BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pernahkah Anda berada di situasi di mana seseorang menjatuhkan harga diri Anda, merugikan bisnis Anda, atau mengkhianati kepercayaan yang sudah dibangun bertahun-tahun?
Refleks pertama kita sebagai manusia biasanya sama: marah dan ingin membalas dendam.
Rasa ingin melihat orang tersebut merasakan kepedihan yang sama sering kali membakar dada.
Namun, sebagai seorang Muslim, Al-Qur'an memberikan kita peta panduan yang sangat presisi dalam mengelola rasa sakit hati.
Dalam Surah Asy-Syura ayat 40, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Balasan bagi perbuatan buruk adalah balasan yang setimpal. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
Baca juga: Doa Agar Terhindar dari Tipu Daya Orang-orang Zalim
Melalui ayat yang ringkas ini, Syekh As-Sa’di dalam tafsirnya membedah sebuah konsep psikologi iman yang luar biasa tentang Tiga Tingkatan Hukuman.
Saat disakiti, kita sebenarnya sedang diuji untuk memilih satu di antara tiga kuadran ini: Adil, Utama, atau justru tergelincir menjadi Zalim.
Dai Lajnah Dakwah PC Al Irsyad Al Islamiyyah Banyuwangi, Ustadz Ahsanul Falihin, mengingatkan pentingnya menata hati dalam menghadapi perlakuan buruk.
"Faedah besar dari ayat ini adalah tuntunan agar seorang hamba hendaknya memperlakukan orang lain sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan oleh Allah. Sebagaimana kita ingin Allah memaafkan dan memaklumi dosa-dosa kita, maka kita pun hendaknya melatih diri untuk memaafkan dan memaklumi orang lain," katanya.
Tingkatan pertama adalah respons yang manusiawi dan diizinkan dalam Islam: menuntut keadilan yang setimpal.
Allah berfirman:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
“Balasan bagi perbuatan buruk adalah balasan yang setimpal.”
Jika ada orang yang merusak barang Anda seharga satu juta rupiah, Anda berhak menuntut ganti rugi satu juta rupiah, tidak boleh lebih.
Nyawa dibalas nyawa, luka dibalas luka yang serupa.
Islam tidak melarang kita membela diri atau menuntut hak.
Ini adalah batas minimal yang sah agar tatanan sosial tetap terjaga.
Namun, tingkatan ini hanyalah batas aman.
Ia menyembuhkan kerugian fisik, tetapi belum tentu menyembuhkan luka di hati.
Di atas keadilan, ada maqam yang jauh lebih tinggi dan indah, yaitu memaafkan dan memperbaiki hubungan (Al-’Afwu wal Ishlah). Allah berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى الله
“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya.”
Menariknya, dalam potongan ayat ini, Allah tidak merinci apa bentuk pahala bagi orang yang memaafkan.
Allah langsung menyandarkan balasan tersebut kepada diri-Nya sendiri untuk memotivasi hamba-Nya.
Pemaafan adalah investasi langit yang langsung dijamin oleh Sang Pemilik Semesta.
Baca juga: Kisah Musa dan Harun, Dakwah Lembut di Hadapan Penguasa Zalim
Namun, Ustadz Ahsanul Falihin memberikan catatan kritis mengenai penerapan sifat mulia ini. "Pemaafan yang dipuji dan diperintahkan ini memiliki syarat, yaitu harus mendatangkan perbaikan (ishlah). Artinya, jika pelaku kejahatan dinilai tidak pantas dimaafkan karena justru membuatnya semakin melunjak, atau ada kemaslahatan yang menuntut ia harus dihukum, maka saat itu memaafkan bukanlah sebuah perintah," tegasnya, mengutip penjelasan dalam Tafsir As-Sa'di.
Maaf dalam Islam bukanlah kepasrahan yang buta, melainkan ketegasan yang penuh bijaksana.
Ini adalah lampu merah yang sering kali tidak kita sadari.
Ketika kita disakiti, ego kita sering kali menuntut balasan yang melebih-lebihkan.
Allah menegaskan batasan ini di akhir ayat:
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”
Ustadz Ahsanul Falihin menjelaskan siapa saja yang masuk ke dalam kategori ini. "Tingkatan ketiga ini mencakup mereka yang berbuat jahat duluan tanpa sebab, atau mereka yang membalas pelaku kejahatan dengan balasan yang lebih berat. Perlu kita ingat, kelebihan atau melampaui batas dalam membalas itu juga termasuk bentuk kezaliman," urainya.
Ketika balasan kita melampaui kadar kesalahan pelaku, saat itulah kita yang awalnya adalah korban, secara otomatis berubah status menjadi pelaku kezaliman di mata Allah.
Kembali ke kaidah dasar yang disampaikan oleh Ustadz Ahsanul Falihin di awal, al-jazā' min jinsil 'amal, bahwa balasan itu akan selalu sesuai dengan jenis perbuatan.
Setiap hari, kita sebagai manusia tentu tak luput dari dosa kepada Allah.
Kita selalu berharap Allah memaklumi khilaf kita, menutupi aib kita, dan memaafkan dosa-dosa kita yang menggunung.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang