Editor
KOMPAS.com — Menjelang hari santri 22 Oktober 2026, banyak yang bertanya bagaimana kehidupan santri?
Rupanya, belajar di pesantren tidak selalu berarti tinggal di asrama. Dalam tradisi pendidikan pesantren, dikenal istilah santri mukim dan santri kalong yang dibedakan berdasarkan tempat tinggal selama menuntut ilmu.
Santri mukim belajar sekaligus menetap di pesantren. Sementara itu, santri kalong datang untuk mengikuti pembelajaran, kemudian kembali ke rumah masing-masing.
Dilansir dari laman Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, yang mengutip penjelasan Zamakhsyari Dhofier, santri mukim umumnya berasal dari daerah jauh dan tinggal di lingkungan pesantren.
Adapun santri kalong berasal dari wilayah sekitar dan pulang setelah mengikuti pelajaran.
Baca juga: Tema Hari Santri 2026 dan Panduan Peringatannya, dari Upacara hingga Kegiatan Pesantren
Berikut pengertian dan perbedaan santri mukim serta santri kalong.
Santri mukim adalah pelajar yang mendalami ilmu agama sekaligus tinggal di pesantren.
Dikutip dari NU Online, sebutan mukim digunakan bagi pelajar yang mengaji dan menetap di pesantren.
Pesantren menjadi tempat belajar sekaligus tempat tinggal selama santri menjalani pendidikan.
Sedangkan pondok merupakan asrama pendidikan Islam tempat santri tinggal di bawah bimbingan kiai.
Pondok menjadi bagian dari lingkungan pendidikan pesantren, bersama unsur lain seperti masjid dan pengajaran kitab.
Baca juga: Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi
Santri kalong adalah santri yang mengikuti pembelajaran di pesantren, tetapi tidak menetap di dalamnya.
Mereka datang dari rumah untuk mengaji, kemudian pulang setelah kegiatan selesai.
Dikutip dari NU Online Lampung, santri kalong juga disebut sebagai santri nonmukim.
Perbedaannya dengan santri mukim terletak pada tempat tinggal, sedangkan keduanya sama-sama mengikuti pembelajaran agama.
Gambaran praktik tersebut dapat ditemukan dalam sejarah Pesantren Al-Hikmah di Semarang.
Dalam artikel Pesantren Al-Hikmah Penggaron, Konsisten Penghafalan Al-Qur'an, yang diterbitkan pada 9 Agustus 2011, pada 1988 santri yang tinggal di asrama mengaji bersama santri dari kampung sekitar.
Santri yang tidak menetap tersebut datang ke pondok selepas sholat Ashar untuk mengikuti pengajian. Mereka disebut sebagai santri kalong.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa santri kalong tidak harus dipahami sebagai santri yang hanya datang pada malam hari. Di pesantren tersebut, mereka mengikuti pengajian sejak sore.
Perbedaan utama santri mukim dan santri kalong terletak pada tempat tinggal selama menempuh pendidikan.
Santri mukim menetap di pondok atau asrama sehingga pesantren menjadi tempat belajar sekaligus tempat tinggal.
Adapun santri kalong tinggal di rumah masing-masing dan datang ke pesantren untuk mengikuti pembelajaran, kemudian pulang setelah kegiatan selesai.
Santri mukim umumnya berasal dari daerah yang jauh, sedangkan santri kalong berasal dari wilayah sekitar pesantren.
Meski memiliki pola tinggal yang berbeda, keduanya sama-sama mendalami ilmu agama.
Pembagian tersebut menjelaskan pola tinggal dan belajar, bukan tingkatan kemampuan atau penguasaan ilmu agama.
Kesetaraan peran santri mukim dan santri kalong juga disampaikan KH Masruhin Abdul Majid, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jakarta.
“Santri baik yang mukim atau pulang pergi tetap punya peran yang sama dan setara,” tuturnya, dikutip dari NU Online Jakarta, Jumat (18/10/2024).
Menurut Masruhin, keduanya memiliki komitmen untuk mendalami agama. Ia juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun masyarakat yang ramah dan beradab.
Keberadaan santri mukim dan santri kalong memperlihatkan bahwa pembelajaran di pesantren dapat menjangkau pelajar yang tinggal di asrama maupun masyarakat yang datang dari rumah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.