Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kopi, QRIS, dan Geliat Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 21:10 WIB
Riki Achmad Saepulloh,
Reni Susanti

Tim Redaksi


SUKABUMI, KOMPAS.com — Aroma biji kopi arabika yang baru digiling merebak, membaur dengan udara dingin di Masjid Sejuta Pemuda, Kota Sukabumi.

Suara mesin espresso berderit halus, diselingi gemericik air wudu dan lantunan lembut ayat suci Al-Qur'an dari sudut ruangan.

Suasana ini bukan berasal dari sebuah kafe komersial di kawasan elite perkotaan, melainkan dari Masjid Sejuta Pemuda di Jalan Lamping, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi.

Baca juga: Menag Sebut Ekonomi Syariah RI seperti Raksasa Tidur, Soroti Potensi Masjid

Masjid Sejuta Pemuda merupakan nama populer yang melekat pada Masjid At-Tin.

Berbeda dengan mayoritas tempat ibadah di kawasan perkotaan yang pintu gerbangnya sering kali dikunci usai shalat Isya, Masjid Sejuta Pemuda justru tidak pernah terkunci.

Dengan lampu yang menyala terang sepanjang malam, masjid ini menyambut siapa saja yang membutuhkan tempat beristirahat, ketenangan, minuman hangat, atau makanan gratis.

Masjid Sejuta Pemuda di Kota Sukabumi lahir dari inisiatif sekelompok orang yang ingin merangkul generasi muda dan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.

“Kita menjalani hidup itu hanya ada dua kesempatan, yang pertama kita jadi penikmat, yang keduanya kita jadi penggerak. Kalau jadi penikmat, ya udah, kita nikmatin aja apa adanya sekarang. Tapi kalau kita jadi penggerak, justru kita yang menciptakan kenikmatan-kenikmatan untuk orang lain,” kata Sanusi selaku CEO Masjid Sejuta Pemuda saat ditemui Kompas.com, Kamis (29/10/2026) siang.

Kegiatan pemberdayaan pemuda yang berangkat dari kegelisahan tersebut kini menjadi daya tarik bagi pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Fenomena ini menandai lahirnya babak baru dalam lanskap pariwisata ramah muslim atau halal tourism di Jawa Barat.

Pilihan strategi pengembangan pariwisata berbasis masjid yang dihadirkan di Sukabumi ini tidak muncul dari megahnya bangunan fisik bertingkat atau anggaran promosi bernilai miliaran rupiah, melainkan dari transformasi peran masjid sebagai pusat peradaban, ekonomi, dan kegiatan pemuda yang inklusif.

“Orang-orang datang ke sini itu dari penjuru Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Kayak kemarin itu ada dari Jerman datang ke Masjid Sejuta Pemuda,” ucap Sanusi.

Bagi Jawa Barat, provinsi dengan populasi muslim terbesar di Indonesia, potensi halal tourism sering kali hanya diidentikkan dengan ketersediaan sertifikasi halal pada produk makanan atau keberadaan musala di pusat perbelanjaan.

Namun, Masjid Sejuta Pemuda mendefinisikan ulang konsep tersebut.

Wisata ramah muslim di sini diekspresikan melalui keterbukaan, rasa aman, efisiensi pelayanan digital, serta penciptaan ekosistem ekonomi mikro yang langsung berdampak pada kesejahteraan warga lokal di tingkat akar rumput.

Gen Z, Pedagang, dan Digitalisasi Keuangan

Area Cafe Bar di Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi, Nampak 2 orang Barista tengah mempersiapkan kopi untuk para Jamaah. Kamis (29/10/2026)KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH Area Cafe Bar di Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi, Nampak 2 orang Barista tengah mempersiapkan kopi untuk para Jamaah. Kamis (29/10/2026)

Masjid Sejuta Pemuda menunjukkan bahwa masjid dapat berfungsi sebagai pusat spiritualitas, pemberdayaan sosial dan ekonomi, sekaligus daya tarik wisata.

Pendiri dan pengelola Masjid Sejuta Pemuda memahami betul dinamika demografi Indonesia yang saat ini didominasi oleh generasi Z dan milenial.

Generasi muda hari ini kerap merindukan ruang publik yang aman, produktif, dan tidak menghakimi.

Untuk merangkul potensi generasi muda, pengelola masjid mengadopsi pendekatan manajemen modern.

“Sukabumi (kota dan kabupaten) ini jumlah pemudanya lebih dari 1 juta, nah lalu mau dikemanakan para pemuda itu. Makanya kita ingin masjid menjadi pusat solusi, masjid tempat para pemuda belajar agama, sirah, pendidikan, sosial, konten digital, hingga ekonomi,” tutur Sanusi.

Baca juga: Berawal dari Masjid, Al-Qarawiyyin di Maroko Jadi Salah Satu Universitas Tertua Dunia

Dalam pantauan Kompas.com, di area depan Masjid Sejuta Pemuda berdiri Coffee & Healthy Bar yang menyajikan berbagai pilihan minuman secara gratis bagi para jemaah dan musafir.

Menariknya, para peracik kopi atau barista di tempat ini adalah para marbut masjid yang telah dibekali pelatihan keahlian menyeduh kopi berstandar profesional.

Fasilitas pendukung, seperti ruang kerja bersama atau co-working space lengkap dengan koneksi internet cepat, pemandangan yang meneduhkan mata, hingga tempat istirahat yang nyaman, juga disiapkan secara gratis.

Menurut Sanusi, pengembangan fasilitas dan kegiatan tersebut diikuti peningkatan kunjungan anak muda.

Masjid tidak lagi dipandang sebagai tempat yang hanya dikunjungi oleh kalangan lanjut usia, melainkan telah bergeser menjadi youth creative hub, tempat bertukarnya gagasan bisnis, diskusi keagamaan, dan pembuatan karya-karya kreatif digital.

“Awal tahun 2024 itu awal hanya bisa menampung sekitar 50 jemaah, sekarang pengunjung makin banyak terus kita renovasi dan bisa tampung 400-an jemaah, tapi makin ke sini para jemaah itu nyaris enggak ketampung semua, bahkan shalat Jumat saja sampai ke luar-luar deket aula. Insyaallah kita sekarang lagi renovasi lagi, rencananya nanti bisa menampung sampai 2.000 jemaah,” tutur Sanusi.

Selain kunjungan yang meningkat, Masjid Sejuta Pemuda juga tetap menjunjung transparansi dan akuntabilitas keuangan.

Menurut Sanusi, hal itu menjadi fondasi utama keberlanjutan model masjid sosial ini.

Seluruh penerimaan dana infak, sedekah, dan wakaf dikelola secara profesional dengan memanfaatkan integrasi kanal pembayaran digital, seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), serta transfer perbankan syariah.

“Masyarakat yang mau berinfak itu bisa secara digital, QRIS, atau langsung memasukkan uangnya ke dalam kotak infak. Laporan (keuangan) per bulan kita ada, kalau mau visit ke sini justru alhamdulillah, dan Masjid Sejuta Pemuda sudah punya aplikasi, di situ semuanya ada, dimulai dari (laporan program) makan 3x sehari, ada program kopi, di situ ada Al-Qur'annya, dan lainnya. Laporan-laporannya juga di Instagram, (terus) terpublik. Kita juga kan tetap ada audit, syariah, gitu, diawasi, kayak gitu. Karena kan kita (dalam pengelolaan) perlu teliti banget, kehati-hatian, karena ini titipan dari jemaah,” jelas Sanusi.

Selain itu, Masjid Sejuta Pemuda juga secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi pedagang yang kini telah mengenal metode pembayaran melalui QRIS.

Salah satunya Arif (43), pedagang makanan cirambay yang kini menerima pembayaran menggunakan QRIS.

Arif menuturkan, saat ia mulai berjualan di dekat Masjid Sejuta Pemuda, setiap pembeli hanya bisa membayar dengan uang tunai.

Namun, karena pembelinya kebanyakan pengunjung masjid yang mayoritas berasal dari generasi Z dan jarang memegang uang tunai, ia akhirnya menambahkan pilihan pembayaran melalui QRIS.

“Awalnya itu banyak yang nanyain ini bayarnya bisa pake QRIS enggak, saya bilang enggak bisa. Jadi pembeli itu enggak jadi beli dagangan saya, makin ke sini makin banyak yang nanyain pake QRIS bisa apa enggak, akhirnya saya bikin dan sekarang untuk pembayaran bisa pake QRIS,” tutur Arif.

Tak hanya membuat Arif memahami digitalisasi keuangan, penambahan metode pembayaran QRIS juga disebutnya membantu meningkatkan pendapatan karena banyak pembeli dari generasi Z memilih pembayaran nontunai.

Arif mengaku pendapatannya kini bisa menyentuh angka Rp100.000 per hari.

“Pendapatan biasanya Rp50 ribu, kalau ke Masjid Sejuta Pemuda dan lagi ada agenda itu bisa Rp100 ribu. Banyak yang bayar pake QRIS juga, biasanya itu suka membelikan pulsa, kuota, atau token listrik. Alhamdulillah ada peningkatan saat ada metode pembayaran pake QRIS juga,” papar Arif.

Pariwisata Jadi Geliat Ekonomi Kota

Nampak depan area halaman Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi. Kamis (29/10/2026)KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH Nampak depan area halaman Masjid Sejuta Pemuda Kota Sukabumi. Kamis (29/10/2026)

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Sukabumi Rahmat Iskandar mengatakan, keterbatasan destinasi wisata alam mendorong pengembangan daya tarik wisata lain di kota tersebut.

Menurutnya, Masjid Sejuta Pemuda menjadi salah satu daya tarik wisata ramah muslim di Kota Sukabumi.

Masjid tersebut menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Pengunjung dapat melihat kegiatan yang digerakkan para pemuda di masjid yang terbuka selama 24 jam.

“Kita dengan teman-teman di Masjid Sejuta Pemuda itu berdampingan dalam hal pengembangan pemuda dan pengembangan pariwisata, seperti dari segi keagamaan, kemudian juga entrepreneurship. Kita beberapa kali kolaborasi dengan teman-teman di sana untuk membuat pemuda kita berdaya,” ungkap Rahmat saat ditemui Kompas.com di kantornya.

Menurut Rahmat, wisatawan dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Masjid Sejuta Pemuda juga diarahkan untuk mengunjungi destinasi lain di Kota Sukabumi. Kunjungan tersebut diharapkan dapat menghidupkan ekonomi warga.

“Soal wisata sudah tentu kita kolaborasi agar pengunjung-pengunjung di Masjid Sejuta Pemuda juga diarahkan ke spot-spot wisata yang lain,” terang Rahmat.

Rahmat berharap Masjid Sejuta Pemuda dapat membawa keberkahan bagi Kota Sukabumi. Menurutnya, meningkatnya kunjungan wisatawan akan turut menggerakkan roda perekonomian.

Dalam catatannya, Pemerintah Kota Sukabumi telah memperoleh pendapatan asli daerah (PAD) senilai Rp2 miliar dari sektor pariwisata.

Hal tersebut menjadi tren positif bagi kemajuan Kota Sukabumi.

“Ini baru sampai bulan Oktober, tahun ini (kita telah mendapatkan) Rp2 miliar (untuk sektor pariwisata) meski yang terbesar itu dari kuliner. Tapi kalau secara keuangan yang masuk (Kota Sukabumi) itu perputarannya pasti puluhan miliar,” tegas Rahmat.

Jawa Barat dan Halal Tourism

Sementara itu, Deputi Kepala Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Muslimin Anwar mengatakan, jumlah kunjungan wisatawan Nusantara ke Jawa Barat menembus 211 juta jiwa.

Bahkan, hanya dalam satu bulan pada Juni 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat sebanyak 18,67 juta jiwa yang mengunjungi Jawa Barat pada kategori wisatawan Nusantara.

Muslimin berharap setiap daerah dapat memanfaatkan tingginya kunjungan wisatawan untuk menggerakkan perekonomian lokal.

Terlebih, Jawa Barat memiliki keunggulan dari segi akses jalan dan transportasi yang mudah.

Dengan potensi tersebut, Bank Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem wisata ramah muslim di daerah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru dan penciptaan lapangan kerja.

“Jawa Barat paling bersyukur di antara kota-kota provinsi di Indonesia, karena jalan tol punya banyak, busnya punya, kereta apinya ada dan sebagainya, (ini menjadi) daya tariknya (dan keuntungan),” ungkap Muslimin Anwar saat berkunjung ke Kota Sukabumi beberapa waktu lalu.

Untuk mendukung tingginya kunjungan wisatawan, BI Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pembinaan dan pelatihan guna mendorong pengembangan destinasi wisata ramah muslim.

Dari proses panjang dan penuh perjuangan Pemprov, BI Jabar, dan Kota ataupun Kabupaten, berhasil membawa dampak positif bagi Pemerintah Provinsi untuk mendapatkan penghargaan Anugerah Adinata Syariah 2026, dengan kategori Pariwisata ramah muslim.

“Kita ini Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemprov Jawa Barat berhasil menjadi juara umum Anugerah Adinata Syariah tingkat nasional. Tahun lalu juga sama, kemudian back to back tahun ini ya, kita juga menjadi juara umum,” ujar Muslimin Anwar.

Tak hanya meraih prestasi nasional, Provinsi Jawa Barat juga meraih penghargaan Most Promising Muslim-Friendly Region of The Year dalam ajang Halal In Travel Global Summit 2026 di Singapura.

Selain itu, Muslimin berharap Provinsi Jawa Barat dapat menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Menurutnya, kunjungan tersebut dapat berkontribusi terhadap cadangan devisa negara.

“Bank Indonesia sangat berbahagia kalau (pengunjung) dari luar negeri itu mendatangkan devisa. Kalau devisa itu semakin meningkat, Bank Indonesia senang. Kalau misalnya nanti rupiahnya tertekan, kita punya cadangan pelurunya itu untuk melakukan intervensi, menstabilkan rupiah,” tutup Muslimin Anwar.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Kopi, QRIS, dan Geliat Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
Kopi, QRIS, dan Geliat Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi
Aktual
Cimahi Siapkan Layanan Haji Satu Atap, Pembangunan Gedung Capai 57 Persen
Cimahi Siapkan Layanan Haji Satu Atap, Pembangunan Gedung Capai 57 Persen
Aktual
Kiai Miftachul Akhyar Ungkap Alasan Para Wali Tetap Berwirid meski Punya Karamah
Kiai Miftachul Akhyar Ungkap Alasan Para Wali Tetap Berwirid meski Punya Karamah
Aktual
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor Muri lewat Buku 1.062 Halaman
Pemuda NU Asal Lumajang Raih Rekor Muri lewat Buku 1.062 Halaman
Aktual
Wamenhaj Dahnil Usul Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
Wamenhaj Dahnil Usul Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji, Ini Alasannya
Aktual
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Aktual
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Aktual
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh November 2027, Niat, dan Keutamaannya
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh November 2027, Niat, dan Keutamaannya
Aktual
Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo dan Karanganyar, Wagub Jateng Pastikan Anak-anak Didampingi
Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo dan Karanganyar, Wagub Jateng Pastikan Anak-anak Didampingi
Aktual
Prabowo Salurkan Bantuan untuk Pesantren Gontor, Berharap Santri Jadi SDM Unggul
Prabowo Salurkan Bantuan untuk Pesantren Gontor, Berharap Santri Jadi SDM Unggul
Aktual
Menag Sebut Ekonomi Syariah RI seperti Raksasa Tidur, Soroti Potensi Masjid
Menag Sebut Ekonomi Syariah RI seperti Raksasa Tidur, Soroti Potensi Masjid
Aktual
Surat Santri untuk Prabowo: Jangan Biarkan Biaya Kuliah Menghalangi Cita-cita
Surat Santri untuk Prabowo: Jangan Biarkan Biaya Kuliah Menghalangi Cita-cita
Aktual
Kisah Abdullah bin Jahsy, Sahabat yang Dipercaya Nabi Memimpin Ekspedisi Nakhlah
Kisah Abdullah bin Jahsy, Sahabat yang Dipercaya Nabi Memimpin Ekspedisi Nakhlah
Aktual
Jemaah Haji Lansia di Manggarai Barat Kini Bisa Urus Paspor di Kantor Kemenhaj
Jemaah Haji Lansia di Manggarai Barat Kini Bisa Urus Paspor di Kantor Kemenhaj
Aktual
Wamenhaj Sebut Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji
Wamenhaj Sebut Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar