KOMPAS.com - Budaya flexing atau memamerkan kekayaan semakin mudah ditemukan di media sosial. Mulai dari mengunggah koleksi barang bermerek, kendaraan mewah, rumah megah, hingga memperlihatkan gaya hidup mahal, sebagian orang menjadikan kekayaan sebagai bagian dari citra diri di ruang digital.
Dalam perspektif Islam, memiliki harta dan menikmati hasil kerja bukanlah sesuatu yang dilarang. Namun, cara seseorang memperlakukan dan menampilkan kekayaannya perlu memperhatikan niat serta dampaknya.
Ketika pamer harta dilakukan untuk mencari pujian, merasa lebih unggul, atau merendahkan orang lain, perilaku tersebut dapat bertentangan dengan ajaran Islam tentang kesederhanaan dan kerendahan hati.
Baca juga: Ketum GP Ansor Dorong Perguruan Tinggi Bukan Sekadar Cetak Sarjana
Islam tidak memandang kekayaan sebagai sesuatu yang buruk. Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, menjaga keluarga, membantu sesama, serta mendukung pelaksanaan ibadah. Karena itu, seseorang tidak perlu merasa bersalah hanya karena memiliki barang bagus atau menikmati kehidupan yang berkecukupan.
Persoalannya terletak pada sikap terhadap harta tersebut. Kekayaan seharusnya membuat seseorang semakin bersyukur dan bertanggung jawab, bukan merasa lebih mulia daripada orang lain. Harta juga bukan ukuran tunggal kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT.
Baca juga: Menjadi Tetangga yang Baik, Ini Hak dan Kewajiban dalam Islam
Melansir artikel Kementerian Agama Kota Pekalongan berjudul "Hukum Flexing Harta di Media Sosial: Antara Riya’ dan Tahadduts bin Ni’mah", Penyuluh Agama Islam Nurul Hidayah menjelaskan bahwa Islam tidak anti-kekayaan. Menampilkan nikmat dapat menjadi bentuk syukur selama tidak disertai sikap ujub dan takabur serta memperhatikan dampaknya.
Peringatan mengenai kebiasaan berbangga-bangga dengan kekayaan terdapat dalam Surah Al-Hadid ayat 20.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
I‘lamū annamal-ḥayātud-dun-yā la‘ibuw wa lahwuw wa zīnatuw wa tafākhurum bainakum wa takāṡurun fil-amwāli wal-aulād(i), kamaṡali gaiṡin a‘jabal-kuffāra nabātuhū ṡumma yahīju fatarāhu muṣfarran ṡumma yakūnu ḥuṭāmā(n), wa fil-ākhirati ‘ażābun syadīd(un), wa magfiratum minallāhi wa riḍwān(un), wa mal-ḥayātud-dun-yā illā matā‘ul-gurūr(i).
Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering, dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu."
Ayat tersebut menggambarkan kehidupan dunia yang sementara. Harta, perhiasan, dan berbagai pencapaian dapat terlihat mengagumkan, tetapi semuanya tidak kekal. Gambaran tanaman yang tumbuh, mengering, lalu hancur mengingatkan manusia agar tidak menjadikan kemewahan sebagai tujuan utama kehidupan.
Baca juga: Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat
Salah satu persoalan dalam budaya flexing adalah munculnya sikap merasa lebih tinggi karena kepemilikan materi. Seseorang mungkin tidak sekadar memperlihatkan barang yang dimiliki, tetapi juga menggunakannya untuk membandingkan diri dengan orang lain.
Rasulullah SAW menjelaskan batas antara menyukai penampilan yang baik dan kesombongan. Dalam hadis riwayat Muslim, Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Lā yadkhulul-jannata man kāna fī qalbihī mitsqālu dzarratin min kibrin. Qāla rajulun: innar-rajula yuḥibbu an yakūna tsaubuhū ḥasanan wa na‘ luhū ḥasanatan. Qāla: innallāha jamīlun yuḥibbul-jamāla, al-kibru baṭarul-ḥaqqi wa ghamṭun-nās.
Baca juga: Soal Pesantren di Sukoharjo, GP Ansor: Masyarakat Tak Main Hakim Sendiri, Polisi Jangan Gegabah
Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi." Seseorang bertanya, "Sesungguhnya seseorang senang apabila pakaian dan sandalnya bagus." Beliau menjawab, "Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim 91a).
Hadis ini menunjukkan bahwa menyukai pakaian bagus atau penampilan menarik tidak otomatis termasuk kesombongan. Rasulullah SAW justru membedakan keindahan dari perilaku merasa unggul. Ukuran kesombongan terletak pada sikap menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, bukan semata-mata pada mahal atau bagusnya barang yang dikenakan.
Budaya pamer kekayaan juga perlu diperhatikan dari sisi niat. Ketika seseorang menampilkan hartanya semata-mata agar dipuji, dianggap sukses, atau memperoleh pengakuan, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan riya. Dalam konteks media sosial, dorongan itu bisa muncul melalui keinginan terus-menerus mendapatkan perhatian dan validasi dari orang lain.
Baca juga: PK-Tren Kecam Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, Desak Kapolri dan Komnas HAM Turun Tangan
Kementerian Agama Kota Pekalongan dalam pembahasannya mengenai flexing menjelaskan pandangan Imam Al-Ghazali tentang riya, yakni mencari kedudukan di hati manusia melalui sesuatu yang ditampilkan. Penjelasan tersebut mengingatkan bahwa penilaian terhadap tindakan tidak cukup berhenti pada apa yang terlihat, tetapi juga perlu memperhatikan tujuan di baliknya.
Meski demikian, tidak setiap unggahan tentang barang atau pencapaian pribadi dapat langsung disebut riya. Seseorang mungkin membagikan kabar pembelian rumah, perjalanan, atau keberhasilan usaha sebagai bentuk dokumentasi maupun ungkapan syukur. Niat dan cara penyampaiannya menjadi hal penting untuk diperiksa.
Islam juga mengenal konsep tahadduts bin ni'mah, yaitu menyebut atau menampakkan nikmat Allah sebagai bentuk syukur.
Dalam Surah Ad-Duha ayat 11, Allah berfirman:
وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ࣖ
Wa ammā bini‘mati rabbika fa ḥaddiṡ.
Artinya: "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur)."
Baca juga: Hukum Merusak Habitat Hewan dalam Islam, Ini Penjelasan Al-Quran dan Hadis
Perbedaannya dapat dilihat dari cara seseorang menyampaikan. Membagikan pengalaman membangun usaha untuk memberi inspirasi tentu berbeda dari mengunggah kemewahan sambil mengejek orang yang belum mampu memilikinya. Karena itu, seseorang perlu mempertimbangkan apakah unggahannya membawa manfaat atau justru menumbuhkan kesombongan.
Alih-alih menjadikan kekayaan sebagai alat memperoleh pengakuan, Islam mendorong umatnya memanfaatkan harta untuk kebaikan. Memenuhi kebutuhan keluarga, menunaikan zakat, bersedekah, membantu orang yang kesulitan, dan mendukung kegiatan sosial merupakan beberapa bentuk penggunaan harta yang membawa manfaat.
Sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, seseorang dapat memeriksa kembali niat dan dampaknya. Apakah unggahan itu sekadar berbagi kebahagiaan, memberikan informasi, atau justru bertujuan membuat orang lain merasa rendah? Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu menjaga diri dari perilaku pamer yang berlebihan.
Baca juga: Menag Sebut Ujian Jadi Momentum Indonesia untuk “Naik Kelas”
Pada akhirnya, Islam tidak mengukur kemuliaan seseorang dari merek pakaian, harga kendaraan, luas rumah, maupun jumlah kekayaan yang ditampilkan. Harta merupakan nikmat sekaligus amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, kekayaan sebaiknya mendorong seseorang untuk semakin bersyukur, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama, bukan sibuk membuktikan keunggulan diri di hadapan manusia.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.