Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama

Kompas.com, 31 Oktober 2026, 10:36 WIB
Farid Assifa

Penulis

Sumber Kemenag

KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengajak kalangan santri dan pesantren mengambil peran nyata dalam menjawab berbagai persoalan bangsa.

Menurut Gus Kikin, agama dan ilmu pengetahuan harus menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesempatan kerja, kerusakan lingkungan, hingga perkembangan teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Gus Kikin dalam Pidato Kebudayaan pada acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026), dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026.

Dia menegaskan, santri tidak cukup hanya memiliki pemahaman keagamaan, tetapi juga harus meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan, memahami perkembangan teknologi, serta terlibat dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Baca juga: Gus Kikin Siapkan PBNU Perkuat Akar Rumput, Munas-Konbes Jadi Langkah Awal

“Santri harus terus meningkatkan kualitas ilmu, memahami perkembangan teknologi, terlibat dalam pemberdayaan ekonomi, dan menghadirkan agama sebagai pegangan yang kokoh. Agama harus menjadi fondasi dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru sesuai dengan kebutuhan zaman,” ucap Gus Kikin.

Gus Kikin Singgung Paradoks Kekayaan Indonesia

Dalam pidatonya, Gus Kikin juga menyinggung pemikiran Presiden Prabowo Subianto dalam buku berjudul Paradoks Indonesia.

Dia mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang luar biasa. Namun, kekayaan tersebut belum sepenuhnya dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.

Gus Kikin mengaku pernah menerima buku tersebut langsung dari Prabowo ketika Presiden berkunjung ke Pondok Pesantren Tebuireng.

"Saya pernah menerima buku Paradoks Indonesia dari Bapak Presiden ketika beliau berkunjung ke Tebuireng. Di dalam buku itu beliau mengajak kita melihat suatu persoalan besar, yaitu Indonesia memiliki kekayaan alam yang begitu banyak dan potensi manusia yang luar biasa, tetapi kesejahteraan belum dinikmati secara merata," ungkapnya.

Menurut dia, ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, kesempatan kerja, kerusakan lingkungan, hingga perubahan teknologi merupakan persoalan yang harus dijawab secara bersama-sama.

Dia mengingatkan bahwa kekayaan alam Indonesia sejak dahulu menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain. Karena itu, sumber daya tersebut harus dikelola secara optimal agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

"Kekayaan alam yang dahulu diperebutkan oleh bangsa lain harus dapat kita kelola dengan baik untuk kepentingan rakyat Indonesia sendiri," tegasnya.

Ilmu dan Ukhuwah Jadi Kunci Membangun Bangsa

Lebih lanjut, Gus Kikin menilai persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan besarnya sumber daya alam.

Diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan bekerja sama, serta kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk mengutamakan kepentingan bersama.

Karena itu, dia menekankan pentingnya memperkuat ilmu dan ukhuwah atau persaudaraan sebagai modal membangun Indonesia.

Baca juga: Link Twibbon Hari Santri 2026 dari PBNU, Lengkap dengan Cara Pakainya

Menurutnya, ilmu pengetahuan membantu masyarakat memahami persoalan sekaligus menemukan solusi yang tepat. Sementara ukhuwah menjadi kekuatan untuk menyatukan berbagai perbedaan kemampuan dan latar belakang.

"Kita harus meyakini bahwa ilmu dan ukhuwah adalah dua hal yang harus kita kuatkan. Dengan ilmu kita dapat memahami persoalan dan mencari jalan keluar yang tepat. Dengan ukhuwah, kemampuan yang berbeda-beda dapat disatukan menjadi kekuatan bersama," ujarnya.

Menutup pidato kebudayaannya, Gus Kikin mengajak para santri untuk mengurangi perselisihan yang tidak produktif dan lebih mengutamakan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Dia berharap generasi mendatang tidak hanya mewarisi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga menikmati kesejahteraan dari kekayaan tersebut.

"Kita kerahkan kemampuan untuk membangun negeri dan kita kurangi perselisihan yang tidak perlu. Jangan sampai kita mewariskan negeri yang kaya, tetapi rakyatnya masih kesulitan untuk menikmati hasil kekayaannya," tutupnya.

Acara Munajat Santri untuk Negeri tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, serta Sekretaris Jenderal dan jajaran pejabat eselon I dan II Kementerian Agama.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Batas Maksimal Sholat Dhuha Sampai Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Waktu Zuhur
Aktual
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Gus Kikin Minta Santri Kuasai Teknologi dan Ekonomi, Jangan Hanya Fokus Ilmu Agama
Aktual
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh November 2027, Niat, dan Keutamaannya
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh November 2027, Niat, dan Keutamaannya
Aktual
Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo dan Karanganyar, Wagub Jateng Pastikan Anak-anak Didampingi
Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo dan Karanganyar, Wagub Jateng Pastikan Anak-anak Didampingi
Aktual
Prabowo Salurkan Bantuan untuk Pesantren Gontor, Berharap Santri Jadi SDM Unggul
Prabowo Salurkan Bantuan untuk Pesantren Gontor, Berharap Santri Jadi SDM Unggul
Aktual
Menag Sebut Ekonomi Syariah RI seperti Raksasa Tidur, Soroti Potensi Masjid
Menag Sebut Ekonomi Syariah RI seperti Raksasa Tidur, Soroti Potensi Masjid
Aktual
Surat Santri untuk Prabowo: Jangan Biarkan Biaya Kuliah Menghalangi Cita-cita
Surat Santri untuk Prabowo: Jangan Biarkan Biaya Kuliah Menghalangi Cita-cita
Aktual
Kisah Abdullah bin Jahsy, Sahabat yang Dipercaya Nabi Memimpin Ekspedisi Nakhlah
Kisah Abdullah bin Jahsy, Sahabat yang Dipercaya Nabi Memimpin Ekspedisi Nakhlah
Aktual
Jemaah Haji Lansia di Manggarai Barat Kini Bisa Urus Paspor di Kantor Kemenhaj
Jemaah Haji Lansia di Manggarai Barat Kini Bisa Urus Paspor di Kantor Kemenhaj
Aktual
Wamenhaj Sebut Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji
Wamenhaj Sebut Nonmuslim Bisa Jadi Petugas Haji
Aktual
Jika Utang Negara Tidak Lunas, Apakah Rakyat Bakal Menanggung Dosanya di Akhirat?
Jika Utang Negara Tidak Lunas, Apakah Rakyat Bakal Menanggung Dosanya di Akhirat?
Aktual
Apakah Bangkai Hewan Termasuk Najis? Ini Penjelasan Hukumnya Menurut Islam
Apakah Bangkai Hewan Termasuk Najis? Ini Penjelasan Hukumnya Menurut Islam
Aktual
Ragu Terkena Najis Saat Shalat, Haruskah Dibatalkan atau Tetap Dilanjutkan?
Ragu Terkena Najis Saat Shalat, Haruskah Dibatalkan atau Tetap Dilanjutkan?
Aktual
Apakah Sperma, Madi, dan Wadzi Termasuk Najis dan bisa Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Hukumnya
Apakah Sperma, Madi, dan Wadzi Termasuk Najis dan bisa Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Hukumnya
Aktual
Tak Perlu Menunda, Ini Anjuran Menyegerakan Pemakaman Jenazah
Tak Perlu Menunda, Ini Anjuran Menyegerakan Pemakaman Jenazah
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar