KOMPAS.com – Dalam narasi besar sejarah sains, nama-nama ilmuwan Muslim kerap didominasi oleh laki-laki.
Padahal, di balik kejayaan peradaban Islam, terdapat kontribusi signifikan dari para perempuan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga inovatif dan berpengaruh lintas zaman.
Sayangnya, peran mereka sering luput dari sorotan. Padahal, jejak intelektual para ilmuwan muslimah ini turut membentuk fondasi ilmu pengetahuan modern, mulai dari kedokteran, matematika, hingga astronomi.
Lantas, siapa saja mereka? Dan mengapa kontribusi perempuan dalam sains Islam sering dianggap “tidak ada”?
Baca juga: Kiamat Menurut Islam: Antara Dalil Ilahi dan Prediksi Sains
Sejak awal, Islam tidak pernah membatasi akses perempuan terhadap ilmu. Dalam berbagai riwayat, menuntut ilmu justru menjadi kewajiban bagi setiap Muslim, tanpa memandang jenis kelamin.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam pendidikan dan pengembangan diri.
Hal ini tercermin dalam sejarah, di mana banyak perempuan menjadi guru, perawi hadis, hingga ilmuwan.
Sejarawan dalam The History of Islamic Civilization juga menegaskan bahwa perempuan memainkan peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-13).
Baca juga: 5 Muslimah Hebat Zaman Nabi: Kisah Inspiratif dan Perannya
Ada beberapa faktor yang menyebabkan minimnya eksposur terhadap ilmuwan perempuan:
Pertama, historiografi klasik cenderung berfokus pada tokoh politik dan militer, yang mayoritas laki-laki.
Kedua, banyak karya perempuan tidak terdokumentasi secara sistematis.
Ketiga, bias budaya di masa-masa tertentu yang membatasi ruang publik perempuan, meski tidak sepenuhnya mencerminkan ajaran Islam.
Namun, penelitian modern mulai mengangkat kembali nama-nama yang selama ini tersembunyi.
Rufaida dikenal sebagai sosok perintis keperawatan dalam sejarah Islam. Ia hidup pada masa Nabi Muhammad SAW dan aktif merawat korban perang.
Tidak hanya itu, ia juga mendirikan semacam rumah sakit lapangan—konsep yang kini menjadi standar dalam dunia medis modern.
Dalam literatur klasik seperti Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, disebutkan perannya dalam merawat Sa'ad bin Mu'adz yang terluka dalam Perang Khandaq.
Kontribusinya tidak berhenti di situ. Ia juga merancang sistem pelatihan perawat dan etika medis berbasis nilai Islam.
Di tengah gemerlap intelektual Baghdad abad ke-10, Sutayta muncul sebagai matematikawan perempuan yang disegani.
Ia dikenal karena kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan aljabar kompleks dan perhitungan waris, ilmu yang sangat penting dalam hukum Islam.
Lingkungan keluarganya yang intelektual membentuknya menjadi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga produktif dalam mengembangkan teori matematika.
Baca juga: 7 Keistimewaan Khadijah, Istri Pertama Nabi Muhammad SAW yang Berjuluk Ummul Mukminin
Mariam adalah ilmuwan astronomi dari Aleppo yang dikenal sebagai pengembang astrolabe, alat navigasi kuno yang menjadi cikal bakal sistem GPS (Global Positioning System).
Astrolabe digunakan untuk menentukan posisi bintang, arah kiblat, hingga waktu salat.
Dalam perkembangan teknologi, prinsip kerja alat ini menjadi dasar bagi sistem navigasi modern.
Kontribusinya menunjukkan bahwa perempuan Muslim juga terlibat dalam inovasi teknologi tinggi pada masanya.
Al-Shifa bukan hanya ahli pengobatan, tetapi juga dikenal sebagai perempuan cerdas yang menguasai literasi, kemampuan langka pada masa itu.
Ia bahkan dipercaya oleh Umar bin Khattab untuk mengawasi pasar di Madinah, menunjukkan kapasitasnya dalam bidang ekonomi dan administrasi.
Selain itu, ia juga menjadi guru bagi perempuan lain, termasuk Hafsah binti Umar.
Lubna adalah simbol kecerdasan perempuan dalam peradaban Islam di Andalusia. Berawal dari seorang budak, ia berhasil menjadi sekretaris dan pustakawan di istana khalifah.
Ia menguasai berbagai bidang, mulai dari matematika, sastra, hingga filologi.
Dalam catatan Ibnu Bashkuwal, Lubna dikenal sebagai ilmuwan yang mampu menyelesaikan persoalan matematika kompleks dan aktif mengajarkan ilmu kepada masyarakat.
Baca juga: Inspirasi Istri-istri Rasulullah SAW untuk Muslimah Produktif Masa Kini
Kontribusi para ilmuwan muslimah ini tidak berhenti pada zamannya. Banyak konsep yang mereka kembangkan menjadi dasar bagi ilmu modern:
Dalam buku Islamic Science and the Making of the European Renaissance karya George Saliba, dijelaskan bahwa peradaban Islam, termasuk kontribusi perempuan, memiliki pengaruh besar terhadap kebangkitan sains di Eropa.
Di tengah upaya kesetaraan gender saat ini, kisah para ilmuwan muslimah ini menjadi bukti bahwa Islam sejak awal telah membuka ruang bagi perempuan untuk berkembang.
Mereka menunjukkan bahwa:
Lebih dari sekadar sejarah, kisah mereka adalah inspirasi untuk generasi masa kini agar terus belajar, berkarya, dan berkontribusi.
Anggapan bahwa perempuan Muslim tidak berperan dalam dunia sains adalah keliru. Sejarah justru mencatat sebaliknya.
Dari Rufaida Al-Aslamia hingga Lubna dari Cordoba, mereka adalah bukti nyata bahwa perempuan memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban.
Yang perlu dilakukan hari ini bukan sekadar mengingat, tetapi menghidupkan kembali semangat mereka, bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan yang terbuka bagi siapa saja.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang