Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia

Kompas.com, 2 April 2026, 16:09 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dalam narasi besar sejarah sains, nama-nama ilmuwan Muslim kerap didominasi oleh laki-laki.

Padahal, di balik kejayaan peradaban Islam, terdapat kontribusi signifikan dari para perempuan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga inovatif dan berpengaruh lintas zaman.

Sayangnya, peran mereka sering luput dari sorotan. Padahal, jejak intelektual para ilmuwan muslimah ini turut membentuk fondasi ilmu pengetahuan modern, mulai dari kedokteran, matematika, hingga astronomi.

Lantas, siapa saja mereka? Dan mengapa kontribusi perempuan dalam sains Islam sering dianggap “tidak ada”?

Baca juga: Kiamat Menurut Islam: Antara Dalil Ilahi dan Prediksi Sains

Perempuan dan Ilmu dalam Tradisi Islam

Sejak awal, Islam tidak pernah membatasi akses perempuan terhadap ilmu. Dalam berbagai riwayat, menuntut ilmu justru menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, tanpa memandang jenis kelamin.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri.

Hal ini tercermin dalam sejarah, di mana banyak perempuan menjadi guru, perawi hadis, hingga ilmuwan.

Sejarawan dalam The History of Islamic Civilization juga menegaskan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-13).

Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya

Mengapa Ilmuwan Perempuan Muslim Kurang Terdengar?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan minimnya eksposur terhadap ilmuwan perempuan:

Pertama, historiografi klasik cenderung berfokus pada tokoh politik dan militer, yang mayoritas laki-laki.

Kedua, banyak karya perempuan tidak terdokumentasi secara sistematis.

Ketiga, bias budaya di masa-masa tertentu yang membatasi ruang publik perempuan, meski tidak sepenuhnya mencerminkan ajaran Islam.

Namun, penelitian modern mulai mengangkat kembali nama-nama yang selama ini tersembunyi.

Ilmuwan Muslimah yang Mengubah Dunia

1. Rufaida Al-Aslamia: Pelopor Dunia Medis

Rufaida dikenal sebagai sosok perintis keperawatan dalam sejarah Islam. Ia hidup pada masa Nabi Muhammad SAW dan aktif merawat korban perang.

Tidak hanya itu, ia juga mendirikan semacam rumah sakit lapangan—konsep yang kini menjadi standar dalam dunia medis modern.

Dalam literatur klasik seperti Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, disebutkan perannya dalam merawat Sa'ad bin Mu'adz yang terluka dalam Perang Khandaq.

Kontribusinya tidak berhenti di situ. Ia juga merancang sistem pelatihan perawat dan etika medis berbasis nilai Islam.

2. Sutayta Al-Mahamali: Ahli Aljabar dari Baghdad

Di tengah gemerlap intelektual Baghdad abad ke-10, Sutayta muncul sebagai matematikawan perempuan yang disegani.

Ia dikenal karena kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan aljabar kompleks dan perhitungan waris, ilmu yang sangat penting dalam hukum Islam.

Lingkungan keluarganya yang intelektual membentuknya menjadi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga produktif dalam mengembangkan teori matematika.

Baca juga: 7 Keistimewaan Khadijah, Istri Pertama Nabi Muhammad SAW yang Berjuluk Ummul Mukminin

3. Mariam Al-Ijliya: Perancang Teknologi Navigasi

Mariam adalah ilmuwan astronomi dari Aleppo yang dikenal sebagai pengembang astrolabe, alat navigasi kuno yang menjadi cikal bakal sistem GPS (Global Positioning System).

Astrolabe digunakan untuk menentukan posisi bintang, arah kiblat, hingga waktu salat.

Dalam perkembangan teknologi, prinsip kerja alat ini menjadi dasar bagi sistem navigasi modern.

Kontribusinya menunjukkan bahwa perempuan Muslim juga terlibat dalam inovasi teknologi tinggi pada masanya.

4. Al-Shifa binti Abdullah: Apoteker dan Administrator

Al-Shifa bukan hanya ahli pengobatan, tetapi juga dikenal sebagai perempuan cerdas yang menguasai literasi, kemampuan langka pada masa itu.

Ia bahkan dipercaya oleh Umar bin Khattab untuk mengawasi pasar di Madinah, menunjukkan kapasitasnya dalam bidang ekonomi dan administrasi.

Selain itu, ia juga menjadi guru bagi perempuan lain, termasuk Hafsah binti Umar.

5. Lubna dari Cordoba: Matematikawan dan Pustakawan Istana

Lubna adalah simbol kecerdasan perempuan dalam peradaban Islam di Andalusia. Berawal dari seorang budak, ia berhasil menjadi sekretaris dan pustakawan di istana khalifah.

Ia menguasai berbagai bidang, mulai dari matematika, sastra, hingga filologi.

Dalam catatan Ibnu Bashkuwal, Lubna dikenal sebagai ilmuwan yang mampu menyelesaikan persoalan matematika kompleks dan aktif mengajarkan ilmu kepada masyarakat.

