Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBNU Desak Masyarakat Internasional Bersatu Hentikan Konflik AS-Iran, Serukan Perdamaian bagi Dunia

Kompas.com, 14 Juli 2026, 19:58 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak masyarakat internasional bersatu mendorong penghentian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.

Menurut PBNU, eskalasi perang tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat, tetapi juga mengancam stabilitas kawasan dan dunia.

Organisasi tersebut menilai penyelesaian melalui dialog dan perundingan menjadi langkah terbaik untuk mengakhiri kekerasan.

Baca juga: Ketua Umum PBNU: Muktamar Ke-35 NU Siap Digelar, Bahas Kepentingan dan Kemaslahatan Bangsa

Seruan ini juga sejalan dengan sikap Pemerintah Indonesia yang terus mendorong penyelesaian damai.

PBNU Minta Semua Pihak Hentikan Aksi Kekerasan

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengajak masyarakat internasional untuk berkonsolidasi mendesak seluruh pihak menghentikan aksi kekerasan.

Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, Syuriyah PCNU Lampung Desak Calon Ketua Umum PBNU Bebas Jabatan Politik

“Saya sejak awal menyerukan masyarakat internasional seluruhnya untuk berkonsolidasi mendesak semua pihak menghentikan kekerasan," ujar Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Gus Yahya secara khusus meminta Amerika Serikat dan Israel menghentikan tindakan kekerasan yang dinilai berdampak luas terhadap masyarakat internasional.

Ia juga mengajak dunia Islam, negara-negara Arab, dan kawasan Timur Tengah untuk mengedepankan perdamaian demi keselamatan dan kemaslahatan bersama.

“Marilah kita bicara tentang perdamaian, keselamatan, dan kesejahteraan bersama. Hentikan kekerasan sekarang juga. Semuanya harus berhenti dari kekerasan yang selama ini diperbuat,” kata dia.

Konflik Kembali Memanas di Selat Hormuz

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat meski sebelumnya kedua negara telah menyepakati perdamaian melalui Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni 2026.

Ketegangan kembali terjadi sejak 7 Juli 2026 setelah muncul perselisihan terkait lalu lintas kapal niaga di Selat Hormuz.

Amerika Serikat kemudian melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang sejumlah aset milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Serangan terbaru dilakukan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada Senin (13/7/2026) dengan alasan melemahkan kemampuan Iran dalam melakukan serangan terhadap pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Seruan PBNU Sejalan dengan Sikap Pemerintah Indonesia

Seruan PBNU sejalan dengan sikap Pemerintah Indonesia yang meminta Amerika Serikat dan Iran tetap berpegang pada nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang ditandatangani di Islamabad.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono berharap kedua negara menghormati kesepakatan tersebut sebagai dasar untuk mengakhiri permusuhan.

“Sudah ada MoU kemarin, kita berharap agar dokumen tersebut sama-sama bisa terus dihormati,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono.

Pemerintah Indonesia menilai penghentian perang dan pemulihan perdamaian di kawasan Teluk sangat penting karena dinamika di wilayah tersebut akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia.

Sugiono juga menegaskan posisi Indonesia tetap konsisten memperjuangkan perdamaian dan stabilitas kawasan dalam menyikapi konflik Amerika Serikat dan Iran.

Gus Yahya Sampaikan Pesan Perdamaian kepada Iran

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya mengungkapkan dirinya sempat bertemu Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf saat menjadi salah satu delegasi Indonesia yang menghadiri prosesi penghormatan pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.

Pada pertemuan tersebut, sesuai pesan Presiden Prabowo Subianto, Gus Yahya menyampaikan harapan agar persoalan yang memicu konflik dapat diselesaikan melalui jalur diplomasi dan perundingan damai.

Namun, menurut Gus Yahya, Ketua Parlemen Iran belum dapat langsung menyatakan persetujuan atas harapan tersebut, meski menyambut baik usulan yang disampaikan Indonesia.

“Tetapi jelas ini perlu iktikad dan inisiatif dari kedua belah pihak, perlu inisiatif dua arah,” kata dia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar