Editor
KOMPAS.com — Kemudahan bersedekah melalui layanan digital perlu diiringi ketulusan niat dan cara memberi yang baik.
Mengungkit pemberian, menyakiti penerima, serta mengharapkan pujian merupakan perilaku yang perlu dihindari agar pahala sedekah tetap terjaga.
Hal tersebut dijelaskan Syifaul Qulub Amin, alumnus Pondok Pesantren (PP) Nurul Cholil, perumus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nurul Cholil, sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Putri Al-Masyhuriyah Kebonan, Bangkalan.
Baca juga: Tak Harus Menunggu Orang Tua Tiada, Ini Cara Berbakti Lewat Sedekah
Menurut Syifaul, perkembangan teknologi memungkinkan seseorang berinfak atau bersedekah tanpa hadir langsung di lokasi.
Masyarakat dapat menyalurkan bantuan melalui situs resmi maupun aplikasi penyedia layanan sedekah.
Namun, kemudahan tersebut perlu disertai perhatian terhadap niat dan perilaku pemberi.
Sedekah semestinya membawa manfaat bagi penerima sekaligus menjadi bekal kebaikan bagi orang yang memberikannya.
Syifaul menjelaskan, Surat Al-Baqarah ayat 264 memuat peringatan agar orang beriman tidak membatalkan pahala sedekah dengan mengungkit pemberian dan menyakiti penerima.
Ayat tersebut juga menyebut orang yang menginfakkan hartanya karena riya atau ingin mendapatkan pujian manusia.
Dalam penjelasannya, terdapat tiga perilaku yang perlu dijauhi ketika bersedekah, yakni menyebut-nyebut pemberian atau al-mann, menyakiti perasaan penerima atau al-adza, serta memamerkan amal atau riya.
Merujuk penafsiran Syekh Nawawi Banten dalam Marahul Labid li Kasyfi Ma’nal Qur’anil Majid, jilid I, halaman 98, Syifaul menjelaskan bahwa perilaku tersebut dapat menggugurkan pahala amal kebaikan.
Peringatan ini menunjukkan bahwa sedekah tidak hanya berkaitan dengan harta yang diberikan, tetapi juga ketulusan niat dan cara memperlakukan penerima.
Baca juga: Hukum Sedekah dari Uang Korupsi dalam Islam, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 264, orang yang berinfak karena riya diumpamakan seperti batu licin yang di atasnya terdapat debu. Ketika hujan lebat mengguyurnya, debu tersebut tersapu hingga menyisakan permukaan batu yang licin.
Syifaul menguraikan perumpamaan itu dengan merujuk Tafsir Al-Qurthubi, jilid III, halaman 312.
Tanah yang menutupi batu dapat terlihat seperti lahan subur. Namun, setelah tersiram hujan lebat, lapisan tanah itu hilang dan memperlihatkan batu yang tidak dapat ditanami.
Menurut penjelasan tersebut, demikian pula amal yang dilakukan karena ingin dipuji. Dari luar, perbuatan itu terlihat baik, tetapi niat di baliknya membuat amal tersebut kehilangan nilai pahala.
Mengungkit pemberian, menyakiti penerima, dan riya diibaratkan sebagai hal yang menyingkap hakikat niat seseorang, sebagaimana hujan menyingkap permukaan batu.
Dikutip dari NU Online, Syifaul mengaitkan peringatan tersebut dengan kebiasaan membagikan kegiatan sedekah di media sosial.
Menurut dia, publikasi amal perlu diwaspadai apabila justru mendorong seseorang mengharapkan pujian dan kehilangan ketulusan dalam memberi.
Banyaknya tanda suka maupun tanggapan positif dari pengguna media sosial tidak dapat dijadikan ukuran nilai suatu amal di sisi Allah SWT.
Karena itu, seseorang perlu menjaga agar perhatian terhadap respons orang lain tidak menggeser tujuan awal bersedekah.
Syifaul juga merujuk hadis riwayat Imam Ahmad yang dikutip dalam Tafsir Al-Baghawi, jilid I, halaman 326–327, tentang peringatan Rasulullah SAW terhadap riya.
Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyebut riya sebagai syirik kecil yang dikhawatirkan menimpa umatnya.
Hadis itu menggambarkan bahwa pada hari pembalasan, orang yang beramal karena pamer diperintahkan mencari balasan dari pihak-pihak yang dahulu mereka harapkan pujiannya di dunia.
Menurut Syifaul, peringatan tersebut mengajak umat Islam memeriksa kembali tujuan ketika melakukan kebaikan.
Amal yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia tidak memberikan pahala yang diharapkan di akhirat.
Ia menekankan pentingnya menjaga ketulusan hati, tidak mengungkit bantuan, serta menghormati perasaan penerima. Dengan demikian, sedekah dapat memberikan manfaat tanpa merendahkan orang yang dibantu.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.