Editor
KOMPAS.com - Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah, KH Arif Fahruddin, mengingatkan para dai yang bernaung di bawah MUI agar menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ia menegaskan, dai tidak boleh menyebarkan perpecahan, fitnah, maupun adu domba di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Arif dalam acara Standardisasi Dai Angkatan ke-51 yang diselenggarakan Komisi Dakwah MUI di Universitas Yarsi, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Senin (2/11/2026).
Baca juga: Sekjen MUI Apresiasi Ketegasan Kapolri yang Copot Kapolres Sukoharjo Terkait Penggeledahan Ponpes
Kiai Arif mengatakan, seluruh warga negara Indonesia, termasuk ulama dan dai, terikat dalam kesepakatan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan Pancasila.
Karena itu, setiap dai harus menjaga komitmen kebangsaan dan tidak melakukan tindakan yang dapat merusak persatuan nasional.
Baca juga: Ketua MUI Jatim: Penerbitan Fatwa Jadi Fungsi Esensial MUI
"Sehingga, tidak boleh, siapapun dia yang ada di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk dai, itu khuruj minal mitsaq kita sudah keluar dari kesepakatan berbangsa dan bernegara, karena kita sudah terikat di dalamnya," ujar Kiai Arif.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan, memelihara harmoni, dan memperkuat persatuan dalam setiap kegiatan dakwah, terutama di ruang publik.
Kiai Arif meminta para dai MUI menjadi elemen pemersatu bangsa, bukan sumber konflik atau perpecahan.
Menurutnya, setiap dai harus menghindari ujaran yang berpotensi memicu ketidakharmonisan antarelemen masyarakat.
" Tidak boleh dai MUI itu malah menyebabkan keterpecahan di antara elemen bangsa. Tidak boleh dai MUI itu malah menyebabkan saling adu domba, saling fitnah, dan seterusnya," tegasnya.
Lebih lanjut, Kiai Arif menjelaskan bahwa dai yang memiliki visi kebangsaan perlu menjalankan dua peran sekaligus, yakni memperkuat kecintaan terhadap Tanah Air dan menjaga ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan umat Islam.
Menurutnya, ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan kebangsaan harus berjalan beriringan.
Kedua nilai tersebut menjadi bagian penting dalam dakwah yang berorientasi pada persatuan bangsa.
"Tapi dai-dai MUI yang bervisi kebangsaan harus memperkuat negara, dan satu sisi yang sama juga harus memperkuat ukhuwah Islamiyah. Jadi, antara ukhuwah Islamiyah, kemudian juga ukhuwah wathaniyah, itu harus dalam satu tarikan napas, satu aliran darah," kata Kiai Arif.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.