Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Santri Mukim dan Santri Kalong, Apa Perbedaannya?

Kompas.com, 21 Oktober 2026, 10:43 WIB
Reni Susanti

Editor


KOMPAS.com — Menjelang hari santri 22 Oktober 2026, banyak yang bertanya bagaimana kehidupan santri?

Rupanya, belajar di pesantren tidak selalu berarti tinggal di asrama. Dalam tradisi pendidikan pesantren, dikenal istilah santri mukim dan santri kalong yang dibedakan berdasarkan tempat tinggal selama menuntut ilmu.

Santri mukim belajar sekaligus menetap di pesantren. Sementara itu, santri kalong datang untuk mengikuti pembelajaran, kemudian kembali ke rumah masing-masing.

Dilansir dari laman Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Riau, yang mengutip penjelasan Zamakhsyari Dhofier, santri mukim umumnya berasal dari daerah jauh dan tinggal di lingkungan pesantren.

Adapun santri kalong berasal dari wilayah sekitar dan pulang setelah mengikuti pelajaran.

Baca juga: Tema Hari Santri 2026 dan Panduan Peringatannya, dari Upacara hingga Kegiatan Pesantren

Berikut pengertian dan perbedaan santri mukim serta santri kalong.

Apa itu santri mukim?

Santri mukim adalah pelajar yang mendalami ilmu agama sekaligus tinggal di pesantren.

Dikutip dari NU Online, sebutan mukim digunakan bagi pelajar yang mengaji dan menetap di pesantren.

Pesantren menjadi tempat belajar sekaligus tempat tinggal selama santri menjalani pendidikan.

Sedangkan pondok merupakan asrama pendidikan Islam tempat santri tinggal di bawah bimbingan kiai.

Pondok menjadi bagian dari lingkungan pendidikan pesantren, bersama unsur lain seperti masjid dan pengajaran kitab.

Baca juga: Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi

Apa itu santri kalong?

Santri kalong adalah santri yang mengikuti pembelajaran di pesantren, tetapi tidak menetap di dalamnya.

Mereka datang dari rumah untuk mengaji, kemudian pulang setelah kegiatan selesai.

Dikutip dari NU Online Lampung, santri kalong juga disebut sebagai santri nonmukim.

Perbedaannya dengan santri mukim terletak pada tempat tinggal, sedangkan keduanya sama-sama mengikuti pembelajaran agama.

Gambaran praktik tersebut dapat ditemukan dalam sejarah Pesantren Al-Hikmah di Semarang.

Dalam artikel Pesantren Al-Hikmah Penggaron, Konsisten Penghafalan Al-Qur'an, yang diterbitkan pada 9 Agustus 2011, pada 1988 santri yang tinggal di asrama mengaji bersama santri dari kampung sekitar.

Santri yang tidak menetap tersebut datang ke pondok selepas sholat Ashar untuk mengikuti pengajian. Mereka disebut sebagai santri kalong.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa santri kalong tidak harus dipahami sebagai santri yang hanya datang pada malam hari. Di pesantren tersebut, mereka mengikuti pengajian sejak sore.

Perbedaan santri mukim dan santri kalong

Perbedaan utama santri mukim dan santri kalong terletak pada tempat tinggal selama menempuh pendidikan.

Santri mukim menetap di pondok atau asrama sehingga pesantren menjadi tempat belajar sekaligus tempat tinggal.

Adapun santri kalong tinggal di rumah masing-masing dan datang ke pesantren untuk mengikuti pembelajaran, kemudian pulang setelah kegiatan selesai.

Santri mukim umumnya berasal dari daerah yang jauh, sedangkan santri kalong berasal dari wilayah sekitar pesantren.

Meski memiliki pola tinggal yang berbeda, keduanya sama-sama mendalami ilmu agama.

Pembagian tersebut menjelaskan pola tinggal dan belajar, bukan tingkatan kemampuan atau penguasaan ilmu agama.

Sama-sama memiliki peran dalam masyarakat

Kesetaraan peran santri mukim dan santri kalong juga disampaikan KH Masruhin Abdul Majid, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jakarta.

“Santri baik yang mukim atau pulang pergi tetap punya peran yang sama dan setara,” tuturnya, dikutip dari NU Online Jakarta, Jumat (18/10/2024).

Menurut Masruhin, keduanya memiliki komitmen untuk mendalami agama. Ia juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun masyarakat yang ramah dan beradab.

Keberadaan santri mukim dan santri kalong memperlihatkan bahwa pembelajaran di pesantren dapat menjangkau pelajar yang tinggal di asrama maupun masyarakat yang datang dari rumah.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Sertifikasi Halal Diundur hingga 2028, MUI Pertanyakan Kesiapan Ekosistem
Sertifikasi Halal Diundur hingga 2028, MUI Pertanyakan Kesiapan Ekosistem
Aktual
Mengenal Santri Mukim dan Santri Kalong, Apa Perbedaannya?
Mengenal Santri Mukim dan Santri Kalong, Apa Perbedaannya?
Aktual
15 Ide Kegiatan Hari Santri 2026 yang Seru dan Bermakna, dari Lomba hingga Aksi Sosial
15 Ide Kegiatan Hari Santri 2026 yang Seru dan Bermakna, dari Lomba hingga Aksi Sosial
Aktual
Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi
Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi
Aktual
Hari Santri 22 Oktober 2026 Apakah Libur? Ini Ketentuan dan Maknanya
Hari Santri 22 Oktober 2026 Apakah Libur? Ini Ketentuan dan Maknanya
Aktual
Tema Hari Santri 2026 dan Panduan Peringatannya, dari Upacara hingga Kegiatan Pesantren
Tema Hari Santri 2026 dan Panduan Peringatannya, dari Upacara hingga Kegiatan Pesantren
Aktual
Frugal Living dalam Ajaran Konghucu, 4 Cara Menjaga Keuangan Keluarga
Frugal Living dalam Ajaran Konghucu, 4 Cara Menjaga Keuangan Keluarga
Aktual
Kemenag: Biaya Nikah di Luar KUA Harus Sesuai Tarif Resmi
Kemenag: Biaya Nikah di Luar KUA Harus Sesuai Tarif Resmi
Aktual
Model Gamis Simple tapi Mewah, Elegan dan Modern
Model Gamis Simple tapi Mewah, Elegan dan Modern
Aktual
30 Ucapan Hari Santri 2026 Singkat dan Penuh Doa untuk WhatsApp dan Instagram
30 Ucapan Hari Santri 2026 Singkat dan Penuh Doa untuk WhatsApp dan Instagram
Aktual
8 Warna Jilbab untuk Gamis Pink, Manis dan Elegan
8 Warna Jilbab untuk Gamis Pink, Manis dan Elegan
Aktual
Contoh Teks MC Hari Santri 2026, Lengkap dari Pembukaan hingga Penutup
Contoh Teks MC Hari Santri 2026, Lengkap dari Pembukaan hingga Penutup
Aktual
PP Muhammadiyah Keluarkan Pernyataan Resmi soal Karhutla, Desak Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
PP Muhammadiyah Keluarkan Pernyataan Resmi soal Karhutla, Desak Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Aktual
5 Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026, Singkat dan Lengkap
5 Contoh Teks Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026, Singkat dan Lengkap
Aktual
10 Teks Pidato Hari Santri 2026 Lengkap dengan Dalil Al-Qur’an
10 Teks Pidato Hari Santri 2026 Lengkap dengan Dalil Al-Qur’an
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar