BOJONEGORO, KOMPAS.com – Tradisi Malem Songo atau malam ke-29 Ramadan di Kabupaten Bojonegoro kembali menyita perhatian. Tahun 2026 ini, jumlah pasangan yang akan melangsungkan akad nikah melonjak tajam hingga mencapai 538 pasangan.
Data dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bojonegoro per 17 Maret 2026 menunjukkan angka tersebut naik signifikan dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencatat 487 pasangan.
Plt Kasi Bimas Islam Kemenag Bojonegoro, Sun’an, mengungkapkan bahwa lonjakan ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap tradisi Malem Songo yang diyakini penuh berkah.
Baca juga: Tradisi Malam Songo, 358 Pasangan di Tuban Daftar Nikah, Plumpang Terbanyak
“Kecamatan Baureno memang masih yang terbanyak. Sebaliknya, wilayah seperti Ngambon dan Sekar tercatat nihil,” kata Sun’an saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (18/3/2026).
Secara rinci, Kecamatan Baureno menjadi wilayah dengan jumlah pernikahan tertinggi, yakni 62 pasangan. Disusul Kepohbaru sebanyak 48 pasangan, Sumberrejo 36 pasangan, dan Kanor 34 pasangan.
Namun di balik kemeriahan tradisi tersebut, terselip fakta yang memprihatinkan. Sebanyak 44 pasangan tercatat mengajukan dispensasi nikah (Diska) karena masih di bawah umur.
Panitera Pengadilan Agama Bojonegoro, Sholikin Jamik, menyebutkan bahwa permohonan dispensasi tersebut diajukan sejak awal Februari hingga awal Maret 2026.
“Jumlahnya ada 44 perkara yang diterima dan sudah diputus terakhir tanggal 17 Maret 2026,” ujar Sholikin.
Ia menjelaskan, hakim sering dihadapkan pada situasi dilematis dalam memutus perkara dispensasi nikah. Ada tiga alasan utama yang mendasari permohonan tersebut.
Pertama, kondisi darurat seperti kehamilan di luar nikah. Kedua, adanya riwayat hubungan di luar pernikahan. Ketiga, kekhawatiran orang tua karena anak dianggap sulit dikendalikan dan berpotensi melakukan pelanggaran norma.
Baca juga: Festival Tumbilotohe, Tradisi Menjemput Malam Lailatul Qadar di Manado
“Kalau sudah menyangkut poin satu dan dua, biasanya pasti dikabulkan dengan pertimbangan tertentu. Namun, alasan ketiga sebenarnya masih bisa dicegah dengan pengawasan orang tua lebih maksimal,” jelasnya.
Terlepas dari persoalan pernikahan dini, tradisi Malem Songo tetap menjadi primadona masyarakat Bojonegoro. Selain memiliki nilai religius sebagai malam penuh keberkahan di penghujung Ramadan, momen ini juga diyakini membawa harapan baik bagi kehidupan rumah tangga para mempelai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang