KOMPAS.com - Surah Al-Hasyr ayat 18 mengandung perintah agar setiap Muslim memperhatikan perbuatan yang telah dilakukan sebagai bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Pesan ini menjadi dasar pentingnya muhasabah atau introspeksi diri dalam Islam, yakni mengevaluasi perkataan, tindakan, dan niat agar kehidupan semakin dekat dengan ketakwaan.
Muhasabah bukan hanya dilakukan ketika seseorang merasa bersalah atau menghadapi masalah.
Kebiasaan ini perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari karena manusia tidak mengetahui kapan ajal datang.
Dengan mengevaluasi diri secara berkala, seorang Muslim dapat mengenali kekurangan, memperbaiki kesalahan, serta mempersiapkan amal sebelum tiba hari ketika seluruh perbuatan dipertanggungjawabkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
Yā ayyuhal-lażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad(in), wattaqullāh(a), innallāha khabīrum bimā ta‘malūn(a).
Baca juga: Fenomena Budaya Flexing dan Pamer Kekayaan dalam Perspektif Islam
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat tersebut memuat dua kali perintah bertakwa, disertai ajakan memperhatikan amal yang telah dipersiapkan untuk hari esok.
Frasa mā qaddamat lighad mengarahkan manusia untuk menilai apa yang telah dikerjakan sebagai bekal kehidupan akhirat.
Karenanya, muhasabah tidak berhenti pada penilaian terhadap masa lalu, tetapi juga mendorong persiapan untuk masa depan.
Baca juga: Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Muhasabah berarti memeriksa dan mengevaluasi diri atas perbuatan yang telah dilakukan.
Evaluasi tersebut mencakup hubungan manusia dengan Allah, hubungan dengan sesama, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Seseorang tidak hanya menilai apakah ibadah wajibnya telah ditunaikan, tetapi juga memperhatikan kejujuran, amanah, dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
Melansir dari laman NU Online, ayat ini menjadi isyarat pentingnya introspeksi untuk mempersiapkan diri menghadapi hari akhir.
Muhasabah perlu dilakukan secara kritis, baik terhadap perbuatan baik maupun buruk.
Baca juga: Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Artinya, seseorang tidak cukup merasa telah menjadi pribadi baik hanya karena menjalankan sejumlah ibadah.
Ia juga perlu memeriksa apakah tindakannya menyakiti orang lain, mengabaikan kewajiban, atau bertentangan dengan nilai agama.
Dari evaluasi tersebut, seseorang dapat menentukan hal yang perlu dipertahankan dan diperbaiki.
Anjuran mengevaluasi diri juga dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Syaddad bin Aus. Rasulullah SAW bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Al-kayyisu man dāna nafsahu, wa ‘amila limā ba‘dal-mauti, wal-‘ājizu man atba‘a nafsahu hawāhā, wa tamanna ‘alallāh.
Baca juga: Peserta dari 6 Negara Pelajari Peran Ulama Perempuan Indonesia
Artinya: "Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, kemudian berangan-angan terhadap Allah." (HR. At-Tirmidzi 66)
Hadis ini menempatkan evaluasi diri dan persiapan amal sebagai ciri kecerdasan seorang Muslim.
Sebaliknya, mengikuti keinginan tanpa kendali lalu hanya berharap memperoleh ampunan tanpa memperbaiki tindakan bukanlah sikap yang tepat.
Harapan kepada rahmat Allah perlu disertai usaha untuk berubah.
Muhasabah tidak dimaksudkan untuk membuat seseorang terus-menerus terjebak dalam penyesalan. Evaluasi diri justru perlu menghasilkan langkah perbaikan.
Ketika menyadari kesalahan, seorang Muslim dianjurkan bertobat, memohon ampun kepada Allah, dan berusaha tidak mengulangi perbuatan tersebut.
Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, perbaikannya juga perlu menyentuh hubungan antarmanusia.
Misalnya, meminta maaf ketika menyakiti seseorang, mengembalikan sesuatu yang bukan haknya, atau menyelesaikan tanggung jawab yang pernah diabaikan.
Itu artinya, penyesalan tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi diwujudkan melalui tindakan.
Muhasabah dapat dilakukan dengan menyediakan waktu pada akhir hari untuk mengevaluasi kegiatan.
Seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kewajiban telah ditunaikan, adakah orang yang tersakiti, dan apa yang perlu diperbaiki esok hari? Pertanyaan tersebut membantu evaluasi menjadi lebih konkret.
Surah Al-Hasyr ayat 18 mengajarkan bahwa persiapan menuju akhirat perlu dimulai selama manusia masih memiliki kesempatan hidup.
Muhasabah bukan sekadar mengingat kesalahan masa lalu, melainkan keberanian memperbaiki diri dan menyiapkan amal yang lebih baik.
Dengan membiasakan introspeksi, seorang Muslim dapat menjalani hari secara lebih sadar, bertanggung jawab, dan berorientasi pada rida Allah SWT.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.