan syariat dan adab yang baik melalui berbagai cara pendidikan. Dalam uraian tersebut disebutkan pukulan apabila dianggap diperlukan, teguran apabila dapat mencegah, dorongan berupa penghargaan, maupun bentuk kesenangan dan hukuman lainnya. Setelah anak terbiasa menjalankannya dalam waktu yang lama, mereka dapat dibimbing memahami alasan dari hal-hal yang sebelumnya dilakukan dengan mengikuti teladan, serta mengenali jalan untuk memperoleh keutamaan.” (Tahdzibul Akhlaq, Iran, Mushawaratul Khuza’i, 2012, halaman 269).
Dalam konteks pengasuhan yang dibahasnya, Shofi menekankan perlunya beralih dari metode paksaan menuju pendekatan yang mengedepankan keteladanan.
Pendidikan agama, menurut dia, perlu hadir dalam kebiasaan sehari-hari, seperti menjaga ucapan, mengendalikan emosi, tidak berbuat zalim, dan menghormati orang lain.
Dengan demikian, anak tidak hanya mengetahui larangan menyakiti sesama, tetapi juga belajar mempraktikkan sikap tersebut dari lingkungan terdekatnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.