KOMPAS.com - Setelah melewati bulan Ramadan dan merayakan Idul fitri, semangat beribadah umat Islam umumnya belum surut.
Banyak yang melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, sementara sebagian lainnya tetap menjaga rutinitas puasa Senin Kamis.
Namun, ketika dua amalan sunah ini bertemu dalam satu waktu, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas, apakah puasa Syawal boleh digabung dengan puasa Senin Kamis?
Pertanyaan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyangkut keabsahan ibadah dan keutamaan pahala yang diharapkan. Berikut penjelasan lengkapnya.
Puasa Syawal merupakan ibadah sunah yang memiliki keutamaan besar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadan lalu diikuti enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun.
Sementara itu, puasa Senin Kamis adalah amalan rutin yang juga dianjurkan. Rasulullah SAW dikenal menjaga puasa di dua hari tersebut karena pada hari Senin dan Kamis, amal manusia diangkat.
Kedua puasa ini sama-sama berstatus sunah, sehingga secara prinsip memiliki ruang fleksibilitas dalam pelaksanaannya.
Baca juga: Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Menjaga Ruh Ramadhan di Bulan Syawal dan Seterusnya
Para ulama pada umumnya membolehkan penggabungan niat puasa Syawal dengan puasa Senin atau Kamis.
Hal ini didasarkan pada kaidah fikih yang memperbolehkan penggabungan dua ibadah sunah dalam satu amalan selama jenisnya sama.
Dalam literatur fikih, konsep ini dikenal dengan istilah tasyrik an-niyyah (penggabungan niat). Dijelaskan oleh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin, bahwa seseorang yang menggabungkan dua ibadah sunah dalam satu niat tetap berpeluang mendapatkan pahala keduanya.
Pandangan ini juga sejalan dengan prinsip dasar dalam Al-Qur’an bahwa setiap amal tergantung pada niatnya. Selama niat tersebut jelas dan mencakup kedua ibadah, maka penggabungan dinilai sah.
Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa memisahkan puasa Syawal dari puasa Senin Kamis dapat memberikan keutamaan yang lebih sempurna. Namun, pendapat ini lebih bersifat anjuran, bukan kewajiban.
Dalam praktiknya, niat menjadi aspek penting. Untuk puasa gabungan, niat harus mencakup kedua tujuan ibadah.
Berikut bacaan niat yang dapat digunakan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَوَّالٍ وَسُنَّةِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ (أَوِ الْخَمِيسِ) لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adā’i sunnati Syawwāl wa sunnati yaumil itsnaini (au khamīs) lillāhi ta’ālā.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal dan puasa hari Senin (atau Kamis) esok hari karena Allah Ta’ala.”
Mayoritas ulama menegaskan bahwa niat puasa sunah boleh dilakukan pada malam hari maupun di pagi hari sebelum tergelincir matahari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini memberikan kemudahan dibanding puasa wajib.
Baca juga: Hukum Menggabung Puasa Qadha dan Syawal, Boleh atau Harus Dipisah? Ini Penjelasan Ulama
Puasa Syawal dilaksanakan sejak 2 Syawal hingga akhir bulan Syawal. Sementara puasa Senin Kamis mengikuti siklus mingguan.
Artinya, penggabungan keduanya bisa dilakukan secara alami ketika hari Senin atau Kamis jatuh di bulan Syawal.
Umat Islam bahkan dianjurkan merencanakan puasa Syawal agar bertepatan dengan hari tersebut untuk mendapatkan pahala ganda.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq disebutkan bahwa ibadah sunah memiliki keluasan waktu yang memberi kemudahan bagi pelakunya, selama tidak keluar dari ketentuan dasar syariat.
Secara metodologis, para ulama membolehkan penggabungan ini karena beberapa alasan:
Pertama, kedua puasa tersebut merupakan ibadah sunah, bukan wajib. Dalam kaidah fikih, penggabungan ibadah lebih longgar pada ranah sunah.
Kedua, tujuan ibadahnya tidak saling bertentangan. Puasa Syawal bertujuan menyempurnakan Ramadan, sementara puasa Senin Kamis merupakan amalan rutin mingguan.
Ketiga, terdapat analogi dalam ibadah lain. Dalam kitab Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa satu amalan dapat memiliki lebih dari satu niat selama tidak saling meniadakan.
Konsep ini juga berlaku dalam ibadah lain, seperti seseorang yang berniat mandi wajib sekaligus mandi sunah dalam satu waktu.
Baca juga: Jangan Berhenti di Lebaran, Ini Ibadah Sunnah di Bulan Syawal
Selain fleksibilitas dalam pelaksanaannya, puasa Syawal memiliki nilai spiritual yang tinggi. Ia menjadi penyempurna ibadah Ramadan, sekaligus indikator konsistensi seorang Muslim dalam beribadah.
Perhitungan pahala yang setara dengan satu tahun puasa juga menunjukkan betapa besar keutamaannya.
Ini didasarkan pada prinsip pelipatgandaan amal, di mana satu kebaikan dihitung sepuluh kali lipat.
Dalam buku Fiqh Ibadah karya Yusuf al-Qaradawi dijelaskan bahwa ibadah sunah seperti puasa Syawal berfungsi menutup kekurangan dalam ibadah wajib, sekaligus meningkatkan kualitas spiritual seorang hamba.
Menggabungkan puasa Syawal dengan puasa Senin Kamis pada dasarnya merupakan bentuk kemudahan dalam beribadah.
Islam tidak membebani umatnya di luar kemampuan, tetapi tetap membuka ruang untuk meraih pahala secara optimal.
Bagi yang ingin lebih maksimal, memisahkan keduanya bisa menjadi pilihan. Namun, bagi yang memiliki keterbatasan waktu atau kondisi tertentu, penggabungan tetap sah dan bernilai ibadah.
Pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya jumlah amalan, tetapi juga keikhlasan dan konsistensi dalam menjalankannya.
Di bulan Syawal yang penuh keberkahan, setiap langkah kecil dalam ibadah bisa menjadi jalan menuju kedekatan yang lebih dalam kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang