Editor
KOMPAS.com – Sejarah Islam menyimpan kisah luar biasa tentang bagaimana Al-Qur'an dijaga sejak pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jauh sebelum mushaf Al-Qur'an dihimpun menjadi satu kitab, para sahabat Nabi yang bertugas sebagai penulis wahyu telah mencatat setiap ayat menggunakan berbagai media sederhana yang tersedia pada masa itu.
Jejak sejarah tersebut kini dihadirkan kembali melalui Museum Al-Qur'an yang berada di Kawasan Budaya Hira (Hira Cultural District), Makkah. Museum ini menampilkan replika berbagai bahan yang digunakan untuk menulis wahyu pada masa kenabian sekaligus memberikan pengalaman edukatif mengenai proses awal pendokumentasian Al-Qur'an.
Pengunjung diajak mengenal bagaimana para sahabat Rasulullah SAW segera menuliskan setiap ayat yang turun atas perintah Nabi. Tradisi tersebut menjadi bukti besarnya perhatian umat Islam sejak awal dalam menjaga kemurnian firman Allah.
Baca juga: Museum Al-Quran di Makkah Simpan Mushaf Berusia Lebih dari Seabad
Beragam koleksi yang dipamerkan menggambarkan kondisi masyarakat Arab pada abad ke-7. Di antaranya terdapat replika lembaran kulit samak, pelepah kurma, potongan kayu, batu, hingga tulang hewan seperti tulang belikat dan tulang rusuk yang pernah digunakan sebagai media penulisan wahyu.
Seluruh koleksi disusun dalam konsep museum modern yang memadukan penjelasan sejarah dengan teknologi interaktif sehingga memudahkan pengunjung memahami proses penulisan Al-Qur'an sebelum dihimpun menjadi satu mushaf.
Di antara berbagai media yang dipamerkan, kulit samak menjadi salah satu bahan yang paling menonjol.
Pada masa Rasulullah SAW, kulit hewan yang telah melalui proses penyamakan banyak digunakan karena memiliki daya tahan tinggi sehingga mampu menjaga tulisan tetap awet. Bahan tersebut menjadi salah satu media utama yang dipakai para penulis wahyu untuk mencatat ayat-ayat Al-Qur'an.
Museum juga menjelaskan bahwa setiap kali wahyu turun, Nabi Muhammad SAW memerintahkan para sahabat penulis wahyu untuk segera mencatatnya sekaligus menunjukkan letak ayat tersebut dalam surah. Proses itu menjadi bagian penting dalam menjaga keaslian susunan Al-Qur'an sejak masa kenabian.
Selain menghadirkan replika benda-benda bersejarah, setiap koleksi dilengkapi dengan panel informasi yang menjelaskan karakteristik bahan, alasan penggunaannya, hingga teknik penulisan yang dilakukan pada masa itu.
Melalui penjelasan tersebut, pengunjung memperoleh gambaran nyata mengenai lingkungan tempat Al-Qur'an diturunkan sekaligus memahami besarnya usaha para sahabat dalam mendokumentasikan wahyu hingga akhirnya dihimpun menjadi mushaf yang utuh.
Museum ini juga mengulas tahapan sejarah penulisan dan kodifikasi Al-Qur'an, perkembangan ilmu-ilmu Al-Qur'an, hingga perjalanan pelestarian mushaf dari masa ke masa.
Museum Al-Qur'an merupakan salah satu destinasi utama di Hira Cultural District, kawasan budaya yang dibangun untuk memperkenalkan sejarah turunnya wahyu di Makkah.
Baca juga: Masuk Museum Ini, Jemaah Serasa Hidup di Zaman Nabi Muhammad
Melalui ruang pamer modern, multimedia interaktif, dan sajian visual yang imersif, museum menghadirkan pengalaman belajar yang memperkaya pemahaman pengunjung terhadap sejarah Al-Qur'an sekaligus mempererat kecintaan kepada Kitab Suci umat Islam.
Keberadaan museum ini menjadi bagian dari upaya Arab Saudi melestarikan warisan peradaban Islam dan memperkenalkan berbagai tonggak penting sejarah wahyu kepada jamaah umrah, haji, maupun wisatawan dari berbagai negara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang