KOMPAS.com - Bersedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.
Namun, muncul pertanyaan yang kerap dibahas umat Muslim: apakah sedekah lebih utama dilakukan secara diam-diam atau justru terang-terangan agar dapat menginspirasi orang lain?
Al-Qur’an dan hadis menunjukkan bahwa keduanya sama-sama dibolehkan. Yang membedakan bukanlah cara memberinya, melainkan niat, maslahat, dan keikhlasan orang yang bersedekah.
Dalam kondisi tertentu, sedekah secara sembunyi lebih utama untuk menjaga hati dari riya, sedangkan sedekah terang-terangan dapat bernilai baik apabila bertujuan mengajak orang lain berbuat kebaikan.
Baca juga: Benarkah Sedekah Bisa Menolak Bala? Ini Penjelasan dan Status Hadisnya
Allah SWT menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan secara terang-terangan maupun sembunyi sama-sama memiliki nilai kebaikan. Firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 271:
إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
In tubduṣ-ṣadaqāti fani‘immā hiya, wa in tukhfūhā wa tu’tūhal-fuqarā’a fahuwa khairul lakum, wa yukaffiru ‘ankum min sayyi’ātikum, wallāhu bimā ta‘malūna khabīr.
Baca juga: Jenazah Sudah Dimandikan di Rumah Sakit, Perlukah Dimandikan Lagi di Rumah?
Artinya: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik. Tetapi jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu. Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 271)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah terbuka tidak dilarang. Namun, ketika diberikan secara diam-diam kepada orang yang membutuhkan, nilainya dinilai lebih utama karena lebih dekat kepada keikhlasan dan menjaga kehormatan penerima.
Rasulullah SAW memasukkan orang yang bersedekah secara sembunyi sebagai salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat.
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّىٰ لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ
Wa rajulun taṣaddaqa bi ṣadaqatin fa akhfāhā ḥattā lā ta‘lama shimāluhu mā tunfiqu yamīnuh.
Artinya: “Seorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1423; Sahih Muslim No. 1031)
Baca juga: MTQ Nasional 2026 Diproyeksikan Gerakkan Ekonomi Jateng hingga Rp1,2 Triliun
Ungkapan tersebut merupakan majas yang menggambarkan betapa rahasianya sedekah itu. Tujuannya ialah menjaga keikhlasan serta menghindarkan pemberi dari keinginan dipuji manusia.
Selain itu, sedekah diam-diam juga menjaga martabat penerima agar tidak merasa malu atau rendah diri ketika menerima bantuan.
Meski sedekah sembunyi lebih utama dalam banyak keadaan, Islam juga memberikan ruang bagi sedekah yang dilakukan secara terbuka apabila membawa maslahat.
Contohnya ialah ketika seseorang berdonasi dalam penggalangan dana masjid, bantuan bencana, wakaf pendidikan, atau program kemanusiaan yang membutuhkan keteladanan.
Sedekah terbuka dapat memotivasi orang lain untuk ikut berbagi selama tidak disertai niat riya atau mencari popularitas.
Para ulama menjelaskan bahwa ayat Al-Baqarah 271 dimulai dengan kalimat “Jika kamu menampakkan sedekahmu, itu baik,” yang menunjukkan bahwa sedekah terbuka tetap bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar.
Karena itu, ukuran utamanya bukan terlihat atau tidak terlihat, melainkan apakah tindakan tersebut lebih besar manfaatnya bagi masyarakat sekaligus tetap menjaga keikhlasan.
Baca juga: Ayyamul Bidh September 2027: Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Islam mengajarkan bahwa seluruh amal bergantung pada niat. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Innamal a‘mālu bin-niyyāt, wa innamā likullimri’in mā nawā.
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR Sahih al-Bukhari No. 1; Sahih Muslim No. 1907)
Hadis ini menjadi prinsip penting dalam sedekah. Dua orang dapat memberikan jumlah yang sama, tetapi nilai ibadahnya berbeda karena niat yang ada di dalam hati masing-masing.
Apabila sedekah dipublikasikan demi membangun budaya berbagi dan mendorong partisipasi masyarakat, hal itu berbeda dengan sedekah yang sengaja dipamerkan untuk memperoleh pujian.
Baca juga: Puasa Sunnah September 2027: Jadwal dan Niatnya
Dalam kehidupan sehari-hari, sedekah diam-diam lebih dianjurkan ketika membantu fakir miskin, kerabat yang sedang kesulitan, atau orang yang ingin dijaga kehormatannya.
Sebaliknya, sedekah terang-terangan dapat dipilih ketika dibutuhkan untuk menggerakkan solidaritas sosial, mengajak orang lain berdonasi, atau menunjukkan transparansi dalam pengelolaan dana publik.
Pada akhirnya, Islam tidak mempertentangkan keduanya.
Al-Quran membolehkan sedekah terbuka, tetapi menganjurkan sedekah tersembunyi sebagai jalan yang lebih dekat kepada keikhlasan.
Selama dilakukan karena Allah SWT dan membawa maslahat, sedekah tetap menjadi amal yang mendatangkan keberkahan bagi pemberi maupun penerimanya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.