Editor
KOMPAS.com - Merpati yang berkeliaran di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi kerap dikaitkan dengan berbagai mitos di kalangan jamaah haji dan umrah.
Dua di antaranya adalah anggapan bahwa merpati melakukan tawaf tujuh kali mengelilingi Ka'bah dan akan jatuh jika terbang di atasnya.
Lantas, bagaimana kebenaran mitos ini? Berikut penjelasannya, seperti dikutip dari laman Kemenag.
Baca juga: Merpati Masjidil Haram, Mengenal Sejarah, Asal-usul, dan Tradisi Merawatnya
Salah satu mitos yang berkembang menyebutkan bahwa merpati di sekitar Masjidil Haram terbang mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali, kemudian melanjutkan perjalanan hingga beberapa mil sebelum akhirnya mati.
Mitos serupa juga menyebutkan bahwa merpati yang berada di Madinah akan terbang terlebih dahulu ke Makkah untuk mengelilingi Ka'bah tujuh kali sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Baca juga: Tarif Kursi Roda dan Golf Cart di Masjidil Haram untuk Jemaah Haji 2026
Keberadaan ribuan merpati di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi membuat burung-burung tersebut mudah dijumpai jamaah.
Pengunjung dapat membeli pakan berupa beras merah dan jewawut dari pedagang di sekitar kawasan masjid, kemudian menebarkannya agar merpati mendekat.
Sebagian jamaah juga memanfaatkan kebiasaan merpati berkumpul untuk mengambil foto. Mereka menebarkan pakan, lalu membuat gerakan yang memicu burung-burung terbang serentak sehingga menghasilkan foto dengan latar kawanan merpati.
Namun, keberadaan merpati di kawasan dua masjid suci tidak membuktikan bahwa burung-burung tersebut melakukan tawaf sebagaimana manusia.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa seluruh makhluk di alam semesta bertasbih kepada Allah SWT. Dalam Surah Al-Anbiya ayat 79, Allah berfirman:
"Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum, dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya."
Surah Al-Isra ayat 44 juga menjelaskan:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh makhluk, termasuk burung merpati, bertasbih kepada Allah dengan cara yang tidak selalu dapat dipahami manusia.
Namun, tidak ada dasar dalam penjelasan tersebut untuk menyimpulkan bahwa merpati melakukan tawaf tujuh kali mengelilingi Ka'bah sebagaimana jamaah haji dan umrah.
Merpati yang hidup di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada dasarnya memiliki naluri sebagaimana burung merpati di tempat lain. Perilaku terbang dan berkumpulnya mengikuti insting serta kondisi lingkungan.
Ketersediaan makanan yang melimpah dari jamaah membuat kawasan dua masjid suci menjadi tempat yang mendukung kehidupan merpati. Bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya juga menyediakan tempat bersarang dan berlindung.
Selain itu, larangan berburu dan menangkap satwa di kawasan Tanah Haram turut mendukung keberlangsungan hidup merpati.
Bagi jamaah yang sedang berihram, menangkap atau membunuh hewan buruan merupakan perbuatan yang dilarang dan dapat mewajibkan pembayaran dam sesuai ketentuan fikih.
Kombinasi ketersediaan makanan, tempat berlindung, dan perlindungan terhadap satwa membuat populasi merpati di kawasan Haramain berkembang pesat.
Mitos lain menyebutkan bahwa merpati akan jatuh apabila terbang melintasi bagian atas Ka'bah. Namun, pengamatan langsung terhadap burung-burung di Masjidil Haram menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
Burung-burung dapat terbang melintasi Ka'bah tanpa terjatuh. Bahkan, mereka terkadang mengeluarkan kotoran ketika melintas di atas Baitullah, sebagaimana burung pada umumnya.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menganggap bahwa merpati memiliki perilaku khusus yang membuatnya tidak dapat terbang di atas Ka'bah.
Merpati di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tetap merupakan makhluk Allah yang bertasbih sesuai fitrahnya.
Perilaku mereka lebih tepat dipahami melalui naluri dan kondisi lingkungan, bukan melalui mitos yang tidak memiliki dasar.
Jamaah haji dan umrah dapat menikmati keberadaan burung-burung tersebut tanpa perlu mengaitkannya dengan ritual tawaf atau anggapan bahwa mereka akan jatuh saat melintasi Ka'bah.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.