MADINAH, KOMPAS.com - Madinah Al-Munawwarah menyimpan memori kuat tentang tonggak peradaban Islam.
Bagi para peziarah yang ingin mengetahui sejarah dan merasakannya secara lebih nyata, ada satu destinasi edukasi yang kini menjadi primadona baru.
Tempat itu adalah The International Fair and Museum of the Prophet's Biography and Islamic Civilization atau Museum Sirah Nabi yang berada tak jauh dari Masjid Nabawi.
Museum ini bukan sekadar ruang pameran, melainkan sebuah lorong waktu berteknologi canggih untuk napak tilas kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Lupakan bayangan tentang museum tradisional yang hanya memajang deretan teks usang.
Museum Sirah Nabi mendobraknya dengan menyuguhkan mahakarya visual.
Baca juga: Museum Haramain di Makkah, Wisata Sejarah Islam Dekat Masjidil Haram yang Bisa Diakses Gratis
Melalui perpaduan antara layar interaktif, pemetaan digital (digital mapping), dan rekonstruksi sejarah tiga dimensi, pengunjung seakan masuk ke dalam kapsul waktu.
Pendekatan modern ini memudahkan pengunjung untuk memvisualisasikan bagaimana Rasulullah SAW memimpin, berdakwah, serta menyemai benih keadilan dan persaudaraan di tengah masyarakat Jazirah Arab.
Alur pameran dirancang sedemikian rupa agar jemaah haji dan umrah dapat merasakan emosi dari setiap fase dakwah.
Kisah bermula dari lanskap era pra-Islam, lalu bergeser ke momen mendebarkan di Gua Hira saat wahyu pertama turun.
Setelah itu, pengunjung dibawa menyelami beratnya tantangan dakwah di Mekkah.
Fase syiar sembunyi-sembunyi, tekanan fisik dari kaum Quraisy, hingga masa-masa boikot ekonomi yang mencekik Bani Hasyim tergambar dengan jelas.
Puncak dari narasi museum ini adalah momen hijrah.
Di sini, hijrah tidak dimaknai sebatas pergeseran geografis dari Mekkah ke Madinah, melainkan sebagai embrio lahirnya sebuah tatanan sosial yang beradab.
Pengunjung dapat melihat visualisasi pembangunan Masjid Nabawi, momen mengharukan persaudaraan Muhajirin dan Anshar, hingga lahirnya Piagam Madinah yang melegenda.
Meski berbalut teknologi mutakhir abad ke-21, jiwa dari pameran ini tetap berpijak teguh pada warisan keilmuan klasik.
Seluruh narasi yang ditampilkan merupakan hasil ekstraksi dari literatur-literatur sejarah Islam yang otoritatif, di antaranya:
Hadirnya pemandu yang fasih berbahasa Indonesia menjadi nilai tambah yang luar biasa bagi jemaah asal Tanah Air.
Pemahaman yang utuh membuat banyak pengunjung keluar dari museum dengan hati yang haru.
Amir Husni, seorang peziarah asal Semarang, Jawa Tengah, mengungkapkan pengalaman spiritualnya yang membekas.
“Rasanya seperti berada di zaman Nabi, ikut melihat perjalanan masa lalu perjuangan Rasulullah SAW. Ini menjadi renungan bahwa Islam di masa awal dibangun dengan perjuangan panjang yang luar biasa,” ujarnya.
Senada dengan Amir, Deny yang berasal dari Malang, Jawa Timur, mengimbau agar para tamu Allah yang sedang berada di Madinah tidak melewatkan kesempatan emas ini.
“Banyak sejarah yang harus kita lihat secara langsung. Ini bukan hanya cerita, tetapi ada gambaran perjalanan perjuangan Nabi yang bisa kita saksikan di kota perjuangan ini,” katanya.
Baca juga: Tersembunyi di Masjid Nabawi, Museum Ini Simpan Al-Quran Berusia Lebih dari 800 Tahun
Bagi Anda yang merencanakan kunjungan di sela-sela ibadah di Madinah, langsung saja menuju ke Jalan Abu Ayyub Al-Anshari, masih berada di kawasan sekitar Masjid Nabawi.
Jam operasionalnya adalah sebagai berikut:
Harga tiket masuknya sekitar 40 Riyal Saudi untuk dewasa.
Anak di bawah usia 7 tahun dan penyandang disabilitas tidak dipungut biaya.
Terdapat tiket tambahan untuk akses area panorama khusus.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang