KOMPAS.com - Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Selain identik dengan tradisi silaturahmi dan mudik, banyak masyarakat juga mulai mempersiapkan rencana perjalanan, liburan keluarga, hingga kegiatan ibadah jauh hari sebelumnya.
Memasuki pertengahan Ramadhan 1447 Hijriah, pertanyaan mengenai Lebaran 2026 jatuh pada hari apa semakin sering muncul.
Dari perspektif kalender hijriah hingga prediksi astronomi, sejumlah lembaga telah memberikan perkiraan mengenai tanggal 1 Syawal 1447 H.
Lalu, jika dihitung dari hari ini Sabtu, 14 Maret 2026, berapa hari lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri? Berikut penjelasan lengkapnya.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Jika dihitung dari Sabtu, 14 Maret 2026, maka Idul Fitri 2026 tinggal 7 hari lagi.
Artinya, umat Islam kini berada di fase akhir Ramadhan yang sering disebut sebagai sepuluh hari terakhir, periode yang dalam tradisi Islam dianggap sebagai waktu paling istimewa untuk meningkatkan ibadah.
Dalam buku Fiqh Puasa dan Zakat karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keutamaan besar karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak doa, sedekah, dan ibadah malam.
Baca juga: Jadwal Operasional Bank Saat Lebaran 2026: BCA, BNI, dan BRI
Meskipun kalender telah memberikan perkiraan tanggal, penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tetap menunggu sidang isbat yang digelar pemerintah.
Sidang tersebut biasanya dilaksanakan oleh Kementerian Agama RI menjelang akhir Ramadhan. Untuk tahun ini, sidang isbat diperkirakan digelar pada Kamis, 19 Maret 2026.
Penentuan awal Syawal dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu:
Metode ini juga digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) sebagai standar bersama dalam menentukan awal bulan hijriah.
Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa rukyat dan hisab merupakan dua metode yang saling melengkapi dalam penentuan kalender Islam.
Hisab digunakan untuk memprediksi posisi bulan, sementara rukyat memastikan visibilitas hilal secara empiris.
Sejumlah lembaga riset dan institusi astronomi telah memprediksi kemungkinan tanggal Idul Fitri 2026.
Peneliti astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebutkan bahwa posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan MABIMS.
Menurutnya, ketika matahari terbenam pada tanggal tersebut, ketinggian bulan di sebagian wilayah Asia Tenggara masih berada di bawah batas minimal yang memungkinkan hilal terlihat.
Prediksi serupa juga disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan data astronomi yang dirilis lembaga tersebut, tinggi hilal di Indonesia pada hari pemantauan juga belum memenuhi standar imkan rukyat.
Jika kondisi tersebut terjadi, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan perbedaan penentuan tanggal Idul Fitri tetap ada karena perbedaan metode yang digunakan oleh organisasi Islam.
Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki yang merujuk pada prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Berdasarkan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU) yang menggabungkan perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal. Penetapan resmi biasanya dilakukan setelah proses rukyatul hilal menjelang akhir Ramadhan.
Perbedaan metode ini merupakan dinamika yang sudah lama dikenal dalam tradisi penentuan kalender Islam di Indonesia.
Selain menantikan hari raya, masyarakat juga menunggu jadwal libur nasional dan cuti bersama yang biasanya dimanfaatkan untuk mudik atau berkumpul bersama keluarga.
Pemerintah telah menetapkan jadwal libur tersebut melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Berdasarkan keputusan tersebut, berikut jadwal libur Lebaran 2026:
Dengan jadwal tersebut, masyarakat berpotensi menikmati libur panjang selama beberapa hari yang biasanya dimanfaatkan untuk perjalanan mudik ke kampung halaman.
Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan.
Lebih dari itu, hari raya ini juga menjadi momentum memperkuat hubungan sosial dan spiritual.
Dalam buku Ensiklopedi Islam karya Cyril Glasse, Idul Fitri digambarkan sebagai perayaan religius yang menandai berakhirnya masa latihan spiritual selama Ramadhan, sekaligus simbol kembali kepada keadaan fitrah atau kesucian.
Tradisi saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi kepada sesama merupakan nilai penting yang terus dijaga oleh masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia.
Dengan hitung mundur yang kini tinggal sekitar satu pekan lagi, suasana Ramadhan biasanya mulai terasa semakin semarak.
Pusat perbelanjaan ramai oleh masyarakat yang mempersiapkan kebutuhan Lebaran, sementara sebagian lainnya mulai merencanakan perjalanan mudik.
Namun di balik berbagai persiapan tersebut, makna utama Idul Fitri tetap terletak pada keberhasilan menjalani proses spiritual selama Ramadhan.
Oleh karena itu, banyak ulama mengingatkan agar umat Islam tidak hanya sibuk dengan persiapan lahiriah, tetapi juga memanfaatkan sisa Ramadhan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan dengan sesama.
Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya puasa, melainkan juga momentum kembali kepada fitrah sebagaimana makna yang terkandung dalam namanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang