Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Idul Fitri 2026? Hitung Mundur Lebaran dan Jadwal Liburnya

Kompas.com, 14 Maret 2026, 14:55 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hari Raya Idul Fitri selalu menjadi momen yang dinanti umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Selain identik dengan tradisi silaturahmi dan mudik, banyak masyarakat juga mulai mempersiapkan rencana perjalanan, liburan keluarga, hingga kegiatan ibadah jauh hari sebelumnya.

Memasuki pertengahan Ramadhan 1447 Hijriah, pertanyaan mengenai Lebaran 2026 jatuh pada hari apa semakin sering muncul.

Dari perspektif kalender hijriah hingga prediksi astronomi, sejumlah lembaga telah memberikan perkiraan mengenai tanggal 1 Syawal 1447 H.

Lalu, jika dihitung dari hari ini Sabtu, 14 Maret 2026, berapa hari lagi umat Islam akan merayakan Idul Fitri? Berikut penjelasan lengkapnya.

Hitung Mundur Lebaran 2026 dari Hari Ini

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Jika dihitung dari Sabtu, 14 Maret 2026, maka Idul Fitri 2026 tinggal 7 hari lagi.

Artinya, umat Islam kini berada di fase akhir Ramadhan yang sering disebut sebagai sepuluh hari terakhir, periode yang dalam tradisi Islam dianggap sebagai waktu paling istimewa untuk meningkatkan ibadah.

Dalam buku Fiqh Puasa dan Zakat karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki keutamaan besar karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Oleh karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan waktu ini untuk memperbanyak doa, sedekah, dan ibadah malam.

Baca juga: Jadwal Operasional Bank Saat Lebaran 2026: BCA, BNI, dan BRI

Penentuan Resmi Lebaran Menunggu Sidang Isbat

Meskipun kalender telah memberikan perkiraan tanggal, penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri di Indonesia tetap menunggu sidang isbat yang digelar pemerintah.

Sidang tersebut biasanya dilaksanakan oleh Kementerian Agama RI menjelang akhir Ramadhan. Untuk tahun ini, sidang isbat diperkirakan digelar pada Kamis, 19 Maret 2026.

Penentuan awal Syawal dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu:

  • Hisab (perhitungan astronomi)
  • Rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama)

Metode ini juga digunakan oleh negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) sebagai standar bersama dalam menentukan awal bulan hijriah.

Dalam buku Ilmu Falak Praktis karya Susiknan Azhari, dijelaskan bahwa rukyat dan hisab merupakan dua metode yang saling melengkapi dalam penentuan kalender Islam.

Hisab digunakan untuk memprediksi posisi bulan, sementara rukyat memastikan visibilitas hilal secara empiris.

Prediksi Astronomi: Lebaran Berpotensi 21 Maret 2026

Sejumlah lembaga riset dan institusi astronomi telah memprediksi kemungkinan tanggal Idul Fitri 2026.

Peneliti astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebutkan bahwa posisi hilal pada 19 Maret 2026 diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan MABIMS.

Menurutnya, ketika matahari terbenam pada tanggal tersebut, ketinggian bulan di sebagian wilayah Asia Tenggara masih berada di bawah batas minimal yang memungkinkan hilal terlihat.

Prediksi serupa juga disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Berdasarkan data astronomi yang dirilis lembaga tersebut, tinggi hilal di Indonesia pada hari pemantauan juga belum memenuhi standar imkan rukyat.

Jika kondisi tersebut terjadi, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Baca juga: Lebaran 2026 Tanggal 20 atau 21 Maret? Ini Prediksi Idul Fitri 1447 H Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan BRIN

Perbedaan Metode Penentuan Lebaran

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan perbedaan penentuan tanggal Idul Fitri tetap ada karena perbedaan metode yang digunakan oleh organisasi Islam.

Muhammadiyah

Organisasi ini menggunakan metode hisab hakiki yang merujuk pada prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Berdasarkan perhitungan tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Nahdlatul Ulama

Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama (IRNU) yang menggabungkan perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal. Penetapan resmi biasanya dilakukan setelah proses rukyatul hilal menjelang akhir Ramadhan.

Perbedaan metode ini merupakan dinamika yang sudah lama dikenal dalam tradisi penentuan kalender Islam di Indonesia.

Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran 2026

Selain menantikan hari raya, masyarakat juga menunggu jadwal libur nasional dan cuti bersama yang biasanya dimanfaatkan untuk mudik atau berkumpul bersama keluarga.

Pemerintah telah menetapkan jadwal libur tersebut melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.

Berdasarkan keputusan tersebut, berikut jadwal libur Lebaran 2026:

  • Jumat, 20 Maret 2026 – Cuti bersama Idul Fitri
  • Sabtu, 21 Maret 2026 – Libur nasional Idul Fitri
  • Minggu, 22 Maret 2026 – Libur nasional Idul Fitri
  • Senin, 23 Maret 2026 – Cuti bersama Idul Fitri
  • Selasa, 24 Maret 2026 – Cuti bersama Idul Fitri

Dengan jadwal tersebut, masyarakat berpotensi menikmati libur panjang selama beberapa hari yang biasanya dimanfaatkan untuk perjalanan mudik ke kampung halaman.

Baca juga: Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi Idul Fitri 1 Syawal 1447 H Menurut Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan BRIN

Momentum Sosial dan Spiritual Idul Fitri

Idul Fitri tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan.

Lebih dari itu, hari raya ini juga menjadi momentum memperkuat hubungan sosial dan spiritual.

Dalam buku Ensiklopedi Islam karya Cyril Glasse, Idul Fitri digambarkan sebagai perayaan religius yang menandai berakhirnya masa latihan spiritual selama Ramadhan, sekaligus simbol kembali kepada keadaan fitrah atau kesucian.

Tradisi saling memaafkan, bersilaturahmi, dan berbagi kepada sesama merupakan nilai penting yang terus dijaga oleh masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia.

Menanti Hari Kemenangan

Dengan hitung mundur yang kini tinggal sekitar satu pekan lagi, suasana Ramadhan biasanya mulai terasa semakin semarak.

Pusat perbelanjaan ramai oleh masyarakat yang mempersiapkan kebutuhan Lebaran, sementara sebagian lainnya mulai merencanakan perjalanan mudik.

Namun di balik berbagai persiapan tersebut, makna utama Idul Fitri tetap terletak pada keberhasilan menjalani proses spiritual selama Ramadhan.

Oleh karena itu, banyak ulama mengingatkan agar umat Islam tidak hanya sibuk dengan persiapan lahiriah, tetapi juga memanfaatkan sisa Ramadhan untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, serta memperkuat hubungan dengan sesama.

Sebab pada akhirnya, Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya puasa, melainkan juga momentum kembali kepada fitrah sebagaimana makna yang terkandung dalam namanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com