Editor
KOMPAS.com - Johan Machmoed Tjaja merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II pada 1928, yang melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.
Ia mewakili Jong Islamieten Bond (JIB), organisasi pemuda Islam yang turut membangun persatuan dengan berbagai perkumpulan pemuda di Hindia Belanda.
Keterlibatannya dalam Kongres Pemuda II menjadi bagian dari sejarah peran organisasi pemuda Islam dalam memperjuangkan persatuan Indonesia.
Baca juga: Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Jejak Santri dalam Sejarah Persatuan Indonesia
Mengutip unggahan Instagram Museum Sumpah Pemuda, Johan Machmoed Tjaja lahir di Bengkulu pada 4 Mei 1902.
Ia merupakan putra asli Bengkulu dari ayah bernama Mahmoed Tjaja, seorang pegawai penilik sekolah pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Baca juga: 2 Link Logo Hari Sumpah Pemuda 2026 Resmi, serta Makna dan Temanya
Setelah lulus dari AMS Bukittinggi, Johan merantau ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool, yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, karena memiliki minat besar terhadap bidang hukum, ia memutuskan pindah ke Rechtsschool atau sekolah hukum di Batavia.
Johan kemudian aktif dalam pergerakan pemuda Islam dan dipercaya menjadi Ketua Jong Islamieten Bond cabang Batavia.
Namanya tercatat dalam kepanitiaan Kongres Pemuda II, meskipun terdapat perbedaan penulisan nama dalam sejumlah catatan sejarah.
Namanya tercatat sebagai Djohan Mohammad Tjaja dalam catatan kepanitiaan Kongres Pemuda II.
Namun, setelah dikonfirmasi langsung kepada pihak keluarga, nama yang sebenarnya adalah Johan Machmoed Tjaja.
Sepanjang hidupnya, Johan menekuni berbagai profesi, mulai dari guru, advokat, pegawai Biro Statistik, hingga Kepala Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Jakarta-Palembang. Ia wafat di Jakarta pada 24 April 1970.
Membahas Sumpah pemuda dan sosok Johan Machmoed Tjaja, tidak akan lepas dengan peran Jong Islamieten Bond atau JIB.
Jong Islamieten Bond merupakan organisasi perhimpunan pemuda dan pelajar Islam di Hindia Belanda. Organisasi ini didirikan oleh Sjamsuridjal di Batavia pada 1 Januari 1925.
Dalam buku Jong Islamieten Bond dan Cendekiawan Muslim di Indonesia (1991), Masruri dan Siswanto membahas JIB sebagai bagian dari perkembangan gerakan pemuda dan cendekiawan Muslim di Indonesia.
JIB memiliki dua tujuan utama, yakni mempelajari agama Islam dan menganjurkan agar ajaran-ajarannya diamalkan serta menumbuhkan simpati terhadap Islam dan pemeluknya. Organisasi ini juga mendorong toleransi positif terhadap orang-orang yang berbeda agama.
Untuk mencapai tujuan tersebut, JIB menjalankan berbagai kegiatan di bidang penerbitan, pendidikan agama, kepanduan, dan kewanitaan.
Kegiatan-kegiatan itu menjadi sarana bagi pemuda Islam untuk memperdalam pengetahuan agama sekaligus berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
JIB menerbitkan majalah An-Nur atau Het Licht yang mulai diedarkan secara umum pada Maret 1925. Organisasi ini juga mengadakan kursus dan ceramah tentang agama Islam yang dibawakan tokoh sentralnya, H. Agus Salim.
Di bidang kewanitaan, JIB membentuk Jong Islamieten Bond Dames Afdeling (JIBDA), organisasi yang berfokus pada kegiatan perempuan. JIBDA turut memperjuangkan persoalan kewanitaan melalui forum nasional.
Melalui kegiatan tersebut, JIB berupaya memperkuat pemahaman keislaman, mengembangkan pendidikan, serta memperluas keterlibatan pemuda Islam dalam kehidupan masyarakat dan pergerakan nasional.
Keterlibatan JIB dalam gerakan persatuan pemuda terlihat sejak Kongres Pemuda I yang berlangsung pada 30 April hingga 2 Mei 1926.
Dalam buku Jong Islamieten Bond: Pergerakan Pemuda Islam 1925-1942 (2006), Momon Abdul Rahman dkk. mencatat keikutsertaan JIB dalam kongres tersebut. JIB diwakili oleh Emma Poeradiredja, Ketua JIB Dames Afdeling cabang Bandung.
Kehadiran JIB menunjukkan komitmen organisasi tersebut untuk membangun kerja sama di antara berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar.
Upaya ini sejalan dengan tujuan Kongres Pemuda I untuk menggugah semangat kerja sama dan merumuskan dasar persatuan Indonesia di tengah keberagaman latar belakang daerah.
JIB juga menghadiri Konferensi Lanjutan atau Na-Conferentie yang berlangsung di Oost Java Bioscoop pada 15 Agustus 1926. Pertemuan tersebut merupakan kelanjutan Kongres Pemuda I dan dihadiri Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Ambonsche Studeerenden, serta panitia Kongres Pemuda I.
Keikutsertaan JIB dalam rangkaian pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses panjang menuju Kongres Pemuda II pada 1928.
Menjelang Kongres Pemuda II, para tokoh organisasi pemuda kembali mengadakan pertemuan pada 3 Mei dan 12 Agustus 1928. Pertemuan tersebut berlangsung di gedung Indonesische Clubhuis, Jalan Kramat 106, Weltevreden, Jakarta.
Sejumlah organisasi yang hadir antara lain Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, dan Pemuda Kaum Betawi.
Para peserta membahas pembentukan panitia, susunan acara, waktu, tempat, serta pembiayaan kongres. Mereka kemudian menyepakati penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 selama satu hari dua malam.
Dalam kepanitiaan tersebut, Johan Machmoed Tjaja dari Jong Islamieten Bond bertugas sebagai Pembantu I. Berikut susunan panitia Kongres Pemuda II:
Keterlibatan Johan dalam kepanitiaan tersebut memperlihatkan partisipasi JIB dalam persiapan kongres yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda. Mereka bekerja sama untuk memperkuat kesadaran kebangsaan dan merumuskan cita-cita persatuan Indonesia.
Kongres Pemuda II digagas oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), organisasi yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
Kongres ini bertujuan memperkuat rasa persatuan dan kebangsaan yang telah tumbuh di kalangan pemuda.
Kongres berlangsung pada 27-28 Oktober 1928 di tiga lokasi, yakni gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Nomor 106, Jakarta.
Biaya penyelenggaraannya ditanggung oleh organisasi-organisasi yang menghadiri kongres serta sumbangan sukarela.
Kongres Pemuda II menjadi momentum penting bagi berbagai organisasi pemuda untuk memperkuat kesepahaman mengenai identitas kebangsaan Indonesia. Pertemuan tersebut menghasilkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Ikrar yang diterima secara aklamasi oleh peserta kongres itu memuat tiga pernyataan utama:
Setelah kongres, seluruh peserta mendapat amanah dari pengurus Kongres Pemuda II untuk meminta pengesahan hasil kongres kepada organisasi masing-masing.
Keterlibatan Johan Machmoed Tjaja dalam kepanitiaan dan partisipasi Jong Islamieten Bond dalam pergerakan pemuda menunjukkan peran organisasi pemuda Islam dalam proses pembentukan kesadaran kebangsaan.
Melalui kerja sama lintas organisasi, Kongres Pemuda II menjadi tonggak penting dalam perjuangan menyatukan pemuda Indonesia dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.