Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sidang Isbat Lebaran 2026 Kapan? Ini Jadwal, Libur dan Cuti Bersama

Kompas.com, 16 Maret 2026, 10:49 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang akhir bulan Ramadan, satu pertanyaan yang mulai banyak dicari masyarakat Indonesia adalah kapan sidang isbat Idul Fitri 2026 digelar?

Sidang ini selalu menjadi momen penting karena dari forum tersebut pemerintah akan mengumumkan secara resmi kapan umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Penentuan awal bulan Syawal tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga berdampak luas pada aktivitas sosial, ekonomi, hingga mobilitas masyarakat.

Jadwal mudik, cuti bersama, hingga aktivitas sekolah biasanya menyesuaikan keputusan yang diumumkan melalui sidang isbat.

Untuk tahun 2026, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia telah memastikan jadwal pelaksanaan sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.

Sidang ini akan menjadi penentu resmi kapan umat Islam di Indonesia merayakan Lebaran.

Baca juga: Kapan Idul Fitri 2026? Hitung Mundur Lebaran dan Jadwal Liburnya

Kapan Sidang Isbat Idul Fitri 2026 Digelar?

Berdasarkan informasi resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia, sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026.

Tanggal tersebut bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 Hijriah, yaitu hari terakhir bulan puasa menurut kalender hijriah.

Sidang akan digelar di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama di Jakarta dan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat biasanya terdiri dari beberapa tahapan penting, yaitu:

  • Seminar posisi hilal
  • Pelaksanaan sidang tertutup bersama para ahli dan perwakilan organisasi Islam
  • Pengumuman hasil sidang isbat kepada publik

Proses ini dilakukan untuk memastikan penetapan awal bulan Syawal berdasarkan pertimbangan ilmiah sekaligus syariat Islam.

Siapa Saja yang Terlibat dalam Sidang Isbat?

Sidang isbat bukan hanya forum internal pemerintah. Dalam prosesnya, berbagai lembaga dan pakar dilibatkan untuk memberikan masukan ilmiah maupun keagamaan.

Beberapa pihak yang biasanya hadir dalam sidang isbat antara lain:

  • perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
  • peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional
  • astronom dari observatorium dan planetarium
  • perwakilan organisasi masyarakat Islam
  • pakar ilmu falak dan ulama

Keterlibatan banyak pihak ini dimaksudkan agar keputusan yang diambil memiliki dasar ilmiah yang kuat serta dapat diterima oleh masyarakat luas.

Dalam kajian ilmu falak, penentuan awal bulan hijriah memang membutuhkan kombinasi antara perhitungan astronomi (hisab) dan pengamatan bulan sabit pertama (rukyat).

Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa metode rukyat dan hisab telah digunakan sejak masa awal Islam untuk menentukan kalender hijriah.

Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi dalam memastikan awal bulan qamariyah secara akurat.

Prediksi Idul Fitri 2026 Menurut Perhitungan Astronomi

Sebelum sidang isbat digelar, sejumlah lembaga riset biasanya telah melakukan analisis posisi bulan untuk memperkirakan kapan Lebaran akan jatuh.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkirakan Idul Fitri 1447 H kemungkinan jatuh pada 21 Maret 2026.

Prediksi ini didasarkan pada posisi hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 di kawasan Asia Tenggara yang diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang disepakati negara-negara anggota MABIMS.

MABIMS menetapkan standar bahwa hilal dapat dinyatakan terlihat jika memenuhi dua syarat utama:

  • tinggi bulan minimal 3 derajat
  • elongasi bulan minimal 6,4 derajat

Jika posisi hilal belum memenuhi syarat tersebut, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri jatuh pada hari berikutnya.

Namun demikian, kepastian tanggal Lebaran tetap menunggu hasil sidang isbat yang mempertimbangkan laporan rukyat di berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Idul Fitri 1 Syawal 1447 H Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan BRIN

Penetapan Lebaran Versi Muhammadiyah

Selain pemerintah, organisasi Islam juga memiliki metode penentuan kalender hijriah masing-masing.

Muhammadiyah misalnya telah menetapkan tanggal awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal terjadi pada 19 Maret 2026 sekitar pukul 01.23 UTC.

Berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal, Muhammadiyah menentukan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Perbedaan metode penentuan ini merupakan hal yang sudah lama terjadi dalam praktik penanggalan Islam.

Namun dalam banyak kesempatan, keputusan pemerintah dan organisasi Islam sering kali tetap berakhir pada tanggal yang sama.

Jadwal Libur Nasional dan Cuti Bersama Lebaran 2026

Selain menunggu kepastian tanggal Lebaran, masyarakat juga biasanya mencari informasi mengenai jadwal libur nasional dan cuti bersama.

Pemerintah telah menetapkan jadwal tersebut melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.

Dalam keputusan tersebut, rangkaian libur Lebaran 2026 berdekatan dengan perayaan Hari Suci Nyepi sehingga masyarakat berpotensi menikmati libur panjang.

Berikut jadwal lengkapnya:

  • 18 Maret 2026 – cuti bersama Hari Suci Nyepi
  • 19 Maret 2026 – libur nasional Nyepi
  • 20 Maret 2026 – cuti bersama Idul Fitri
  • 21 Maret 2026 – libur nasional Idul Fitri
  • 22 Maret 2026 – libur nasional Idul Fitri
  • 23 Maret 2026 – cuti bersama Idul Fitri
  • 24 Maret 2026 – cuti bersama Idul Fitri

Jadwal ini menjadi acuan bagi instansi pemerintah maupun sektor swasta dalam mengatur aktivitas kerja selama periode Lebaran.

Dalam buku Kalender Hijriah dan Penentuan Awal Bulan Islam karya Thomas Djamaluddin, dijelaskan bahwa perayaan Idul Fitri tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga memiliki dampak sosial ekonomi yang besar, terutama di negara dengan populasi Muslim besar seperti Indonesia.

Jadwal Libur Sekolah Lebaran 2026

Selain libur nasional, pemerintah juga menetapkan jadwal khusus untuk kegiatan pendidikan selama bulan Ramadan.

Ketentuan ini diatur melalui Surat Edaran Bersama tentang pembelajaran selama Ramadan.

Berdasarkan aturan tersebut, libur sekolah menjelang Lebaran 2026 berlangsung cukup panjang, yaitu sekitar 16 hari kalender.

Berikut gambaran periode liburnya:

  • 14–15 Maret 2026 – libur akhir pekan
  • 16–20 Maret 2026 – libur Lebaran
  • 21–22 Maret 2026 – Idul Fitri
  • 23–27 Maret 2026 – libur Lebaran lanjutan
  • 28–29 Maret 2026 – libur akhir pekan

Kegiatan belajar mengajar dijadwalkan kembali mulai Senin, 30 Maret 2026.

Baca juga: Kapan Lebaran 2026? Ini Jadwal Idul Fitri Versi Muhammadiyah, PERSIS, dan Prediksi Pemerintah

Kebijakan WFA Saat Mudik Lebaran 2026

Untuk mengurangi kepadatan arus mudik dan arus balik, pemerintah juga menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi sebagian aparatur sipil negara.

Kebijakan ini memungkinkan pegawai bekerja dari lokasi mana pun tanpa harus datang langsung ke kantor.

Skema WFA diterapkan dalam dua fase:

Fase arus mudik

  • 16 Maret 2026
  • 17 Maret 2026

Fase arus balik

  • 25 Maret 2026
  • 26 Maret 2026
  • 27 Maret 2026

Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengurai kemacetan di jalur transportasi utama selama periode mudik Lebaran.

Sidang Isbat dan Tradisi Penentuan Awal Bulan Hijriah

Sidang isbat sendiri memiliki sejarah panjang dalam praktik keagamaan di Indonesia. Forum ini menjadi ruang musyawarah antara pemerintah, ulama, dan para ahli astronomi untuk menentukan awal bulan hijriah secara bersama-sama.

Dalam buku Hisab Rukyat dan Aplikasinya dalam Penentuan Awal Bulan Hijriah karya Ahmad Izzuddin, dijelaskan bahwa Indonesia menggunakan pendekatan kombinasi antara perhitungan astronomi modern dan pengamatan langsung terhadap hilal.

Pendekatan ini dianggap sebagai jalan tengah antara metode hisab dan rukyat yang selama ini digunakan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat Muslim.

Menunggu Kepastian Lebaran 2026

Bagi masyarakat Indonesia, sidang isbat bukan sekadar agenda formal pemerintah. Pengumuman hasil sidang biasanya selalu ditunggu karena menentukan kapan umat Islam merayakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.

Dengan jadwal sidang isbat yang telah ditetapkan pada 19 Maret 2026, masyarakat tinggal menunggu hasil pengamatan hilal dan keputusan resmi pemerintah.

Apakah Idul Fitri akan jatuh pada 21 Maret 2026 atau tanggal lainnya, semuanya akan diumumkan setelah sidang isbat selesai digelar.

Yang pasti, momen ini selalu menjadi bagian penting dari tradisi keagamaan di Indonesia—menggabungkan ilmu astronomi, kajian fiqih, serta musyawarah ulama dalam menentukan awal bulan Syawal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com