Editor
PEKALONGAN, KOMPAS.com — Tabuhan rebana berpadu dengan lantunan selawat berbahasa Arab di Masjid Hj Mutimah Dahlan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (13/9/2026).
Sekitar 15 siswa yang tergabung dalam Grup Hadrah Surya Gema Shalawat tampil kompak dalam acara Konsolidasi Muhammadiyah Pekalongan.
Di balik penampilan itu, tersimpan ikhtiar MI Muhammadiyah Kutosari untuk bertahan di tengah kesulitan memperoleh siswa baru sekaligus mendekatkan diri kepada masyarakat sekitar.
Baca juga: Muhammadiyah: Tafsir Al-Maun Menolak Korupsi yang Dirancang Sistem
Kepala MI Muhammadiyah Kutosari Nur Hidayah mengatakan, grup hadrah dibentuk bukan semata-mata sebagai kegiatan seni. Ekstrakurikuler tersebut menjadi salah satu cara sekolah merangkul masyarakat di wilayah yang mayoritas bukan warga Muhammadiyah.
“Ini berawal dari ikhtiar kami untuk menambah siswa baru karena sekolah kami berada di wilayah minoritas. Setiap tahun kami kesulitan mendapatkan murid,” kata Nur dalam rilisnya, Selasa (15/9/2026).
Sekolah kemudian mencoba mendekati masyarakat di kampung tetangga yang mayoritas merupakan warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin.
Hadrah dipilih karena kesenian tersebut dekat dengan tradisi keagamaan masyarakat setempat.
“Akhirnya, ini menjadi ikhtiar kami untuk merangkul warga sebelah agar mau menyekolahkan anaknya di madrasah kami,” ujarnya.
Baca juga: 3 Filosofi Daun Kelor dalam Logo Milad Ke-114 Muhammadiyah
Selain membuka ekstrakurikuler hadrah, MI Muhammadiyah Kutosari menyediakan layanan antar-jemput siswa.
Kedua langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Jumlah siswa yang bersekolah di madrasah itu mulai meningkat dari tahun ke tahun.
“Alhamdulillah, selain ada ekstrakurikuler hadrah, juga ada layanan mobil antar-jemput siswa. Dengan dua ikhtiar itu, sedikit demi sedikit, setiap tahun jumlah siswa madrasah kami meningkat,” kata Nur.
Saat ini, sekitar 50 siswa MI Muhammadiyah Kutosari berasal dari kampung tetangga dan keluarga non-Muhammadiyah.
Menurut Nur, mereka tertarik karena fasilitas antar-jemput dan kesempatan belajar memainkan rebana.
“Mereka tertarik karena ada layanan antar-jemput dan ekstrakurikuler rebananya,” ujarnya.
Dilatih warga Nahdliyin
Menariknya, grup hadrah yang menjadi salah satu daya tarik madrasah itu dilatih oleh seorang warga Nahdliyin.
Sekolah mendatangkan Abdullah, pelatih dari desa tetangga yang telah terbiasa membina kelompok rebana di berbagai tempat.
“Pelatihnya bukan guru setempat, namanya Pak Abdullah. Beliau warga Nahdliyin dan sudah biasa melatih rebana di mana-mana,” kata Nur.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang organisasi keagamaan tidak menghalangi kerja sama dalam pendidikan dan syiar Islam.
Kegiatan hadrah di MI Muhammadiyah Kutosari berjalan sekitar satu tahun. Para siswa berlatih rutin setiap Senin. Intensitas latihan ditambah menjelang penampilan atau perlombaan.
Upaya itu mulai menghasilkan prestasi. Grup Hadrah Surya Gema Shalawat pernah meraih juara pertama Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Kecamatan Doro untuk jenjang madrasah ibtidaiyah.
Meski demikian, sekolah menghadapi tantangan dalam regenerasi pemain. Siswa yang telah menguasai alat musik harus meninggalkan grup setelah lulus sehingga proses pembinaan dimulai kembali.
“Kesulitannya, kadang anak-anak yang sudah dibina dan sudah bisa kemudian lulus. Jadi, kami harus mengulang lagi,” ujar Nur.
Saat ini, sebagian besar pemain rebana merupakan siswa laki-laki. Sejumlah siswi turut bergabung sebagai vokalis.
Bagi para siswa, mengikuti hadrah bukan sekadar menjalankan kegiatan sekolah. Mereka juga belajar memainkan alat musik, bekerja dalam kelompok, dan tampil di hadapan banyak orang.
Muhammad Hafiz Firdaus, salah seorang vokalis, mengaku telah bergabung sekitar empat bulan.
“Seru, bisa tampil dan pernah juara satu di kecamatan. Kesulitannya kalau ada lagu baru,” katanya.
Sementara itu, siswa kelas VI Muhammad M Ferditiya memilih bergabung karena ingin mempelajari cara memainkan rebana dan alat musik lainnya.
“Saya ingin mengetahui bagaimana cara memainkan rebana dan alat-alatnya. Selama ini senang dan sering tampil di sekitar Pekalongan,” ujar Ferditiya.
Ia berharap grup hadrah sekolahnya terus berkembang.
“Ingin grup ini tambah maju, menarik, dan bagus terus,” katanya.
Nama Surya Gema Shalawat dipilih untuk menggambarkan identitas grup. Kata “Surya” merujuk pada simbol yang identik dengan Muhammadiyah, sedangkan “Gema Shalawat” mencerminkan kegiatan utama mereka.
Keberadaan grup tersebut mendapat dukungan dari pengurus Muhammadiyah tingkat kecamatan. Namun, sempat muncul komentar karena hadrah selama ini lebih kerap dikaitkan dengan tradisi masyarakat Nahdliyin.
“Sempat ada yang berkomentar, ‘Sekolah Muhammadiyah kok memakai hadrah.’ Namun, karena ini menjadi salah satu ikhtiar kami, alhamdulillah tetap berjalan,” kata Nur.
Alih-alih menjadi sekat, hadrah justru tumbuh menjadi ruang perjumpaan. Sekolah Muhammadiyah, pelatih dari kalangan Nahdliyin, serta siswa dengan beragam latar belakang bertemu dalam irama rebana dan lantunan selawat.
Nur berharap Surya Gema Shalawat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun pengalaman tampil.
“Semoga hadrah MI Muhammadiyah Kutosari selalu eksis, kualitasnya semakin baik, dan jam terbangnya semakin banyak,” tuturnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.