Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Hadrah Menyatukan Muhammadiyah dan Nahdliyin di Pekalongan

Kompas.com, 15 September 2026, 08:27 WIB
Reni Susanti

Editor

PEKALONGAN, KOMPAS.com — Tabuhan rebana berpadu dengan lantunan selawat berbahasa Arab di Masjid Hj Mutimah Dahlan, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (13/9/2026).

Sekitar 15 siswa yang tergabung dalam Grup Hadrah Surya Gema Shalawat tampil kompak dalam acara Konsolidasi Muhammadiyah Pekalongan.

Di balik penampilan itu, tersimpan ikhtiar MI Muhammadiyah Kutosari untuk bertahan di tengah kesulitan memperoleh siswa baru sekaligus mendekatkan diri kepada masyarakat sekitar.

Baca juga: Muhammadiyah: Tafsir Al-Maun Menolak Korupsi yang Dirancang Sistem

Kepala MI Muhammadiyah Kutosari Nur Hidayah mengatakan, grup hadrah dibentuk bukan semata-mata sebagai kegiatan seni. Ekstrakurikuler tersebut menjadi salah satu cara sekolah merangkul masyarakat di wilayah yang mayoritas bukan warga Muhammadiyah.

“Ini berawal dari ikhtiar kami untuk menambah siswa baru karena sekolah kami berada di wilayah minoritas. Setiap tahun kami kesulitan mendapatkan murid,” kata Nur dalam rilisnya, Selasa (15/9/2026).

Sekolah kemudian mencoba mendekati masyarakat di kampung tetangga yang mayoritas merupakan warga Nahdlatul Ulama atau Nahdliyin.

Hadrah dipilih karena kesenian tersebut dekat dengan tradisi keagamaan masyarakat setempat.

“Akhirnya, ini menjadi ikhtiar kami untuk merangkul warga sebelah agar mau menyekolahkan anaknya di madrasah kami,” ujarnya.

Baca juga: 3 Filosofi Daun Kelor dalam Logo Milad Ke-114 Muhammadiyah

Hadrah dan layanan antar-jemput

Selain membuka ekstrakurikuler hadrah, MI Muhammadiyah Kutosari menyediakan layanan antar-jemput siswa.

Kedua langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Jumlah siswa yang bersekolah di madrasah itu mulai meningkat dari tahun ke tahun.

“Alhamdulillah, selain ada ekstrakurikuler hadrah, juga ada layanan mobil antar-jemput siswa. Dengan dua ikhtiar itu, sedikit demi sedikit, setiap tahun jumlah siswa madrasah kami meningkat,” kata Nur.

Saat ini, sekitar 50 siswa MI Muhammadiyah Kutosari berasal dari kampung tetangga dan keluarga non-Muhammadiyah.

Menurut Nur, mereka tertarik karena fasilitas antar-jemput dan kesempatan belajar memainkan rebana.

“Mereka tertarik karena ada layanan antar-jemput dan ekstrakurikuler rebananya,” ujarnya.
Dilatih warga Nahdliyin

Menariknya, grup hadrah yang menjadi salah satu daya tarik madrasah itu dilatih oleh seorang warga Nahdliyin.

Sekolah mendatangkan Abdullah, pelatih dari desa tetangga yang telah terbiasa membina kelompok rebana di berbagai tempat.

“Pelatihnya bukan guru setempat, namanya Pak Abdullah. Beliau warga Nahdliyin dan sudah biasa melatih rebana di mana-mana,” kata Nur.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang organisasi keagamaan tidak menghalangi kerja sama dalam pendidikan dan syiar Islam.

Kegiatan hadrah di MI Muhammadiyah Kutosari berjalan sekitar satu tahun. Para siswa berlatih rutin setiap Senin. Intensitas latihan ditambah menjelang penampilan atau perlombaan.

Upaya itu mulai menghasilkan prestasi. Grup Hadrah Surya Gema Shalawat pernah meraih juara pertama Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat Kecamatan Doro untuk jenjang madrasah ibtidaiyah.

Meski demikian, sekolah menghadapi tantangan dalam regenerasi pemain. Siswa yang telah menguasai alat musik harus meninggalkan grup setelah lulus sehingga proses pembinaan dimulai kembali.

“Kesulitannya, kadang anak-anak yang sudah dibina dan sudah bisa kemudian lulus. Jadi, kami harus mengulang lagi,” ujar Nur.

Saat ini, sebagian besar pemain rebana merupakan siswa laki-laki. Sejumlah siswi turut bergabung sebagai vokalis.

Senang bisa tampil dan berprestasi

Bagi para siswa, mengikuti hadrah bukan sekadar menjalankan kegiatan sekolah. Mereka juga belajar memainkan alat musik, bekerja dalam kelompok, dan tampil di hadapan banyak orang.

Muhammad Hafiz Firdaus, salah seorang vokalis, mengaku telah bergabung sekitar empat bulan.

“Seru, bisa tampil dan pernah juara satu di kecamatan. Kesulitannya kalau ada lagu baru,” katanya.

Sementara itu, siswa kelas VI Muhammad M Ferditiya memilih bergabung karena ingin mempelajari cara memainkan rebana dan alat musik lainnya.

“Saya ingin mengetahui bagaimana cara memainkan rebana dan alat-alatnya. Selama ini senang dan sering tampil di sekitar Pekalongan,” ujar Ferditiya.

Ia berharap grup hadrah sekolahnya terus berkembang.

“Ingin grup ini tambah maju, menarik, dan bagus terus,” katanya.

Sempat menuai komentar

Nama Surya Gema Shalawat dipilih untuk menggambarkan identitas grup. Kata “Surya” merujuk pada simbol yang identik dengan Muhammadiyah, sedangkan “Gema Shalawat” mencerminkan kegiatan utama mereka.

Keberadaan grup tersebut mendapat dukungan dari pengurus Muhammadiyah tingkat kecamatan. Namun, sempat muncul komentar karena hadrah selama ini lebih kerap dikaitkan dengan tradisi masyarakat Nahdliyin.

“Sempat ada yang berkomentar, ‘Sekolah Muhammadiyah kok memakai hadrah.’ Namun, karena ini menjadi salah satu ikhtiar kami, alhamdulillah tetap berjalan,” kata Nur.

Alih-alih menjadi sekat, hadrah justru tumbuh menjadi ruang perjumpaan. Sekolah Muhammadiyah, pelatih dari kalangan Nahdliyin, serta siswa dengan beragam latar belakang bertemu dalam irama rebana dan lantunan selawat.

Nur berharap Surya Gema Shalawat semakin berkembang, baik dari segi kualitas maupun pengalaman tampil.

“Semoga hadrah MI Muhammadiyah Kutosari selalu eksis, kualitasnya semakin baik, dan jam terbangnya semakin banyak,” tuturnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Kemenag: Nikah di KUA Gratis, di Luar KUA Rp600.000
Kemenag: Nikah di KUA Gratis, di Luar KUA Rp600.000
Aktual
Ketika Hadrah Menyatukan Muhammadiyah dan Nahdliyin di Pekalongan
Ketika Hadrah Menyatukan Muhammadiyah dan Nahdliyin di Pekalongan
Aktual
Ayyamul Bidh September 2027: Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Ayyamul Bidh September 2027: Jadwal, Niat, dan Keutamaannya
Aktual
Puasa Sunnah September 2027: Jadwal dan Niatnya
Puasa Sunnah September 2027: Jadwal dan Niatnya
Aktual
Naik Motor Gede hingga Sepeda, Cerita Alumni “Pulang” untuk 100 Tahun Gontor
Naik Motor Gede hingga Sepeda, Cerita Alumni “Pulang” untuk 100 Tahun Gontor
Aktual
Niat Shalat Subuh Sendiri dan Berjamaah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Niat Shalat Subuh Sendiri dan Berjamaah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Doa Tolak Bala Agar Terhindar dari Bencana, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Tolak Bala Agar Terhindar dari Bencana, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Kemenag Tegaskan Biaya Nikah di KUA Hanya Rp 0, Warga Diminta Waspadai Pungutan Tambahan
Kemenag Tegaskan Biaya Nikah di KUA Hanya Rp 0, Warga Diminta Waspadai Pungutan Tambahan
Aktual
Ahmad Luthfi Saksikan Kafilah Jateng Lolos Semifinal Fahmil Al Quran MTQ Nasional 2026
Ahmad Luthfi Saksikan Kafilah Jateng Lolos Semifinal Fahmil Al Quran MTQ Nasional 2026
Aktual
Jobfair MTQ Nasional 2026 di Semarang Tawarkan 6.736 Lowongan Kerja, Cek Daftarnya
Jobfair MTQ Nasional 2026 di Semarang Tawarkan 6.736 Lowongan Kerja, Cek Daftarnya
Aktual
Kemenhaj Temukan 400 Ribu Data Antrean Haji Invalid, Masa Tunggu Bisa Dipersingkat
Kemenhaj Temukan 400 Ribu Data Antrean Haji Invalid, Masa Tunggu Bisa Dipersingkat
Aktual
Kemenhaj Luncurkan Hotline Pengaduan “Bongkar Mafia Haji dan Umrah” untuk Perkuat Perlindungan Jemaah
Kemenhaj Luncurkan Hotline Pengaduan “Bongkar Mafia Haji dan Umrah” untuk Perkuat Perlindungan Jemaah
Aktual
Kemenhaj Buka Hotline Pengaduan, Masyarakat Bisa Adukan Praktik Mafia Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Hotline Pengaduan, Masyarakat Bisa Adukan Praktik Mafia Haji dan Umrah
Aktual
Biaya Haji 2027 Ditargetkan Disepakati Pekan Depan, Besaran BPIH Diusulkan Rp 107,34 Juta
Biaya Haji 2027 Ditargetkan Disepakati Pekan Depan, Besaran BPIH Diusulkan Rp 107,34 Juta
Aktual
Kisah Ahmad Zainudin, Tunanetra Penghafal 30 Juz yang Tampil di MTQ Nasional 2026
Kisah Ahmad Zainudin, Tunanetra Penghafal 30 Juz yang Tampil di MTQ Nasional 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar