KOMPAS.com-Perjalanan hidup pasangan suami istri asal Astana Japura, Kabupaten Cirebon, Hasanudin Masngad Sarti (61) dan Kudaedah Abdul Hayi (60) patut diteladani. Hidup dalam kesederhanaan tak pernah menyurutkan langkah mereka untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Mimpi besar yang dirajut lewat lembaran rupiah itu akhirnya terwujud nyata. Pada Sabtu (25/4/2026) malam, rasa haru dan syukur mengiringi kedatangan mereka di Bandara Internasional Prince Mohammad Bin Abdulaziz.
Keduanya tergabung dalam kloter KJT 05 yang diberangkatkan melalui Bandara Internasional Kertajati.
Baca juga: Hari Keenam Haji 2026: 28.274 Jemaah Berangkat, 125 Ribu Nikmati Fast Track Tanpa Antre
Jauh sebelum ini, jalan panjang harus mereka tempuh. Keringat Hasanudin pernah membasahi sudut Pasar Petojo Ilir Am Sangaji, Jakarta Pusat. Selama 12 tahun lamanya, ia mengadu nasib dengan menjajakan asinan buah.
“Saat itu penghasilan enggak tentu, kadang Rp 100 ribu, Rp 70 ribu, Rp 50 ribu. Namanya nasib kita orang susah, kadang gede kadang kecil. Hasil dari jualan itu ngumpulin terus, pokonya ngumpulin lah. Sudah dapet ya daftar haji," kata Hasanudin.
Memasuki tahun 2010, berbekal tabungan dan sisa modal yang ada, Hasanudin memutuskan untuk pulang kampung. Di Cirebon, ia dan Kudaedah memulai lembaran baru dengan membuka lapak sayur di Pasar Japura.
Meski nama mereka sudah terdaftar dalam antrean haji, pasangan ini sadar betul bahwa perjuangan belum usai karena biaya pelunasan masih menanti. Belum lagi mereka harus mengasuh tujuh orang anak dari hasil berjualan sayur.
"Dari jualan sayur dapatnya sedikit, sehari Rp 200 ribu-Rp 300 ribu paling bersihnya Rp 70 ribu-Rp 60 ribu, dipakai beli beras lauk juga habis. Tapi tetap disisihkan sedikit," imbuhnya.
Baca juga: PPIH Siapkan 6.000 Bus Haji, Fasilitas Lengkap hingga USB di Setiap Kursi
Kudaedah, sang istri, ternyata memiliki strategi jitu. Setiap hari, ia gigih menyisihkan Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dari laci dagangannya untuk disetorkan pada arisan pasar. Uang hasil tarikan arisan itulah yang kemudian langsung ia pindahkan ke rekening tabungan haji di bank.
“Kalau enggak nabung takut pas ngelunasin enggak bisa bayar, darimana coba? Makanya harus nabung terus," tuturnya.
Kini keberadaan mereka di Tanah Suci bukan sekadar menunaikan rukun Islam kelima bagi pasangan ini. Selain harapan menjadi haji yang mabrur, Kudaedah melangitkan doa-doa terbaik untuk anak dan orangtua.
"Pengen naik haji ya mudah-mudahan jadi haji mabrur. Pengen doain semuanya, anak-anak. Paling inget terutama sama orangtua tinggal satu, kalau bapaknya sudah meninggal. Ibu sekarang tinggal sama aku. Jadi mau saya doain dari Mekkah," tutupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang