Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kesibukan mengejar pekerjaan, pendidikan, dan harta kerap menyita perhatian manusia. Namun, upaya menyiapkan kehidupan yang baik juga perlu diikuti persiapan menghadapi kematian.
“Kadang kita terlalu sibuk menyiapkan hidup yang baik, tapi lupa menyiapkan mati yang baik,” ungkap anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (2/11/2026).
Menurut Asep, kecerdasan seorang Muslim tidak cukup diukur dari keberhasilannya menjalani kehidupan dunia.
Baca juga: Membiasakan Istighfar sebagai Bekal Menghadapi Kematian
Kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan mempersiapkan bekal akhirat juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sebagai hamba Allah.
Ia menjelaskan, manusia sering mencurahkan perhatian untuk meraih cita-cita duniawi, tetapi melupakan kematian yang pasti datang.
Dalam kajian tersebut, Asep menyampaikan pesan hadis tentang orang cerdas yang mampu mengendalikan diri dan mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian.
Sebaliknya, ia mengingatkan agar seseorang tidak memperturutkan hawa nafsu sambil menggantungkan harapan kepada Allah tanpa disertai usaha memperbaiki diri.
Menurutnya, orientasi akhirat perlu mewarnai aktivitas sehari-hari. Bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan tanggung jawab kehidupan tetap diperlukan, tetapi perlu diarahkan agar bernilai ibadah.
“Jangan sekadar orientasinya dunia. Maka insyaallah segala lelah kita akan menjadi lillah,” tuturnya.
Dengan demikian, mempersiapkan kehidupan akhirat dapat dilakukan melalui tanggung jawab sehari-hari yang dijalankan dengan niat baik dan sesuai tuntunan agama.
Baca juga: DSN MUI Terbitkan Fatwa Distribusi Dana Asuransi Kematian untuk Ahli Waris, Ini Urutan Pembagiannya
Asep juga mengajak jemaah membiasakan diri mengingat kematian. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, menurutnya, dapat menjadi pengendali perilaku.
Ia mencontohkan korupsi dan perbuatan maksiat. Seseorang mungkin dapat lolos dari pengawasan manusia, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.
Karena itu, mengingat kematian semestinya mendorong manusia memperbaiki diri selama masih memiliki kesempatan hidup.
Kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui kejujuran, ketaatan, dan kesungguhan menjauhi perbuatan yang dilarang agama.
Asep mengatakan, Allah telah membekali manusia dengan akal, hati, penglihatan, dan pendengaran untuk membedakan jalan yang benar dan yang menyimpang.
Pilihan yang diambil dengan menggunakan bekal tersebut akan memengaruhi kualitas kehidupan seseorang sekaligus menjadi bagian dari pertanggungjawabannya di akhirat.
Asep turut menjelaskan pentingnya mempersiapkan husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik.
Ia mengutip hadis mengenai pentingnya akhir amal seseorang serta menjelaskan bahwa Allah dapat memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk melakukan amal saleh menjelang kematian.
Menurutnya, pertambahan usia semestinya menjadi dorongan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki kualitas kehidupan beragama.
Ia mengingatkan agar kesempatan tersebut tidak terus ditunda, termasuk untuk mendatangi masjid, menghadiri majelis ilmu, dan menjalankan kebaikan.
“Kalau sudah umur 50 tahun, umur 60 tahun atau 60 tahun ke atas kok masih jauh dari masjid, kok masih jauh untuk datang ke majelis ilmu, rasa-rasanya kok berat untuk beramal kebaikan. Lalu mau kapan lagi memperbaiki diri,” ujarnya.
Dalam penjelasannya mengenai husnul khatimah, Asep menyebut riwayat tentang keutamaan mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh pada akhir kehidupan.
Ia mengingatkan keluarga yang mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid.
Asep juga mengajak jemaah membiasakan diri membaca Al-Qur’an, menunaikan salat, dan beramal saleh. Kebiasaan tersebut perlu dipelihara sebagai ikhtiar agar seseorang mengakhiri kehidupan dalam keadaan taat kepada Allah.
Selain itu, ia menyinggung riwayat mengenai keutamaan seorang Muslim yang meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat, yang dalam kajian tersebut dikaitkannya dengan tanda husnul khatimah.
Menutup pesannya, Asep mengajak jemaah memanfaatkan waktu yang masih tersedia untuk meningkatkan ketakwaan.
Persiapan menghadapi akhir kehidupan, menurutnya, perlu dimulai sejak sekarang melalui kesungguhan beribadah, pengendalian hawa nafsu, dan konsistensi beramal saleh.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.