KOMPAS.com - Surat Ad-Dhuha menyampaikan pesan penghiburan ketika seseorang merasa sendiri, kehilangan harapan, atau menghadapi masa sulit.
Melalui ayat ketiganya, Allah SWT menegaskan bahwa Dia tidak meninggalkan Nabi Muhammad SAW dan tidak pula membencinya.
Pesan tersebut berangkat dari konteks turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW, tetapi kandungan surah ini juga mengajak umat Islam mengambil pelajaran tentang harapan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama.
Surat Ad-Dhuha tidak hanya menguatkan hati, tetapi juga menunjukkan bagaimana keyakinan kepada Allah diwujudkan melalui tindakan.
Surat Ad-Dhuha merupakan surah ke-93 dalam Al-Qur’an dan terdiri dari 11 ayat. Pada awal surah, Allah bersumpah demi waktu duha dan malam ketika sunyi sebelum menyampaikan penegasan bahwa Dia tidak meninggalkan Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: 7 Contoh Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026, Singkat dan Bermakna
Allah SWT berfirman dalam surah Ad-Duha ayat 1-3:
وَالضُّحَىٰ ١ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ٢ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ٣
Wadh-dhuha. Wal-laili idza saja. Ma wadda'aka rabbuka wa ma qala.
Artinya: “Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu.” (QS Ad-Duha: 1-3).
Ayat-ayat pembuka ini berkaitan dengan masa terhentinya wahyu yang kemudian memunculkan ejekan terhadap Rasulullah SAW. Allah menegaskan bahwa jeda tersebut bukan tanda kebencian atau ditinggalkannya Nabi.
Baca juga: DSN MUI Soroti Peluang Pasar Modal Syariah, Transparansi Jadi Kunci
Riwayat dalam Sahih al-Bukhari nomor 4983 yang disampaikan Jundub RA menceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW sempat sakit dan tidak melaksanakan salat malam selama satu atau dua malam.
Seorang perempuan kemudian melontarkan perkataan bahwa setan yang menyertai Nabi telah meninggalkannya. Setelah itu, turunlah ayat-ayat awal surah Ad-Duha.
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ سَمِعْتُ جُنْدَبًا، يَقُولُ اشْتَكَى النَّبِيُّ ﷺ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَةً أَوْ لَيْلَتَيْنِ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا مُحَمَّدُ مَا أُرَى شَيْطَانَكَ إِلَّا قَدْ تَرَكَكَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى.
Haddatsanā Abū Nu‘aim, haddatsanā Sufyān, ‘anil-Aswadi bin Qais, qāla sami‘tu Junduban yaqūlu: Isytakan-nabiyyu ﷺ fa lam yaqum lailatan aw lailataini, fa atathu imra’atun fa qālat: Yā Muhammad, mā arā syaithānaka illā qad tarakak. Fa anzalallāhu ‘azza wa jalla: Wadh-dhuḥā, wal-laili idzā sajā, mā wadda‘aka rabbuka wa mā qalā.
Baca juga: Mengenal Santri Mukim dan Santri Kalong, Apa Perbedaannya?
Artinya: Jundub RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah sakit sehingga tidak melaksanakan salat malam selama satu atau dua malam. Seorang perempuan kemudian datang dan berkata, “Wahai Muhammad, aku melihat setanmu telah meninggalkanmu.” Setelah itu, Allah SWT menurunkan ayat: “Demi waktu duha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak pula membencimu.”
Riwayat tersebut membantu menjelaskan konteks pesan surah ini. Namun, penghiburan yang disampaikan Al-Qur’an bukan berarti setiap kesulitan manusia memiliki sebab atau makna yang sama dengan pengalaman Rasulullah SAW.
Pelajaran utamanya ialah bahwa keadaan sulit tidak bisa langsung dijadikan bukti bahwa Allah membenci seseorang.
Pesan pengharapan berlanjut dalam surah Ad-Duha ayat 4-5. Allah SWT berfirman:
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ ٤ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ ٥
Wa lal-akhiratu khairul laka minal-ula. Wa lasaufa yu'thika rabbuka fatardha
Artinya: “Dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.” (QS Ad-Duha: 4-5).
Baca juga: Sertifikasi Halal Diundur hingga 2028, MUI Pertanyakan Kesiapan Ekosistem
Ayat ini memberikan harapan tentang kebaikan yang Allah janjikan kepada Rasulullah SAW.
Bagi umat Islam, pesan tersebut dapat menjadi pengingat agar tidak menilai seluruh perjalanan hidup hanya berdasarkan kesulitan yang sedang dialami.
Meski demikian, ayat ini bukan jaminan bahwa setiap keinginan duniawi akan segera terwujud sesuai harapan.
Allah kemudian mengingatkan Rasulullah SAW tentang pertolongan yang telah diterimanya.
Dalam surat Ad-Dhuha ayat 6-8, Allah menyebut keadaan Nabi sebagai anak yatim yang mendapat perlindungan, memperoleh petunjuk, serta diberikan kecukupan setelah sebelumnya berada dalam kekurangan.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
Alam yajidka yatīman fa āwā, wa wajadaka ḍāllan fa hadā, wa wajadaka ‘ā’ilan fa aghnā.
Artinya: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu). Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS Ad-Duha: 6–8)
Baca juga: Link Unduh Naskah Khutbah Jumat Hari Santri 2026 dari Kemenag, Tersedia 2 Versi
Pengingat tersebut mengajarkan pentingnya melihat kembali nikmat yang pernah diterima, terutama ketika menghadapi masa sulit.
Mengingat pertolongan Allah bukan berarti menyangkal kesedihan atau mengabaikan masalah, melainkan menjaga agar kesulitan saat ini tidak membuat seseorang melupakan seluruh kebaikan yang telah hadir dalam hidupnya.
Surah Ad-Duha tidak berhenti pada penguatan batin. Dalam ayat 9-10, Allah SWT memerintahkan agar anak yatim tidak diperlakukan sewenang-wenang dan orang yang meminta-minta tidak dihardik.
Ayat 11 kemudian mengingatkan manusia untuk menyatakan nikmat dari Tuhannya.
وَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ٩ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ ١٠ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ١١
Fa ammal-yatima fala taqhar. Wa ammas-sa'ila fala tanhar. Wa amma bini'mati rabbika fahaddits
Baca juga: Hari Santri 22 Oktober 2026 Apakah Libur? Ini Ketentuan dan Maknanya
Artinya: “Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah engkau menghardik. Dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS Ad-Duha: 9-11).
Rangkaian ayat ini menghubungkan rasa syukur dengan perilaku nyata. Kepedulian kepada anak yatim, sikap santun kepada orang yang membutuhkan, dan kesediaan berbagi menjadi cara mengamalkan pesan surah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ketidakpastian, seorang Muslim dapat menjadikan surah Ad-Duha sebagai pengingat untuk menjaga harapan tanpa menyangkal kenyataan.
Berdoa, berusaha mencari jalan keluar, dan meminta dukungan orang tepercaya tetap menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi masalah.
Pada saat yang sama, pesan surah ini mengajak umat Islam untuk tidak membiarkan kesulitan membuat mereka kehilangan empati.
Mengingat nikmat Allah sepatutnya mendorong seseorang memperlakukan orang lain dengan baik, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.
Baca juga: Frugal Living dalam Ajaran Konghucu, 4 Cara Menjaga Keuangan Keluarga
Surat Ad-Dhuha mengajarkan bahwa pengharapan kepada Allah tidak berhenti pada perasaan tenang.
Keyakinan tersebut perlu tercermin dalam rasa syukur, ketekunan menjalani kehidupan, serta kepedulian terhadap sesama.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.