Baca juga: Inspirasi Istri-istri Rasulullah SAW untuk Muslimah Produktif Masa Kini

Warisan Ilmiah yang Terus Hidup

Kontribusi para ilmuwan muslimah ini tidak berhenti pada zamannya. Banyak konsep yang mereka kembangkan menjadi dasar bagi ilmu modern:

  • Sistem rumah sakit lapangan dalam kedokteran
  • Aljabar dan matematika dalam sains modern
  • Navigasi berbasis astronomi yang berkembang menjadi GPS
  • Literasi dan pendidikan perempuan

Dalam buku Islamic Science and the Making of the European Renaissance karya George Saliba, dijelaskan bahwa peradaban Islam, termasuk kontribusi perempuan, memiliki pengaruh besar terhadap kebangkitan sains di Eropa.

Relevansi di Era Modern

Di tengah upaya kesetaraan gender saat ini, kisah para ilmuwan muslimah ini menjadi bukti bahwa Islam sejak awal telah membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang.

Mereka menunjukkan bahwa:

  • Ilmu tidak mengenal gender
  • Perempuan mampu menjadi inovator dan pemimpin
  • Kontribusi intelektual adalah bagian dari ibadah

Lebih dari sekadar sejarah, kisah mereka adalah inspirasi untuk generasi masa kini agar terus belajar, berkarya, dan berkontribusi.

Anggapan bahwa perempuan Muslim tidak berperan dalam dunia sains adalah keliru. Sejarah justru mencatat sebaliknya.

Dari Rufaida Al-Aslamia hingga Lubna dari Cordoba, mereka adalah bukti nyata bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban.

Yang perlu dilakukan hari ini bukan sekadar mengingat, tetapi menghidupkan kembali semangat mereka, bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan yang terbuka bagi siapa saja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
ISNU Puji Prabowo Tahan Harga BBM di Tengah Tekanan Global
ISNU Puji Prabowo Tahan Harga BBM di Tengah Tekanan Global
Aktual
Niat Puasa Senin Kamis: Panduan Lengkap dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Niat Puasa Senin Kamis: Panduan Lengkap dan Manfaatnya bagi Kesehatan
Doa dan Niat
Makkah Bakal Punya Bandara Internasional, Akses Jemaah Haji Bisa Lebih Cepat
Makkah Bakal Punya Bandara Internasional, Akses Jemaah Haji Bisa Lebih Cepat
Aktual
Perpres Ditjen Pesantren Sudah Diteken, Kemenag Siapkan Struktur dan SDM
Perpres Ditjen Pesantren Sudah Diteken, Kemenag Siapkan Struktur dan SDM
Aktual
MUI Keluarkan 10 Poin Sikap Tegas: Kecam Keras Agresi AS-Israel, Serukan Dunia Hentikan Perang Sekarang
MUI Keluarkan 10 Poin Sikap Tegas: Kecam Keras Agresi AS-Israel, Serukan Dunia Hentikan Perang Sekarang
Aktual
ASN WFH Tiap Jumat, Menag Tegaskan Layanan Kemenag Tetap Berjalan Optimal
ASN WFH Tiap Jumat, Menag Tegaskan Layanan Kemenag Tetap Berjalan Optimal
Aktual
Hukum Tidak Menunaikan Shalat Jumat karena Bekerja, Ini Penjelasan MUI
Hukum Tidak Menunaikan Shalat Jumat karena Bekerja, Ini Penjelasan MUI
Aktual
Aturan WFH ASN Kemenag Tiap Jumat: Kerja dari Rumah Bukan WFA, Wajib Standby dan Disiplin Digital
Aturan WFH ASN Kemenag Tiap Jumat: Kerja dari Rumah Bukan WFA, Wajib Standby dan Disiplin Digital
Aktual
Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia
Jarang Disorot, 5 Ilmuwan Perempuan Muslim Pionir Sains Dunia
Aktual
5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Aktual
Hukum April Mop dalam Islam: Bolehkah Bercanda dengan Kebohongan?
Hukum April Mop dalam Islam: Bolehkah Bercanda dengan Kebohongan?
Aktual
Mengenal Raudhah, “Taman Surga” di Masjid Nabawi: Lokasi, Cara Masuk, Jam Kunjungan, dan Keistimewaannya
Mengenal Raudhah, “Taman Surga” di Masjid Nabawi: Lokasi, Cara Masuk, Jam Kunjungan, dan Keistimewaannya
Aktual
9 Amalan Malam Jumat yang Dianjurkan, Lengkap dengan Dalil
9 Amalan Malam Jumat yang Dianjurkan, Lengkap dengan Dalil
Aktual
Khutbah Jumat 3 April 2026: Sering Dianggap Biasa, Ternyata April Mop Bisa Jadi Dosa dalam Islam
Khutbah Jumat 3 April 2026: Sering Dianggap Biasa, Ternyata April Mop Bisa Jadi Dosa dalam Islam
Aktual
Lebaran Haji 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cuti Bersama
Lebaran Haji 2026 Tanggal Berapa? Ini Jadwal dan Cuti Bersama
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com