Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wasekjen PBNU Gagas Taman Monumen Bencana Antropogenik di Tapanuli

Kompas.com, 6 Januari 2026, 19:39 WIB
Farid Assifa

Editor

TAPANULI, KOMPAS.com — Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rahmat Hidayat Pulungan, menggagas pembangunan Taman Monumen Bencana Antropogenik di Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Tapanuli.

Monumen ini direncanakan berdiri di lokasi bencana yang mengakibatkan 55 rumah hancur dan tertimbun pasir akibat kerusakan lingkungan.

Rahmat Hidayat Pulungan yang juga dikenal sebagai Aktivis 1998 menegaskan, pembangunan taman monumen tersebut bertujuan untuk mengingatkan publik akan besarnya dampak kerusakan lingkungan yang dipicu oleh kejahatan lingkungan dan keserakahan manusia.

Baca juga: PBNU Gelar Doa untuk Negeri Satu NU Satu Bangsa untuk Bantu Penyintas Bencana

Menurutnya, taman ini dibangun di atas “kuburan” rumah warga sebagai pengingat betapa dahsyatnya bencana alam banjir bandang.

“Taman monumen ini diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa kerusakan alam tidak pernah berdampak kecil. Tragedi di Tolang Julu adalah pelajaran mahal tentang konsekuensi dari abainya manusia terhadap lingkungan,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi bencana Tapanuli, Sumatera, Selasa (6/1/2025).

Selain sebagai ruang refleksi, taman monumen tersebut juga dirancang menjadi sarana edukasi bagi anak-anak, generasi muda, serta masyarakat Tapanuli secara luas.

Melalui fasilitas edukatif, pengunjung diharapkan terdorong untuk terlibat aktif dalam pengawasan dan pelestarian hutan serta lingkungan di sekitarnya.

Lebih lanjut, Rahmat menyampaikan bahwa taman monumen ini juga diproyeksikan menjadi destinasi edu-wisata yang produktif.

Keberadaannya diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial, baik bagi masyarakat korban bencana, pemerintah daerah, maupun warga sekitar.

Tak hanya itu, taman monumen bencana antropogenik ini juga akan difungsikan sebagai salah satu pusat penelitian lingkungan di wilayah Tapanuli. Para peneliti dan akademisi dapat memanfaatkan kawasan tersebut untuk mengkaji dampak kerusakan lingkungan serta merumuskan langkah-langkah pencegahan bencana serupa di masa depan.

“Monumen ini bukan sekadar simbol duka, tetapi ruang pembelajaran dan perlawanan terhadap kejahatan lingkungan. Kami berharap masyarakat dan pemerintah daerah dapat bersama-sama mendukung inisiatif ini,” kata Rahmat.

Rencana pembangunan Taman Monumen Bencana Antropogenik Tapanuli ini menjadi bagian dari upaya PBNU dan elemen masyarakat sipil untuk mendorong kesadaran ekologis, sekaligus memperkuat komitmen perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.

Baca juga: PBNU Gelar Doa dan Ajak Masyarakat Bersatu Bantu Penyintas Bencana

Sementara itu, Kepala Desa Tolang Julu, Fuad Arrazy Daulay, menjelaskan, banjir bandang yang menerjang wilayahnya mengakibatkan sekitar 55 rumah warga hilang.

Kini, warga yang rumahnya hancur masih berada di posko pengungsian yang dibuatnya bersama TNI dan Polri.

“Saat ini sedang pengerukan dan pembersihan dari hulu sampai hilir. Relokasi hampir oke dan rumahnya 87 rumah,” ujar Fuad di lokasi yang sama.

Terkait pendirian taman monumen Bencana Tapanuli, Fuad menyatakan sebagian warga sangat mendukungnya demi mengingat kejadian banjir bandang,

“Ada yang sangat mendukung untuk mengingat kejadian banjir bandang, dan ada sebagian versi membuat anak-anak trauma,” ujarnya,

Fuad berharap ke depan jangan ada perambahan hutan di lokasinya.

“Dan jangan lah masuk perusahaan di wilayah kita, mengingat itu pasti merusak lingkungan kita,” katanya.

Terkait kekhawatiran bahwa taman monumen bencana menyebabkan warga trauma, Rahmat menyatakan bahwa di era digital ini akan sulit untuk menyembunyikan pengalaman bencana.

"Kita tidak sembunyikan pengalaman bencana karena semua sudah tersimpan di jejak digital, Anak-anak Gen A dan Gen Z ini akan sangat mudah untuk mencari data," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Astaghfirullah Artinya Apa? Ketahui Makna, Keutamaan, dan Tulisan Arabnya
Doa dan Niat
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Vegetarian Makin Populer di Arab Saudi, Pola Makan Warga Mulai Bergeser
Aktual
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Jadwal Pengajuan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II 2026, Total Rp 4,1 Triliun
Aktual
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Al-Qanun Al-Asasi Kembali Disosialisasikan, Gus Kikin: Ini Ruh NU
Aktual
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Lulusan Fakultas Syariah dan Hukum 111 PTKI Disiapkan Jadi Advokat
Aktual
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Madrasah Bisa Ajukan BOS via Digital, Kemenag Siapkan Rp 4,1 Triliun
Aktual
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Muhaimin Iskandar: Kawasan Ekonomi Pesantren Bisa Jadi Motor Pengentasan Kemiskinan
Aktual
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Anies Kenang Habib Saggaf Aljufri: Ilmu Tinggi, Hati Rendah, Permata Umat
Aktual
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat
Aktual
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Kemenag Siapkan BOS Madrasah dan BOP RA Tahap II Rp4,1 Triliun, Ini Jadwal Pengajuannya
Aktual
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Wamenag Minta Perketat Perlindungan Anak di Madrasah, bangun Budaya Berani Melapor
Aktual
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Muhammadiyah Maknai Jihad Masa Kini dengan Membangun Bangsa, Bukan Kekerasan
Aktual
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Ma'ruf Amin Dorong NU Perkuat Umat dan Kemandirian Ekonomi
Aktual
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Buka Muktamar Tapak Suci XIV, Ahmad Luthfi Soroti Peran Pencak Silat dalam Membangun Karakter dan Persatuan
Aktual
Ahmad Muzani: Qanun Asasi NU Jadi Landasan Menjaga Keutuhan NKRI
Ahmad Muzani: Qanun Asasi NU Jadi Landasan Menjaga Keutuhan NKRI
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar