Editor
KOMPAS.com — Memiliki karamah tidak membuat para wali dan ulama berhenti mengamalkan wirid.
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan, mereka tetap tekun beribadah dan menuntut ilmu karena meyakini bahwa amalan tersebut memiliki nilai yang lebih berharga daripada kemewahan dunia.
Dikutip dari NO Online, Kiai Miftachul merujuk pada pandangan Imam Junaid al-Baghdadi ketika ditanya oleh Abul Hasan ad-Darraj.
Baca juga: KH Miftachul Akhyar: Jangan Terobsesi Mengejar Keramat
Menurut Kiai Miftach, para ulama sufi meyakini bahwa ibadah memiliki faedah tersembunyi yang nilainya melampaui harta dan simbol kehormatan duniawi.
“Ibadah menurut orang-orang ahli ma'rifat itu lebih baik daripada mahkota yang dihiasi dengan perhiasan-perhiasan mahal,” tutur dia.
Keyakinan itulah yang mendasari ketekunan mereka dalam beribadah, mengamalkan wirid, dan mendalami ilmu.
Kiai Miftach menjelaskan, keluasan pengetahuan tidak menjadi alasan bagi ulama untuk berhenti belajar kepada gurunya.
Ia mencontohkan ketekunan Imam Al-Ghazali dalam mengikuti pengajian Imam Al-Haramain.
“Imam Ghazali itu walaupun karangan kitabnya sudah banyak, selama Imam Haramain masih sehat beliau tetap mengaji apa saja kepada gurunya,” tutur Kiai Miftach.
Menurutnya, mulazamah atau ketekunan dalam mengikuti pembelajaran merupakan salah satu jalan untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan berkah.
Baca juga: Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU, Apa Perbedaan Tugas Keduanya?
Mempelajari materi yang sama secara berulang pun dapat membuka pemahaman baru. Sebab, satu pengetahuan memiliki keterkaitan dengan pengetahuan lainnya.
“Walaupun sudah diterangkan sebanyak 27 kali, ketika diterangkan lagi pasti ada hal yang baru, karena ilmu itu selalu berkaitan dengan ilmu-ilmu yang lain,” ujarnya.
Kiai Miftach juga mengingatkan bahwa ilmu menjadi salah satu jalan bagi Allah untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Ia merujuk pada Surah Al-Mujadilah ayat 11 tentang keutamaan orang-orang beriman dan berilmu.
Lebih lanjut, Kiai Miftach menjelaskan bahwa seseorang tidak selalu langsung memahami seluruh pelajaran yang diterimanya ketika mengikuti pengajian.
Terkadang, pemahaman itu baru muncul saat ia menghadapi persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Banyak orang yang mengaji tapi tidak langsung diberi pemahaman tapi besok ketika bertemu masyarakat ilmunya muncul,” tuturnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya terus beribadah, mengamalkan wirid, dan mengikuti pengajian. Bagi ulama ahli makrifat, ketekunan menjalankan amalan tersebut memiliki nilai yang melampaui kemewahan dunia.
“Jadi wajar ketika Imam Junaid komentar ibadah, wirid, mengaji menurut ulama ahli ma'rifat itu lebih baik daripada mahkota raja-raja yang penuh dengan hiasan,” tandasnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.