KOMPAS.com - Abu Musa Al-Asy'ari merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal karena bacaan Al-Qurannya. Rasulullah secara khusus memuji suara Abu Musa ketika membaca kitab suci, sebagaimana tercatat dalam Sahih al-Bukhari.
Pujian tersebut menjadi salah satu riwayat yang mengabadikan keistimewaan Abu Musa.
Selain dikenal sebagai pembaca Al-Qur'an, ia juga tercatat dalam kitab biografi sahabat sebagai tokoh yang mendampingi perjalanan awal umat Islam dan memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Muslim setelah Rasulullah wafat.
Dalam At-Ṭabaqāt al-Kubrā, Ibnu Sa'd mencatat Abu Musa Al-Asy'ari dengan nama Abdullah bin Qais. Ia berasal dari kabilah Al-Asy'ari di Yaman.
Baca juga: 7 Contoh Amanat Pembina Upacara Hari Santri 2026, Singkat dan Bermakna
Abu Musa termasuk sahabat yang datang menemui Rasulullah di Madinah bersama sejumlah orang dari kaumnya.
Kedatangan mereka tercatat dalam riwayat biografi sahabat yang dihimpun Ibnu Sa'd. Sejak itu, Abu Musa menjadi bagian dari komunitas Muslim yang tumbuh di sekitar Rasulullah.
Pujian Rasulullah terhadap bacaan Abu Musa tercatat dalam Sahih al-Bukhari 5048. Hadis yang diriwayatkan dari Abu Musa itu memuat sabda Nabi sebagai berikut:
يَا أَبَا مُوسَى لَقَدْ أُوتِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ
Yā Abā Mūsā, laqad ūtīta mizmāran min mazāmīri āli Dāwūd.
Artinya: “Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberi suara merdu seperti salah satu suara merdu keluarga Dawud.” (HR. Sahih al-Bukhari 5048).
Baca juga: DSN MUI Soroti Peluang Pasar Modal Syariah, Transparansi Jadi Kunci
Ungkapan tersebut merupakan pujian Rasulullah terhadap keindahan suara Abu Musa ketika membaca Al-Qur'an.
Perumpamaan dengan keluarga Nabi Dawud merujuk pada kemerduan suara, bukan berarti bacaan Abu Musa merupakan bagian dari kitab atau wahyu yang diterima Nabi Dawud.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kemerduan suara saat membaca Al-Qur'an mendapat perhatian dalam tradisi Islam.
Bacaan yang indah dapat membantu pendengar menyimak ayat-ayat yang dilantunkan.
Namun, keindahan suara tidak menggantikan ketepatan pelafalan dan penghormatan terhadap isi Al-Quran.
Baca juga: Rais Syuriah PBNU Dorong Edukasi Seks dan Kesehatan Mental bagi Ibu Nyai
Riwayat tentang Abu Musa juga tidak menjelaskan teknik vokal tertentu yang digunakannya.
Karena itu, kisah ini lebih tepat dipahami sebagai pengakuan Rasulullah atas keistimewaan bacaan seorang sahabat, bukan sebagai dasar untuk menetapkan satu gaya membaca yang wajib diikuti semua Muslim.
Catatan biografi Ibnu Sa'd tidak hanya merekam keistimewaan Abu Musa dalam membaca Al-Qur'an. Ia juga mencatat keterlibatannya dalam perjalanan umat Islam pada masa Rasulullah dan periode setelah beliau wafat.
Baca juga: Mengenal Santri Mukim dan Santri Kalong, Apa Perbedaannya?
Abu Musa kemudian dikenal dalam sejarah sebagai tokoh yang menjalankan tanggung jawab publik.
Keterangan mengenai perannya sebagai pejabat dan keterlibatannya dalam peristiwa politik pada masa awal kekhalifahan menunjukkan bahwa kehidupannya tidak terbatas pada bidang bacaan Al-Quran.
Meski demikian, peran tersebut perlu dibaca dalam konteks sejarahnya sendiri, terpisah dari hadis yang secara khusus memuji suaranya.
Kisah Abu Musa mengingatkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan baik merupakan kemampuan yang mendapat penghargaan dalam Islam.
Rasulullah sendiri memuji keindahan suaranya, sebagaimana tercatat dalam hadis sahih.
Namun, riwayat ini tidak semata-mata mengajarkan pentingnya suara merdu. Bacaan Al-Quran tetap perlu dijaga ketepatan dan adabnya.
Kisah Abu Musa pun dapat menjadi dorongan bagi umat Islam untuk memperbaiki bacaan, mempelajari Al-Qur'an, dan menghargai keindahan lantunannya tanpa mengabaikan makna yang terkandung di dalamnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.