Editor
YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Muhammadiyah akan membahas Risalah Akidah Islam dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-33 di Surabaya, 5–7 November 2026.
Risalah itu dirumuskan untuk menjelaskan pokok-pokok keimanan serta membedakannya dari persoalan yang masih menjadi ruang perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Menjelang munas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar menanggapi agnostisisme, yakni pandangan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui secara pasti.
Menurut dia, sikap manusia terhadap agama dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Pada suatu saat orang bisa rindu kepada agama, di saat lain orang juga bisa bosan kepada agama. Jadi berbelok-belok sejak dari zaman dulu,” kata Syamsul dikutip dari laman Muhammadiyah, Selasa (3/11/2026).
Baca juga: Ketua PP Muhammadiyah: Bila Hukum Tak Dihormati, Hukum Rimba Akan Terjadi
Syamsul mencontohkan perubahan tersebut dalam sejarah Eropa, dari kuatnya pengaruh agama pada Abad Pertengahan hingga berkembangnya pemikiran rasional dan sekuler pada masa Renaisans dan sesudahnya.
Ia melihat agama masih berpeluang kembali mendapat perhatian di tengah masyarakat modern.
Dalam konteks Indonesia, Syamsul menekankan kedudukan nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa. Ia merujuk pada sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.
“Bagi masyarakat seperti orang-orang Muhammadiyah, kepercayaan kepada Tuhan itu adalah penting. Apalagi kita bangsa Indonesia, sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan ini mengimplikasikan bahwa bangsa kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Syamsul.
Baca juga: Hukum “Saweran” untuk Streamer Menurut Islam, Ini Penjelasan Muhammadiyah
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah merumuskan Risalah Akidah Islam untuk membantu umat memahami prinsip-prinsip keimanan.
Risalah itu juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi warga Muhammadiyah dalam menyikapi beragam pandangan keagamaan.
Draf risalah tersebut akan menjadi salah satu bahasan utama dalam Munas Tarjih di Surabaya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.