Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Sibuk Mengejar Dunia hingga Lupa Bekal Akhirat

Kompas.com, 2 November 2026, 12:15 WIB
Reni Susanti

Editor

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kesibukan mengejar pekerjaan, pendidikan, dan harta kerap menyita perhatian manusia. Namun, upaya menyiapkan kehidupan yang baik juga perlu diikuti persiapan menghadapi kematian.

“Kadang kita terlalu sibuk menyiapkan hidup yang baik, tapi lupa menyiapkan mati yang baik,” ungkap anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Asep Setiawan dikutip dari laman Muhammadiyah, Senin (2/11/2026).

Menurut Asep, kecerdasan seorang Muslim tidak cukup diukur dari keberhasilannya menjalani kehidupan dunia.

Baca juga: Membiasakan Istighfar sebagai Bekal Menghadapi Kematian

Kemampuan mengendalikan hawa nafsu dan mempersiapkan bekal akhirat juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sebagai hamba Allah.

Ia menjelaskan, manusia sering mencurahkan perhatian untuk meraih cita-cita duniawi, tetapi melupakan kematian yang pasti datang.

Mengendalikan diri dan menyiapkan amal

Dalam kajian tersebut, Asep menyampaikan pesan hadis tentang orang cerdas yang mampu mengendalikan diri dan mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah kematian.

Sebaliknya, ia mengingatkan agar seseorang tidak memperturutkan hawa nafsu sambil menggantungkan harapan kepada Allah tanpa disertai usaha memperbaiki diri.

Menurutnya, orientasi akhirat perlu mewarnai aktivitas sehari-hari. Bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan tanggung jawab kehidupan tetap diperlukan, tetapi perlu diarahkan agar bernilai ibadah.

“Jangan sekadar orientasinya dunia. Maka insyaallah segala lelah kita akan menjadi lillah,” tuturnya.

Dengan demikian, mempersiapkan kehidupan akhirat dapat dilakukan melalui tanggung jawab sehari-hari yang dijalankan dengan niat baik dan sesuai tuntunan agama.

Baca juga: DSN MUI Terbitkan Fatwa Distribusi Dana Asuransi Kematian untuk Ahli Waris, Ini Urutan Pembagiannya

Mengingat kematian untuk memperbaiki perilaku

Asep juga mengajak jemaah membiasakan diri mengingat kematian. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, menurutnya, dapat menjadi pengendali perilaku.

Ia mencontohkan korupsi dan perbuatan maksiat. Seseorang mungkin dapat lolos dari pengawasan manusia, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Karena itu, mengingat kematian semestinya mendorong manusia memperbaiki diri selama masih memiliki kesempatan hidup.

Kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui kejujuran, ketaatan, dan kesungguhan menjauhi perbuatan yang dilarang agama.

Asep mengatakan, Allah telah membekali manusia dengan akal, hati, penglihatan, dan pendengaran untuk membedakan jalan yang benar dan yang menyimpang.

Pilihan yang diambil dengan menggunakan bekal tersebut akan memengaruhi kualitas kehidupan seseorang sekaligus menjadi bagian dari pertanggungjawabannya di akhirat.

Mempersiapkan husnul khatimah sejak sekarang

Asep turut menjelaskan pentingnya mempersiapkan husnul khatimah atau akhir kehidupan yang baik.

Ia mengutip hadis mengenai pentingnya akhir amal seseorang serta menjelaskan bahwa Allah dapat memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk melakukan amal saleh menjelang kematian.

Menurutnya, pertambahan usia semestinya menjadi dorongan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki kualitas kehidupan beragama.

Ia mengingatkan agar kesempatan tersebut tidak terus ditunda, termasuk untuk mendatangi masjid, menghadiri majelis ilmu, dan menjalankan kebaikan.

“Kalau sudah umur 50 tahun, umur 60 tahun atau 60 tahun ke atas kok masih jauh dari masjid, kok masih jauh untuk datang ke majelis ilmu, rasa-rasanya kok berat untuk beramal kebaikan. Lalu mau kapan lagi memperbaiki diri,” ujarnya.

Membiasakan ibadah dan amal saleh

Dalam penjelasannya mengenai husnul khatimah, Asep menyebut riwayat tentang keutamaan mengucapkan kalimat lā ilāha illallāh pada akhir kehidupan.

Ia mengingatkan keluarga yang mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut agar membimbingnya mengucapkan kalimat tauhid.

Asep juga mengajak jemaah membiasakan diri membaca Al-Qur’an, menunaikan salat, dan beramal saleh. Kebiasaan tersebut perlu dipelihara sebagai ikhtiar agar seseorang mengakhiri kehidupan dalam keadaan taat kepada Allah.

Selain itu, ia menyinggung riwayat mengenai keutamaan seorang Muslim yang meninggal pada malam Jumat atau hari Jumat, yang dalam kajian tersebut dikaitkannya dengan tanda husnul khatimah.

Menutup pesannya, Asep mengajak jemaah memanfaatkan waktu yang masih tersedia untuk meningkatkan ketakwaan.

Persiapan menghadapi akhir kehidupan, menurutnya, perlu dimulai sejak sekarang melalui kesungguhan beribadah, pengendalian hawa nafsu, dan konsistensi beramal saleh.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar